BMKG Bekali Nelayan dan Petani Hadapi Kemarau Ekstrem 2026 Lewat Sekolah Lapang

Sekolah lapang

PONTIANAK, borneoreview.co – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membekali nelayan dan petani di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, melalui Sekolah Lapang Cuaca Nelayan dan Sekolah Lapang Iklim untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau 2026 yang diprakirakan lebih kering.

“Kegiatan ini berlangsung di Aula Balai Pertemuan Kecamatan Sungai Kakap, Senin, diikuti 88 peserta dan dihadiri Anggota Komisi V DPR RI Syarif Abdullah Alkadrie, jajaran Pemerintah Kabupaten Kubu Raya, unsur TNI/Polri, SAR, HNSI, serta pemangku kepentingan lainnya,” kata Pelaksana Harian (Plh) Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah II Tangerang Selatan Ana Oktavia Setiowati, di Sungai Kakap, Senin (3/8/2026).

Dia mengatakan sekolah lapang tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam memahami dan memanfaatkan informasi cuaca serta iklim sebagai dasar pengambilan keputusan di sektor perikanan dan pertanian.

Melalui Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN), lanjutnya, peserta dibekali kemampuan membaca prakiraan arah dan kecepatan angin, tinggi gelombang, hingga informasi potensi daerah penangkapan ikan agar dapat menentukan waktu melaut yang lebih aman dan efisien.

“Pemanfaatan informasi cuaca juga diharapkan membantu nelayan menghemat penggunaan bahan bakar dan perbekalan, sehingga aktivitas penangkapan ikan menjadi lebih efektif,” tuturnya.

Sementara itu melalui Sekolah Lapang Iklim (SLI), kata dia, para petani diberikan pemahaman mengenai pemanfaatan informasi iklim untuk menyusun pola tanam yang adaptif, termasuk menentukan waktu tanam dan memilih komoditas sesuai kondisi musim.

Ana mengatakan BMKG memprakirakan musim kemarau 2026 lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya sehingga masyarakat, khususnya di Kalimantan Barat, perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai dampak yang ditimbulkan.

Ia menjelaskan kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta memicu kekeringan yang berdampak pada berkurangnya ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah.

“Potensi munculnya titik api harus diantisipasi sejak dini agar tidak berkembang menjadi karhutla yang lebih luas,” ujarnya.

Menurut Ana, peserta sekolah lapang diharapkan menjadi agen informasi yang menyebarluaskan prakiraan cuaca dan iklim BMKG kepada kelompok nelayan, kelompok tani, dan masyarakat sehingga pemanfaatan informasi tersebut semakin luas.

“Kami juga mengimbau masyarakat terus memantau informasi cuaca dan iklim melalui kanal resmi BMKG, tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dalam upaya mitigasi menghadapi musim kemarau,” katanya.(Ant)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *