Kementerian Perindustrian Dorong Teknologi Pengolahan Sawit Berkualitas

Ilustrasi metode Steamless Palm Oil Technology.

YOGYAKARTA, borneoreview.co – Pengolahan sawit menggunakan metode Steamless Palm Oil Technology (SPOT) berpotensi menghasilkan minyak sawit bernutrisi, sekaligus membuka peluang pemanfaatan limbah sebagai bahan bakar.

Steamless Palm Oil Technology (SPOT) atau pengolahan kelapa sawit kering menghasilkan rendemen minyak sawit 2-3 persen lebih tinggi dari pengolahan dengan cara boiling atau penguapan.

Teknologi ini menggunakan proses mekanis pengering udara panas tanpa ketel uap atau boiler. Sehingga lebih hemat konsumi air.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Ir Putu Juli Ardika, MA mengatakan, teknologi SPOT perlu penyempurnaan sebelum memasuki tahap pengembangan berikutnya.

Teknologi yang sedang dikembangkan di Institut Pertanian STIPER (INSTIPER) Yogyakarta, memasuki tahap pembangunan pilot plant pada tahun 2027.

Pembangunan pilot plan untuk mengkaji kelayakan teknis dan bisnis sebelum masuk ke industri pengolahan kelapa sawit.

“Kita harapkan pada 2027 bisa membuat pilot plant untuk melihat business plan-nya. Sehingga teknologi ini dapat tersosialisasikan kepada pelaku usaha. Terutama koperasi atau perkumpulan petani,” kata Putu Juli Ardika.

Minyak Sawit Berkualitas

Harapannya teknologi pengolahan SPOT tidak hanya menghasilkan minyak kelapa sawit berkualitas. Namun juga memungkinkan pemanfaatan komponen hasil pengolahan untuk produk lain, termasuk bahan bakar.

Menurut Putu Juli Ardika, SPOT Teaching Plant di INSTIPER menjadi jembatan antara pendidikan, riset, dan kebutuhan industri.

Fasilitas ini memungkinkan mahasiswa, dosen, dan peneliti terlibat langsung dalam pengujian serta pengembangan teknologi.

Putu Juli Ardika berharap INSTIPER menjadi episentrum pengembangan SPOT di Indonesia. Teknologi ini dapat semakin luas mendukung industri sawit.

“Mahasiswa dan akademisi bisa melihat dan melakukan sendiri, sehingga ide-ide baru muncul dan teknologi ini dapat terus berkembang,” katanya.

Untuk mendukung pengembangan SPOT, Kementerian Perindustrian membuka peluang fasilitasi standardisasi produk dan pembiayaan melalui program yang tersedia.

Industri Padat Karya

Salah satunya program industri padat karya, yang menurut Putu Juli memiliki skema potongan bunga bank sekitar 5 persen bagi pelaku usaha.

Terbuka juga peluang kerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) untuk mendukung pengembangan SPOT.

BPDP dapat mendukung pembangunan lighthouse industri atau fasilitas percontohan yang dapat menjadi model mengadopsi teknologi bagi pelaku usaha.

“Bantuan itu bukan untuk seterusnya. Kita ingin membangun lighthouse-nya terlebih dahulu. Kalau sudah berkembang, pelaku usaha lain bisa melihat dan mempelajarinya.

Teknologi SPOT dapat berkembang dari prototipe menjadi model pengolahan sawit. Sehingga memberikan nilai tambah bagi industri kelapa sawit nasional.

Minim Limbah Cair

Keunggulan teknologi pengolahan kelapa sawit kering antara lain menghilangkan total limbah cair dari pabrik. Juga menurunkan emisi karbon sekiar 79 persen.

Teknologi SPOT mampu menampung kapasitas produksi 10 ton tandan buah segar sawit per jam. Harapannya fasilitas ini dapat dibangun dekat perkebunan dalam radius 25 kilometer.

Hasil olahan sawit menggunakan teknologi SPOT menghasilkan Re-esterified Palm Mesocarp Oil (RPMO) yang lebih rendah klorin.

Sehingga memenuhi standar minyak sawit untuk produk olahan makanan, kebutuhan pangan, kesehatan, kosmetik, hingga biofuel.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *