Emas Lenyap, Alat Berat Terseok: Nestapa UNTR di Pusaran Bencana

UNTR

JAKARTA, borneoreview.co – Aroma emas dari perut bumi Martabe meredup. PT United Tractors Tbk (UNTR) harus menelan fakta pahit: penjualan emasnya rontok 78 persen hingga Juli 2026.

Angka itu bagai jeruji besi yang mengunci laju raksasa alat berat milik Grup Astra tersebut.

Hingga akhir Juli, PT United Tractors Tbk (UNTR) hanya sanggup melego 32 ribu ons emas.

Bandingkan dengan periode sama tahun lalu yang menyentuh 143 ribu ons. Luka ini bermula dari hentinya denyut Tambang Martabe.

Banjir dan longsor memorak-porandakan Aceh dan Sumatra Utara. Bencana itu memaksa operasional Martabe terhenti.

Tak berhenti di situ, Presiden Prabowo mencabut izin 28 perusahaan pelanggar hutan Sumatra, termasuk PT Agincourt Resources, pengelola Martabe.

Corporate Secretary PT United Tractors Tbk (UNTR) , Arie Setiawan, menyebut bencana dan sanksi sebagai pangkal keterpurukan.

“Minimnya penjualan emas dari tambang Martabe, dikarenakan penghentian sementara operasional,” katanya dalam Public Expose Live 2026.

Luka Lambat Pulih

Setelah lima bulan tertidur, Martabe perlahan membuka mata. Arie mengonfirmasi tambang itu telah melanjutkan operasi pada kuartal II 2026. Namun, mesin-mesin belum menderu kencang.

Presiden Direktur PT United Tractors Tbk (UNTR) , Iwan Hadiantoro, mengakui pemulihan tak bisa instan.

“Tambang tidak bisa langsung 100 persen recovery. Kita harus menyiapkan alat lagi, memanggil karyawan kembali bekerja. Prosesnya bertahap,” tuturnya.

Proyeksi tahun ini pun suram. UNTR hanya menargetkan 65 ribu ons emas, menyusut 71,4 persen dari 227 ribu ons pada 2025. Kejatuhan ini begitu dalam.

Proyek Doup Menanti

UNTR sejatinya punya amunisi baru: Proyek Doup di Sulawesi Utara. Konsesi ini diakuisisi dari PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) pada Februari 2026. Namun, emas dari Doup belum bisa segera dinikmati.

Tambang itu diproyeksikan baru beroperasi komersial pada 2029. Iwan merinci fokus perseroan hingga 2028 perizinan, studi kelayakan, AMDAL, pembangunan pabrik pengolahan, serta pembebasan lahan.

“Fokus kita 2026–2028 adalah penyelesaian infrastruktur processing plant di ASA. Harapannya, tambang bisa produksi dan menjual emas di 2029,” ujar Iwan.

Batu Bara Ikut Terpukul

Lini bisnis utama PT United Tractors Tbk (UNTR) juga babak belur. Penjualan alat berat lesu akibat pemotongan RKAB batu bara nasional.

Anak usaha PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Tuah Turangga Agung (TTA), merasakan dampaknya.

Penjualan batu bara metalurgi TTA ambles 18 persen. Direktur UNTR, Hendra Hutahean, menyebut pemotongan RKAB menjadi 7,4 juta ton sebagai biang keladi.

Namun, secercah harapan muncul.PT United Tractors Tbk (UNTR) telah mengantongi persetujuan revisi RKAB.

“Kita sudah dapat persetujuan revisi menjadi sekitar 9,6–9,8 juta ton sales, yang akan diselesaikan tahun ini,” jelas Hendra.

Denda Triliunan Menghujam

Laba bersih PT United Tractors Tbk (UNTR) semester I 2026 anjlok 88 persen. Pendapatan merosot 15 persen menjadi Rp58,3 triliun. Penyebabnya bukan sekadar pasar lesu.

Ada beban non-berulang Rp3,3 triliun dari denda tambang nikel Stargate di kawasan hutan. Ditambah penurunan nilai investasi di bisnis geothermal Supreme Energy Rantau Dedap.

“Kapasitas net Rantau Dedap tercatat sekitar 50–52 MW, lebih kecil dari ekspektasi sebelumnya di sekitar 90 MW,” ucap Direktur PT United Tractors Tbk (UNTR), Vilihati Surya.

Iwan menegaskan optimismenya. Revisi RKAB industri batu bara diyakini menjadi tuas pemulihan kinerja UNTR di paruh kedua 2026.

“Kita optimis UT dapat memanfaatkan pemulihan dan peluang yang ada untuk kinerja lebih baik,” tegasnya.

Namun, jalan menuju pemulihan masih terjal. PT United Tractors Tbk (UNTR) harus menaklukkan luka Martabe, memacu Doup, dan membayar mahal dosa ekologis.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *