NEW DELHI, borneoreview.co – India diperkirakan meningkatkan volume impor batu bara untuk memproduksi kokas metalurgi dari Indonesia dan Polandia. Mencapai rekor tertinggi nilai impor tahun ini.
Keputusan menambah jumlah impor batu bara itu terjadi di tengah melonggarnya aturan pembatasan produk masuk ke India (anti-dumping) yang berlaku sejak Juli 2026.
Meningkatnya permintaan impor batu bara untuk kokas metalurgi, dipicu kekurangan pasokan dalam negeri. Ditambah permintaan yang tinggi untuk produksi besi kasar (pig iron).
India adalah produsen baja mentah terbesar di dunia setelah Tiongkok. India diperkirakan akan mengimpor 6 juta metrik ton batu bara untuk bahan kokas metalurgi.
Jumlah itu meningkat 32 persen dibanding tahun kemarin, dimana pasokan utama batu bara berasal dari Indonesia dan Polandia.
Kementerian Baja Federal India mendukung produsen baja mengupayakan pencabutan bea anti-dumping. Namun, pemerintah tetap memberlakukan bea anti-dumping selama 5 tahun terhadap “met coke” atau kokas metalurgi pada Juli kemarin.
Kekurangan Pasokan
Kokas metalurgi adalah karbon keras berpori yang dihasilkan dari proses pemanasan batu bara pada suhu tinggi (1.100 derajat celcius hingga 1.200 derajat celcius).
Material ini penting dalam proses membuat besi kasar dalam rangkaian produksi baja. Indonesia memasok sekitar 2,1 juta ton batu bara untuk kokas metalurgi sepanjang tahun ini atau naik 165 peresn dibandingkan tahun sebelumnya.
Produksi kokas metalurgi dalam negeri India hanya meningkat sekitar 6 persen. Berada di bawah tingkat permintaan untuk baja dan besi kasar (pig iron).
Produsen besi kasar di India mengimpor batu bara untuk bahan kokas metalurgi dalam jumlah besar agar menghindari bea masuk saat diolah menjadi besi kasar untuk ekspor.
Pengecualian bea masuk ini membuat harga batu bara untuk kokas metalurgi impor menjadi lebih murah dari harga kokas yang diproduksi di dalam negeri.
Besi Kasar Amerika
Permintaan Amerika Serikat terhadap besi kasar asal India cukup kuat tahun ini. Berpotensi naik dua kali lipat dari tahun 2025.
Menurut perusahaan konsultan komoditas BigMint, harga besi kasar India lebih murah sekitar $50 per ton dari harga besi kasar produksi Ukraina.
Amerika Serikat mengimpor sekitar 4 hingga 5 juta metrik ton besi kasar, dengan Brasil, Ukraina, dan India sebagai pemasok utamanya.
Harga kokas metalurgi naik 24 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menjadi 35.850 rupee ($375,63) per ton pada bulan Agustus.
“Harga kokas metalurgi (met coke) meningkat seiring dengan naiknya harga batu bara kokas,” kata Monica Bachchan Duvvuri, pendiri Metalogic PMS.
Metalogic PMS adalah firma intelijen pasar untuk sektor baja dan pertambangan. Lembaga ini memberikan informasi terkini terkait perdagangan baja dan pertambangan.
Monica Bachchan Duvvuri menambahkan, harga kokas metalurgi mungkin naik sebesar 3–4 persen pada minggu ini.***
