SABANG, borneoreview.co – Akhir tahun 1912. Pada masa puncak kekuatan militer, Jepang pernah menuntut pendudukan Teluk Sabang yang memiliki pelabuhan batu bara.
Jepang baru saja memenangkan perang Rusia tahun 1904-1905. Negara tetangganya, Tiongkok, dicaplok lewat perang sengit tahun 1894-1895.
Kekuatan angkatan laut Jepang di Asia Timur bahkan memaksa armada Inggris berbagi kuasa perairan dengan ras kulit kuning tersebut.
Tahun 1911 bala tentara Sang Ratu “dipaksa” menjalin aliansi dengan Jepang (Anglo-Japanese Alliance). Menjamin kapal-kapal berbendera Inggris aman berlayar di Semenanjung Korea, Singapura, hingga Selat Malaka.
Pasca Restorasi Meiji
Pemerintah kolonial Hindia Belanda yang digdaya di Nusantara merasa terganggu dengan aktivitas angkatan laut Jepang di kawasan mereka.
Novel “Jejak Langkah” karya Pramoedya Ananta Toer mengutip kecemasan orang-orang Belanda itu:
“Mengapa baru kuperhatikan berita utama? Dengan huruf-huruf besar seperti itu? Jepang menuntut pulau Sabang dengan stasiun batu baranya! Astaga, Jepang bikin lompatan yang menggemparkan. Apa berita ini punya dasar? Dan terlontar komentar: Badut itu mulai menjadi-jadi tingkahnya. Tapi tak urung ada berita kecil tentang rapat mendadak di kalangan Angkatan Laut.”
Jelas Jepang bukan badut pada masa itu. Setelah wafatnya Kaisar Meiji pada Juli 1912, Jepang memasuki fase konsolidasi dan modernisasi pemerintahan.
Angkatan Laut Kekaisaran Jepang mulai memproyeksikan kekuatan ke Samudra Pasifik. Menempatkan Amerika Serikat sebagai rival utama dalam kebijakan pertahanan.
Jalur Pelayaran Strategis
Menyadari kekuatan di laut, Jepang melirik Pulau We yang berada di titik strategis. Selat Malaka merupakan rute pelayaran terdekat yang menghubungkan Asia, Timur Tengah, dan Eropa.
Pelabuhan di Teluk Sabang memiliki peran vital dalam peta pelayaran internasional pada akhir abad ke-19. Dibukanya Terusan Suez tahun 1869, mengubah rute maritim dunia beralih melintasi Selat Malaka.
Teluk Sabang yang dalam dan terlindung, menjadi lokasi strategis bagi kapal-kapal uap dari seluruh dunia untuk singgah.
Tahun 1881, Belanda mendirikan stasiun pengisian batu bara atau Kolen Station di Pulau We. Semula kehadiran militer di wilayah utara Sumatera sangat krusial bagi Belanda untuk mengamankan jalur logistik selama Perang Aceh.
Potensi ekonomi yang besar membuat Belanda mengubah arah kebijakan kolonial. Stasiun pengisian batu bara di Pulau We dibuka untuk melayani kapal-kapal dagang internasional.
Kapal-kapal uap mampir di Sabang untuk mengisi cadangan bahan bakar sebelum lanjut berlayar ke Samudera Hindia dan Pasifik.
Pusat Perdagangan Batu Bara
Tahun 1883 pemerintah kolonial Belanda membentuk Atjeh Associate. Perusahaan ini kemudian berubah menjadi perusahaan swasta bernama N.V. Zeehaven en Kolenstation Sabang.
Nama yang lebih populer dikenal oleh dunia perkapalan internasional sebagai Sabang Maatschappij (Sabang Mij).
Perusahaan swasta ini membangun infrastruktur pelabuhan sehingga masif melayani perdagangan batu bara global.
Puncak pembangunan fisik pelabuhan batu bara di Pulau We rampung tahun 1895. Berdiri depot penyimpanan yang mampu menampung 25.000 ton batu bara.
Perusahaan mendatangkan pasokan batu bara berkualitas langsung dari tambang batu bara Ombilin di Sawahlunto, Sumatra Barat.
Tidak hanya menyediakan batu bara, pelabuhan ini berubah menjadi pusat logistik terpadu yang menyediakan air bersih bagi kru kapal, juga minyak yang dikirim dari Palembang.
Pemerintah Hindia Belanda secara resmi menetapkan Sabang sebagai pelabuhan bebas (Vrij Haven) pada tahun 1896.
Status ini membebaskan aktivitas perdagangan dari bea masuk dan pajak. Sebelum pecah Perang Dunia II, Pelabuhan Sabang tumbuh menjadi salah satu pelabuhan transit paling sibuk di kawasan Asia Tenggara.
Bangkrut Akibat Perang
Masa kejayaan stasiun batu bara di Sabang perlahan redup memasuki pertengahan abad ke-20. Revolusi teknologi maritim menyebabkan banyak kapal beralih dari mesin uap ke mesin diesel yang menggunakan bakar minyak bumi.
Puncak kebangkrutan terjadi tahun 1942 ketika pecah Perang Pasifik. Jepang mengambil alih Pulau We dan mengubah fungsi pelabuhan Sabang dari pusat perdagangan menjadi basis pertahanan militer yang tertutup.
Perubahan fungsi dan kehancuran infrastruktur akibat perang, akhirnya mengakhiri cerita Sabang sebagai pelabuhan raksasa batu bara dunia.***
