JAKARTA, borneoreview.co – Di lantai 17 BSI Tower, Jakarta Pusat, Kamis (20/8/2026), gemerlap kawasan Ring 1 seolah ikut menyaksikan lahirnya satu entitas baru.
Tepat di sebelah gedung Kementerian BUMN dan Menara Danareksa, para petinggi industri emas menandatangani babak baru: Indonesia Bullion Market Association (IBMA) resmi berdiri.
Selfie Dewiyanti, perempuan yang kini memegang kendali sebagai Ketua Umum, menatap ruangan itu dengan keyakinan.
Ia menyebut 11 perusahaan pendiri—bukan satu-dua pemain besar sebagai tulang punggung asosiasi.
Sebelas entitas dari hulu ke hilir tambang, jasa keuangan, pemurnian, manufaktur, ritel, hingga sektor pendukung.
“Ekosistem emas tidak dibangun oleh satu pelaku,” ujar Selfie Dewiyanti, suara tegas menembus hening.
“Tapi oleh seluruh mata rantai yang terhubung, saling melengkapi, saling berkoordinasi. Tujuannya satu menguatkan ekosistem bullion Indonesia,” kata Selfie Dewiyanti.
Di panggung itu, tema “Uniting the Industry, Shaping Indonesia Bullion Market” terpampang.
Narasi persatuan digaungkan. Namun, di balik kata-kata indah, publik boleh bertanya-tanya, mampukah IBMA melawan bayang-bayang kartel emas yang lama mencengkeram?
Peta Kekuatan Baru
IBMA mengklaim diri sebagai jembatan. Antara pelaku industri dan regulator. Antara aspirasi pasar dan kebijakan negara.
Frasa itu terdengar ideal nyaris sempurna. Tapi sejarah mengajarkan, jembatan kerap menjadi tempat orang bertarung diam-diam.
Struktur pengurus memperlihatkan konsentrasi kekuasaan yang tak main-main. Dewan Pengawas diketuai Anggoro Eko Cahyo, Direktur Utama BSI.
Anggotanya: Damar Latri Setiawan dari Pegadaian, Driya Amandita dari Amman Mineral Internasional, Edi Yahya dari UBS Gold, dan Handi Irawan dari Laku Emas.
Mereka bukan nama asing. Mereka adalah wajah-wajah lama industri logam mulia nasional. Duduk di kursi pengawas, mereka memegang kendali arah.
Sementara di tataran eksekutif, Selfie memimpin dengan empat wakil dari ICDX, BRINKS, CMK, dan Hartadinata Abadi.
Siapa yang benar-benar memegang kendali? Asosiasi ini yang mengaku mewakili seluruh mata rantai—justru dipimpin para pemain besar.
Di mana suara pelaku kecil? Di mana ruang bagi ritel independen?

Janji dan Realita
Selfie Dewiyanti melontarkan kata-kata yang terdengar manis menampung aspirasi, wadah kolaborasi, memberi masukan ke regulator.
Namun di negeri ini, masukan sering kali hanya menjadi pemanis rapat. Regulator datang, mendengarkan, lalu kembali ke menara gading masing-masing.
IBMA berdiri di tengah ekosistem emas nasional yang penuh luka. Transparansi rendah, rantai pasok tak jelas, dan ketergantungan pada impor masih tinggi.
Apakah asosiasi ini akan menjadi alat pembersih? Atau sekadar panggung baru untuk kepentingan lama?
Tak ada jawaban pasti. Yang ada hanyalah janji seperti kebanyakan seremoni peresmian di ibu kota.
Namun satu hal yang pasti, di lantai 17 itu, di bawah lambang BSI, kekuatan-kekuatan besar emas Indonesia sedang menyusun peta.
Rakyat hanya bisa menunggu. Apakah peta itu membawa ke arah pasar lebih adil, atau justru menggambar ulang garis-garis kekuasaan lama dengan tinta baru.(amk)***
