Bertumpu pada Biodiesel, Wamen Perindustrian Menilai Hilirisasi Sektor Sawit Lambat

Ilustrasi Wakil Menter Perindustrian, Faisol Riza.

JAKARTA, borneoreview.co – Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Reza berharap hilirisasi kelapa sawit tidak hanya bertumpu pada biodiesel B50.

Masih terbuka potensi pasar yang luas untuk produk olahan kelapa sawit oleokimia. Produk gliserin, surfaktan, dan karotent misalnya, digunakan sebagai bahan kosmetik, skin care, dan makanan.

Faisol Riza mengaku gelisah industri hilir kelapa sawit masih berjalan lambat dan belum maksimal memanfaatkan potensi bahan baku nasional.

“Saya gelisah. Mungkin saya harus minta bantuan kepada Pak Menteri Saleh Husin (Menteri Perindustrian). Karena hilirisasi sawit ini kelihatannya agak mandek,” kata Faisol Reza.

Menurut Faisol Riza, program biodiesel B50 menjadi salah satu industri yang maju setelah bertahun-tahun pengembangan hilirisasi.

Namun pengembangan energi berbasis sawit semestinya berjalan beriringan dengan pengembangan produk turunan lainnya.

Diversifikasi Produk

Diversifikasi produk menjadi penting agar industri sawit nasional memiliki lebih banyak sumber pertumbuhan. Sehingga tidak hanya bergantung pada permintaan minyak sawit untuk pangan dan energi.

Pengembangan oleokimia berpotensi memperluas keterkaitan industri sawit dengan sektor kimia, kosmetik, farmasi, produk pembersih, dan industri manufaktur lainnya.

Semakin beragam produk turunan kelapa sawit, semakin besar juga peluang untuk memperluas pasar dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri global.

Faisol Riza membandingkan industri sawit Indonesia dengan Malaysia. Produktivitas industri Malaysia lebih tinggi dan efisien, meskipun Indonesia unggul dalam ketersediaan bahan baku.

Pengembangan hilirisasi tidak cukup mengandalkan besarnya produksi minyak sawit. Indonesia perlu meningkatkan kemampuan industri dalam mengolah bahan baku menjadi produk bernilai tambah dan memiliki daya saing di pasar internasional.

Peran Kadin

Wakil Menteri Perindustrian berharap pengembangan hilirisasi sawit dapat menjadi salah satu agenda prioritas Kamar Dagang dan Industri (Kadin).

Kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha penting untuk mempercepat pemanfaatan potensi bahan baku yang tersedia di dalam negeri.

“Kalau bisa ini menjadi agenda prioritas di Kadin. Saya kira kita bisa bersama-sama menjadikan subsektor ini menjadi salah satu hilirisasi yang optimal dan lebih sukses. Semua bahan mentahnya ada di dalam negeri,” kata Faisol Riza.

Bagi industri sawit nasional, tantangan berikutnya adalah menerjemahkan ketersediaan bahan baku yang melimpah menjadi kapasitas produksi yang kompetitif.

Sektor sawit nasional memiliki modal besar untuk mengembangkan industri tersebut. Namun potensi itu masih membutuhkan percepatan agar keunggulan sebagai negara produsen utama sawit dunia dapat menghasilkan nilai tambah industri yang optimal.

Kendala Hilirisasi Sawit

Beberapa kendala hilirisasi kelapa sawit antara lain keterbatasan peremajaan kebun rakyat sehingga produktivitas dan kualitas tanda buah segar masih rendah.

Kualitas tandan buah segar menentukan mutu hasil minyak mentah kelapa sawit. Industri turunan kelapa sawit menetapkan kualitas bahan dasar premium.

Kendala lainnya, masa keemasan bahan baku murah industri kelapa sawit -lahan, tenaga kerja, dan agroprimer- hampir berakhir.

Sehingga industri kelapa swit harus beralih ke efisiensi berbasis teknologi dan sumber daya manusia.

Masalah infrastruktur yang belum merata juga menjadi kendala hilirisasi sawit. Minimnya akses jalan, pelabuhan, dan fasilitas pendukung di daerah penghasil sawit menghambat investasi pabrik pengolahan.

Industri sawit juga masih lemah dalam hal penguasaan teknologi pengolahan produk turunan bernilai tambah tinggi.

Masih sedikit industri yang secara masif memproduksi oleokimia lanjut, biolubricant, kosmetik, dan sustainable fuel.

Ada juga kekhawatiran jika pertumbuhan hilirisasi yang berjalan cepat tidak seimbang dengan pasokan bahan baku atau kesiapan fasilitas di beberapa daerah yang belum optimal.

Pasokan CPO nasional juga harus berbagi secara seimbang antara kebutuhan pangan, bioenergi, oleokimia, dan pasar ekspor.

Ketika program bioenergi meningkat -misalnya untuk mendorong B50- alokasi minyak sawit mentah untuk industri hilir lainnya harus dikelola dengan sangat ketat agar tidak terjadi kelangkaan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *