Atasi Paceklik Masa Peremajaan Kebun, Tumpang Sari Jagung di Lahan Sawit

Ilustrasi panen jagung di kebun sawit.

KOTAWARINGIN BARAT, borneoreview.co – Sutiyana mengangkat tongkol jagung hasil panen di kebun peremajaan sawit Desa Pangkalan Tiga, Kecamatan Pangkalan Lada.

Dia boleh bangga, Koperasi Unit Desa (KUD) Tani Subur yang dipimpinnya, berhasil memanfaatkan lahan tanaman belum menghasilkan (TBM) kelapa sawit.

Masa peremajaan biasanya menjadi masa menghawatirkan para petani sawit. Setidaknya butuh waktu tiga hingga empat tahun sebelum bibit sawit mulai berbuah dan bisa dipanen.

Selama itu petani tidak memiliki sumber pendapatan. Pada masa ini biasanya petani terbelit utang untuk biaya perawatan kebun dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Keberhasilan KUD Tani Subur menggorganisir penanaman setidaknya membantu mengurangi beban ekonomi anggota koperasi.

“Terima kasih atas dukungan Dinas Pertanian Kotawaringin Barat yang memfasilitasi peremajaan kelapa sawit. Khususnya pada para petani anggota KUD Tani Subur di Desa Pangkalan Tiga,” kata Sutiyana.

Masa Panen Cepat

Petani menanam jagung secara tumpang sari di sela bibit sawit di lahan seluas 9 hektare. Varietas yang ditanam jagung hibrida F1 Pertiwi 5 dan Pertiwi 6.

Jagung dipilih sebagai tanaman tumpang sari karena memiliki beberapa keunggulan. Antara lain tahan penyakit bulai dan karat daun.

Potensi panen jagung di lahan bibit kelapa sawit berkisar 10 ton per hektare. Jika pola tanam dan perawatan lahan maksimal, bisa panen hingga 15 ton per hektare

Keunggulan lainnya jagung memiliki umur panen yang relatif pendek, sekitar 100 hari setelah masa tanam. Jagung hibrida Pertiwi 5 dan Pertiwi 6 juga menghasilkan penutupan kelobot rapat dan rendemen tinggi mencapai 80 persen.

Karakteristik jagung yang kokoh dan seragam, bisa untuk pakan ternak. Jagung varietas ini cocok jadi tanaman sela pada masa penanaman kembali (replanting) kelapa sawit rakyat.

Dari lahan 9 hektare, Koperasi Tani Subur memanen jagung kering rata-rata 5 ton per hektar. Hasil panen akan meningkat seiring bertambahnya areal tanam.

Bantuan Pemasaran

Menurut Sutiyana, Koperasi Unit Desa Tani Subur saat ini sudah memiliki pasar sendiri. Jagung hasil panen di lahan sawit terjual ke pasar setelah panen.

Meski begitu Sutiyana meminta pemerintah membantu pemasaran jagung hingga menjangkau pasar yang lebih luas.

“Kedepan KUD berharap pemerintah ikut memikirkan bagaimana pemasaran jagung. Kegiatan ini merupakan peran serta KUD Tani Subur dalam mendukung program ketahanan pangan. Serta menghasilkan pendapatan bagi petani sambil menunggu sawit bisa produksi.”

Petani bisa memanen jagung 2–3 kali setahun, sambil menunggu sawit dewasa dan menghasilkan buah. Tajuk jagung yang lebat juga mampu menekan pertumbuhan gulma di sekitar lahan sawit hingga lebih dari 50 persen.

Perawatan serta pemupukan terhadap tanaman jagung, dapat menjadi tambahan nutrisi atau bahan pupuk organik bagi lahan perkebunan kelapa sawit.

Melihat keberhasilan di Kotawaringin Barat, Asosiasi Pekebun Swadaya Kelapa Sawit Pelalawan Siak (APSKSPS) di Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau, setuju menanam jagung sebagai tanaman masa peremajaan sawit.

Ketua Asosiasi Pekebun, Joko Prasetyo sudah mengajukan program peremajaan sawit rakyat. Syaratnya petani menanam jagung sebagai tanaman sela. “Kalau menanam jagung, kami siap dan mendukung.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *