BRIN Proses Asam Lemak Minyak Sawit Menjadi Biofuel

Peneliti BRIN kembangkan biofuel dari minyak sawit.

TANGERANG SELATAN, borneoreview.co – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan penelitian katalisis untuk mengoptimalkan pemanfaatan trigliserida minyak sawit menjadi bahan baku biofuel.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Katalisis BRIN, Kiky Corneliasari Sembiring, menjelaskan trigliserida dalam minyak nabati berpotensi diolah menjadi berbagai bahan bakar.

Beberapa bahan bakar yang dapat diproduksi melalui proses trigliserida antara lain, bensin hijau (green gasoline), diesel hijau (green diesel), dan bahan bakar penerbangan berkelanjutan (sustainable aviation fuel).

“Karbon dari sumber hayati dapat diperbarui melalui siklus pertumbuhan tanaman yang relatif singkat. Pemanfaatan karbon terbarukan dinilai dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mendukung transisi energi berkelanjutan,” kata Kiky Kiky Corneliasari

Proses Hidrokarbon 

Dilansir dari situs BRIN, proses hidrolisis memecah trigliserida menjadi asam lemak dan gliserol yang selanjutnya dapat diolah menjadi hidrokarbon.

Pengujian hidrolisis pada minyak sawit selama 20 menit pada 170-330 derajat celsius, menghasilkan asam lemak mendekati 90 persen.

Peneliti juga mengembangkan katalis berbasis nikel–timah dengan penyangga karbon aktif. Katalis tersebut dikembangkan sebagai alternatif penggunaan katalis berbasis logam mulia.

“Pengembangan tersebut bertujuan menghasilkan katalis yang lebih ekonomis, sekaligus meningkatkan kinerja dan stabilitas proses konversi minyak nabati. Kami mengeksplorasi katalis berbasis nikel sebagai alternatif yang lebih ekonomis.”

Dalam pengujian deoksigenasi minyak sawit RBDPO (refined, bleached, and deodorized palm oil), diperoleh sekitar 85 persen hidrokarbon dan 15 persen asam lemak.

Hasil ini menunjukkan potensi pengembangan katalis untuk mengkonversi minyak nabati berbahan sawit menjadi hidrokarbon.

Bahan Baku Nonpangan

Selain minyak nabati, Kiky menimbang potensi minyak jelantah dan bahan baku nonpangan untuk produksi bahan bakar nabati (biofuel).

Pemanfaatan bahan tersebut dapat meningkatkan nilai tambah limbah sekaligus mendukung penerapan ekonomi sirkular.

Bahan bakar dari minyak jelantah memiliki intensitas emisi sekitar 18 gram CO2. Lebih rendah dari bahan bakar jet fosil yang mencapai sekitar 89 gram CO2.

Angka tersebut menunjukkan potensi penurunan emisi sekitar 80 persen dalam skenario yang digunakan.

Besarnya penurunan emisi bergantung pada jenis bahan baku, proses produksi, kebutuhan energi, dan metode perhitungan emisi.

Melalui penelitian ini, BRIN mengembangkan teknologi katalisis untuk mengolah sumber karbon terbarukan menjadi produk energi bernilai tambah.

Optimalisasi katalis dan proses konversi diharapkan dapat mendukung produksi bahan bakar nabati (biofuel) yang lebih efisien dan berkelanjutan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *