SURABAYA, borneoreview.co – Industri penambangan minyak di Hindia Belanda secara masif mulai tahun 1888. Dua puluh tahun sebelum orang-orang Arab mengelola secara komersial ladang minyak mereka.
Mulanya Doordsche Petroleum Maatschappij. Perusahaan pengeboran minyak yang dikepalai insinyur pertambangan, Adriaan Stoop yang mencoba eksplorasi tahun 1887.
Setahun kemudian pemerintah Hindia Belanda memberikan Adriaan Stoop wilayah konsesi penambangan di Lapangan Krukah.
Dari sumur “Consesie Djabakotta” seluas 152,5 kilometer itu, Doordsche Petroleum Maatschappij menghasilkan 8.000 liter minyak bumi per hari.
Keberhasilan Doordsche Petroleum Maatschappij mengelola konsesi di Krukah, membuat pemerintah Hindia Belanda mempercayakan wilayah lain untuk dieksploitasi.
Lapangan minyak Lidah Koelon -sekarang Kelurahan Lidah Kulon, Surabaya- diserahkan untuk ditimba minyaknya oleh Adriaan Stoop.
Untuk mendukung pengolahan minyak mentah, pemerintah Hindia Belanda membangun kilang di Wonokromo. Memproduksi gasolin dan pelumas untuk mesin pabrik yang beroperasi sekitar tahun 1891-an.
Adrian Stoop kemudian deserahi sumur-sumur minyak yang belum tereksplorasi maksimal di Kendeng, Bojonegoro, dan Rembang.
Belakangan Doordsche Petroleum Maatschappij mengelola 30 lapangan minyak untuk ditambang.
Doordsche Petroleum Maatschappij kemudian mendirikan kilang kedua di Cepu untuk mendukung pengolahan minyak mentah dari sumur-sumur di sebelah barat Jawa.
Ladang Minyak Karawang
Sebenarnya eksplorasi minyak bumi di tanah jajahan Hindia Belanda dimulai sejak temuan ladang minyak pertama di Karawang tahun 1850.
Diikuti penemuan ladang minyak di Semarang tahun 1853, Kalimantan Barat tahun 1857, Palembang tahun 1858, Rembang dan Bojonegoro tahun 1858, serta Surabaya dan Lamongan tahun 1858.
Pada 1871 rembesan minyak alami ditemukan di Majalengka dan diambil oleh pedagang Belanda, Jan Reerink.
Bahkan pada 1883 AJ Zijlker lebih dulu berhasil mendapatkan konsesi dari Sultan Langkat Sumatera untuk meneliti dugaan lokasi yang berpotensi sebagai sumur minyak.
Survei awal untuk melakukan pengeboran di lokasi itu dilakukan tahun 1885. Insinyur tambang R Fenneme ditunjuk untuk mengawasi pengeboran. Pada kedalaman 100 meter minyak ditemukan.
Baru pada 1890 eksploitasi minyak dilakukan oleh Koninklijke Nederlandsche Maatschappij. Sumur kedua dibor tahun 1891, dua tahun setelah eksplorasi di Surabaya.
Setahun kemudian pada 1892, Koninklijke Nederlandsche Maatschappij menghsilkan 1.300 liter minyak setiap hari.
Minyak di Kalimantan
Di tahun yang sama, kilang minyak baru didirikan di Pangkalan Brandan Kalimantan oleh insinyur pertambangan, JH Menten.
Pada tahun 1891 Sultan Kutei memberi konsesi kepada Louise dan Mathilde untuk mengesplorasi ladang minyak di Sungai Sangga Sangga. Nantinya ladang minyak ini menjadi cikal bakal perusahaan minyak Shell.
Hindia Belanda dilanda demam minyak bumi. Di Langkat, Sumatera Utara, konsesi Boeloe Telang dan Boekit Tinggi beroperasi dengan modal perusahaan Inggris.
Di Palembang, konsesi ladang minyak diberikan kepada de Petroleum Mij Sumatra Palembang (Sumpal). Menimba minyak di daerah Ilir dan Banjoe Asin.
Tahun 1898, Petroleum Mij merambah Moeara Enim, Sumatera Selatan. Minyak mentah dari Palembang tengah ditambah dari Babat di Palembang utara mengalir melalui pipa sepanjang 140 kilometer menuju kilang di Pladjoe, Palembang.
Hanya kurang dari 10 tahun sejak Doordsche Petroleum Maatschappij melakukan ekplorasi minyak secara masif di Surabaya hingga Kendeng dan Rembang. Puluhan ladang minyak baru bermunculan hingga Kalimantan dan Sumatera.***
