PONTIANAK, borneoreview.co – Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Barat terus memperkuat program pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) unggulan daerah guna meningkatkan daya saing produk lokal di pasar internasional, salah satunya melalui sektor kopi spesialti membantu proses pemasaran hingga tembus pasar global.
“Komitmen tersebut tercermin dari keberhasilan UMKM Kopi Kojal asal Kalimantan Barat yang kembali menembus pasar internasional melalui ajang World of Coffee Bangkok 2026 setelah sebelumnya tampil pada World of Coffee Jakarta 2025,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalbar, Doni Septadijaya, di Pontianak, Senin (11/5/2026).
Doni mengatakan keberhasilan tersebut merupakan hasil strategi pengembangan UMKM yang dilakukan secara terintegrasi mulai dari penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas produksi, kurasi kualitas, hingga fasilitasi promosi internasional.
“Melalui program kurasi nasional kopi binaan Bank Indonesia, Kopi Kojal kembali masuk dalam jajaran 20 kopi terbaik Indonesia binaan Bank Indonesia sekaligus menjadi kopi Liberika dengan nilai tertinggi se-Kalimantan,” tuturnya.
Ia menjelaskan kualitas kopi Liberika Kayong Utara mengalami peningkatan signifikan yang tercermin dari skor cupping yang naik dari 84,42 pada 2025 menjadi 85,58 pada 2026. Peningkatan tersebut menunjukkan karakter rasa kopi yang semakin kompetitif di pasar specialty coffee global.
Menurut Doni, pendampingan yang dilakukan Bank Indonesia tidak hanya berorientasi pada peningkatan penjualan jangka pendek, tetapi juga membangun ekosistem usaha berkelanjutan berbasis kualitas dan inovasi.
Program pembinaan tersebut mencakup penguatan sektor hulu hingga hilir, mulai dari pembinaan petani, pengembangan metode pascapanen, standardisasi mutu, peningkatan nilai tambah produk, hingga pembukaan akses pasar internasional melalui partisipasi dalam pameran global.
Partisipasi Kopi Kojal pada ajang World of Coffee Bangkok 2026 yang difasilitasi Bank Indonesia juga menghasilkan sejumlah potensi kerja sama strategis. UMKM tersebut memperoleh Letter of Intent (LoI) dari sejumlah pembeli internasional asal Singapura, Thailand, Swedia, dan Dubai, serta pembeli nasional dengan potensi transaksi mencapai 84.875 dolar Amerika Serikat per tahun atau sekitar Rp1,4 miliar hingga Rp1,7 miliar.
Doni menilai capaian tersebut membuktikan kopi Liberika asal Kayong Utara memiliki daya saing tinggi dan berpotensi menjadi komoditas unggulan baru Kalimantan Barat di pasar global.
Ia menambahkan keberhasilan Kopi Kojal juga menunjukkan efektivitas pendekatan pembinaan UMKM berbasis riset dan inovasi yang dilakukan Bank Indonesia sejak 2019.
“UMKM Kopi Kojal berhasil mengembangkan protokol pascapanen Liberika yang mampu meningkatkan kualitas cita rasa secara signifikan dan dapat diterapkan langsung oleh kelompok tani binaan di Kayong Utara,” ujarnya.
Bank Indonesia Kalbar memandang capaian tersebut sebagai model pengembangan UMKM unggulan daerah yang dapat direplikasi pada sektor lain melalui sinergi antara petani, pelaku usaha, pemerintah daerah, dan lembaga pendukung.
Ke depan, Bank Indonesia Kalbar akan terus memperluas program pembinaan UMKM melalui penguatan produktivitas, digitalisasi usaha, akses pembiayaan, business matching, serta promosi internasional guna mendorong semakin banyak UMKM Kalbar menembus pasar ekspor.
“Keberhasilan Kopi Kojal menjadi bukti bahwa melalui pendampingan yang tepat, penguatan kualitas, dan akses pasar yang luas, UMKM lokal Kalimantan Barat mampu bertransformasi menjadi pemain global,” kata Doni.(Ant)
