Buntu di Selat Hormuz, Batu Bara Jadi Pintu Belakang Krisis Energi Dunia

Tongkang batu bara

JAKARTA, borneoreview.co – Krisis energi akibat konflik di Selat Hormuz mendorong ekspor batu bara. Krisis energi di sejumlah negara mendorong peningkatan konsumsi emas hitam.

Konflik di Timur Tengah yang mengganggu pengiriman liquefied natural gas (LNG) melalui Selat Hormuz, tidak mengganggu perdagangan batu bara. Hampir tidak ada batu bara dunia yang melintasi jalur pelayaran tersebut.

Timur Tengah juga bukan kawasan utama produksi maupun konsumsi batu bara. Tetapi pasar energi tidak bekerja dalam ruang yang terpisah.

Ketika pasokan LNG terganggu dan harga gas meningkat, negara-negara mulai mencari sumber energi lain untuk menghidupi pembangkit listrik. Di sejumlah negara, pilihan itu masih tersedia: Pembangkit listrik berbahan bakar batu bara.

Rantai peristiwa ini yang membuat International Energy Agency (IEA) mengubah perkiraan permintaan batu bara dunia untuk 2026.

Dalam Coal Mid-Year Update 2026, IEA memperkirakan konsumsi batu bara global tahun ini mencapai 8,94 miliar ton. Angka tersebut naik 1,2 persen dari tahun 2025, sekaligus menjadi rekor baru.

China Ditengah Persoalan

China menyumbang lebih dari 56 persen konsumsi batu bara global. Pada 2025, China mengonsumsi sekitar 4,956 miliar ton batu bara. Untuk 2026, IEA memperkirakan angkanya naik sekitar 1 persen, mendekati 5 miliar ton.

Kenaikan tersebut tidak hanya berkaitan dengan harga gas. Permintaan listrik yang terus tumbuh dan produksi energi tenaga angin yang lebih rendah, ikut membuka ruang bagi pembangkit batu bara.

Harga minyak yang lebih tinggi juga memberikan efek lain. Di China, kondisi tersebut membuat produksi bahan kimia berbasis batu bara menjadi lebih ekonomis.

Namun ruang pertumbuhannya terbatas karena banyak fasilitas coal-to-chemicals telah beroperasi pada tingkat utilisasi tinggi.

Ada batas lain yang perlu menjadi perhatian.  Industri baja dan semen China telah melewati puncak produksinya pada 2020 dan akan terus menurun pada 2026. Artinya, pertumbuhan konsumsi batu bara China tidak terjadi di seluruh sektor.

Cerita Lain di India

Setelah konsumsi batu bara di India sempat turun pada 2025, karena kondisi cuaca yang mendukung pembangkitan listrik tenaga air, permintaan kembali tumbuh pada 2026. IEA memperkirakan konsumsi batu bara India mencapai 1,353 miliar ton, naik 4,2 persen.

Pertumbuhan kebutuhan listrik menjadi salah satu pendorongnya. Industri seperti pig iron, direct reduction of iron (DRI), dan semen juga tetap membutuhkan batu bara.

IEA memperkirakan El Nino yang kuat pada 2026 dapat meningkatkan kebutuhan pendinginan sekaligus menekan pembangkitan listrik tenaga air di sejumlah negara Asia. Ketika pembangkit hidro tidak mampu memenuhi kebutuhan listrik, pembangkit batu bara kembali memiliki peran.

Vietnam menjadi salah satu contohnya. Gelombang panas meningkatkan kebutuhan listrik, sementara batu bara menjadi penopang pembangkitan dan mengisi kembali persediaan.

Di kawasan ASEAN, konsumsi batu bara mencapai sekitar 574 juta ton pada 2026. Indonesia dan Vietnam menjadi pendorong utama pertumbuhan.

Bahkan negara yang secara umum mengalami penurunan konsumsi batu bara ikut menunjukkan betapa rumitnya transisi energi.

Jepang misalnya, tetap menurunkan konsumsi batu bara sekitar 1 persen menjadi 161 juta ton. Namun harga gas yang lebih tinggi membuat pembangkit batu bara beroperasi lebih banyak dari perkiraan sebelumnya.

Korea Selatan bahkan mengalami revisi yang lebih besar. IEA memperkirakan konsumsi batu bara di negara itu meningkat 6 persen menjadi 119 juta ton.

Pada kuartal pertama 2026, pembangkitan listrik berbahan bakar batu bara meningkat 30 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sini terlihat bahwa pengurangan emisis bukan semata-mata penentu arah konsumsi batu bara dunia. Harga gas, ketersediaan pembangkit nuklir, kondisi cuaca, pertumbuhan permintaan listrik hingga struktur industri ikut menentukan.

Gangguan pada satu komoditas energi dapat menggeser permintaan ke komoditas lain yang secara geografis bahkan tidak melewati kawasan konflik.

Batu bara mungkin sedang didorong keluar dari sistem energi global. Tetapi selama negara-negara masih membutuhkan sumber listrik yang tersedia, murah, dan bisa segera digunakan ketika energi lain terganggu, ruang bagi batu bara belum benar-benar tertutup.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *