Dampak Pemangkasan Kuota Produksi RKAB 2026, Impor Biji Nikel dari Filipina Melonjak

Impor biji nikel dari Filipina melonjak.

JAKARTA, borneoreview.co – Pemangkasan kuota produksi biji nikel dalam RKAB 2026 menyebabkan jumlah impor dari Filipina naik 65,69 persen.

Jumlah produksi biji nikel dalam negeri tidak mampu mengimbangi kebutuhan smelter atau fasilitas pengolah atau pemurnian nikel yang mencapai 340-350 juta metrik ton.

Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) memperkirakan impor biji nikel sepanjang tahun 2026 mencapai 25 juta metrik ton. Lebih tinggi dari jumlah impor sepanjang 2025 sebanyak 15,33 juta metrik ton.

“Kurang lebih 25 juta ton untuk tahun ini impornya,” kata Ketua FINI Arif Perdana Kusumah.

Menurut Arif, hingga Mei 2026 saja FINI mencatat Indonesia telah mengimpor lebih dari 5 juta metrik ton biji nikel dari Filipina.

Pemangkasan RKAB 2026

Meningkatnya jumlah impor biji nikel tahun ini terpengaruh keputusan pemerintah memangkas kuota produksi dalam RKAB 2026 menjadi 260—270 juta metrik ton.

Jumlah kuota produksi itu lebih rendah dari realisasi tahun 2025 sebesar 320,37 juta metrik ton.

Data dari Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) mencatat kapasitas produksi fasilitas pengolahan dan pemurnian atau smelter nikel di Indonesia pada tahun 2026 mencapai 2,7 juta metrik ton kering atau dry metric ton (dmt) nikel kelas 1 dan kelas 2.

Untuk memenuhi kapasitas ini, Indonesia membutuhkan tambahan sekitar 40 hingga 50 juta metrik ton basah atau wet metric ton (wmt) biji saprolit dan limonit dari besaran kebutuhan tahun lalu sekitar 300 juta dmt.

Sehingga tahun 2026 kebutuhan biji nikel untuk kebutuhan smelter berpotensi naik menjadi 340 hingga 350 juta metrik ton.

Impor biji nikel tercatat paling banyak masuk ke wilayah Weda, Maluku Utara dengan volume sekitar 7,8 juta metrik ton. Kemudian, impor ke Morowali sekitar 3,23 juta metrik ton pada Januari hingga Agustus 2026.

Selain itu, biji nikel impor dari Filipina juga masuk ke Kendari mencapai 1,35 juta metrik ton pada Januari—Agustus 2026. Dan ke Kolonodale sebanyak 713.191 metrik ton.

Impor biji nikel asal Filipina juga masuk ke Pulau Obi sekitar 380.792 metrik ton. Sedangkan sisanya, sebanyak 47.000 metrik ton masuk ke Balikpapan pada Januari—Agustus 2026.

Menambal Kebutuhan Smelter

Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) mencatat realisasi serapan biji nikel sepanjang Januari—Juni mencapai 120,6 juta metrik ton atau setara 46,2 persen dari kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 sejumlah 260—270 juta metrik ton.

Sekretaris Jenderal APNI Meidy Katrin Lengkey mencatat, saat ini terdapat 422 izin usaha pertambangan (IUP) nikel aktif yang memasok ke 79 fasilitas pengolahan nikel.

Meidy Katrin menjelaskan, 79 smelter tersebut terdiri atas 55 fasilitas pirometalurgi berteknologi rotary kiln electric furnace (RKEF).

Sebanyak 10 pabrik hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL). Dan 10 penghasil nickel matte, serta 6 smelter baja nirkarat terintegrasi.

Kebutuhan biji nikel pada 79 smelter tersebut dalam kondisi beroperasi penuh, dapat mencapai 415 juta metrik ton per tahun.

“Hingga Juni 2026, konsumsi biji domestik tercatat sekitar 120,06 juta ton. Kurang lebih 46,2 persen dari kuota yang disetujui,” kata Meidy.

Meidy menilai kekurangan biji nikel tersebut tidak bisa diselesaikan hanya dengan menaikkan RKAB secara menyeluruh. Dia menyarankan persetujuan revisi RKAB berbasis aspek teknis.***

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *