JAKARTA, borneoreview.co – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan bahwa potensi terjadinya tanah longsor di tanah air harus menjadi perhatian.
Perhatian pada jenis bencana ini mengingat banyaknya daerah yang mengalami bencana tanah longsor.
Karena itu, melansir Antara, Rabu (4/2/2026), di samping banjir dan banjir bandang, tanah longsor menjadi bencana yang harus diperhatikan secara lebih seksama.
“Dari beberapa klaster bencana yang sering terjadi di Indonesia adalah bencana hidrometeorologi basah dan kami punya data bahwa beberapa tahun terakhir,” kata Kepala BPNB, Suharyanto, dalam rapat kerja dengan Komisi VIII DPR RI, di Jakarta, Selasa (3/2/2026).
“Tanah longsor ini sekarang menjadi bencana yang harus kita perhatikan secara lebih seksama,” sambungnya.
Berdasarkan data BNPB pada 2025, terjadi 2009 bencana hidrometeorologi basah yang menelan 1353 orang meninggal dunia dan 182 orang hilang.
Dari jumlah tersebut, 330 kali di antaranya adalah bencana tanah longsor.
“Longsor ini juga korbannya cukup besar, yaitu 237 orang meninggal dunia dan 31 hilang. Sehingga ini juga kami perlu sampaikan bahwa ke depan mungkin menghadapi bencana longsor ini juga menjadi prioritas yang harus kita perhatikan bersama,” kata Suharyanto.
Sebelumnya, pada 24 Januari 2026, bencana tanah longsor besar terjadi di Desa Pasirlangu, Cisarua, Bandung Barat, Jawa Barat, yang dipicu hujan deras yang terus menerus.
Sedikitnya 80 orang meninggal dunia dan 53 rumah mengalami rusak berat.
Tim SAR gabungan saat ini terus mencari korban yang masih hilang. (***)
