JAKARTA, borneoreview.co – Indonesia memasuki babak baru kebijakan energi sawit setelah biodiesel resmi dipasarkan pada 1 September 2026. Waspada ancaman utang karbon dari potensi alih fungsi hutan.
Pemerintah menyebut kebijakan transisi BBM ke bahan bakar nabati mampu mengurangi impor solar jenis CN48. Dampak positifnya negara menghemat devisa hingga Rp170 triliun.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (sekarang Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi), Bahlil Lahadalia mengatakan, kebutuhan solar nasional sebelumnya mencapai 38-40 juta kilo liter per tahun. Sekitar 3-4 juta kilo liter terpenuhi oleh impor.
Setelah penerapan biodiesel B40, keran impor produk solar dikurangi. Devisi negara dari penghematan impor solar naik sekitar Rp133,3 triliun.
Pada saat yang sama, B50 membutuhkan bahan baku sawit dalam jumlah besar. Kementerian ESDM memperkirakan kebutuhan biodiesel mencapai 16,7-18 juta kiloliter, dengan kebutuhan CPO sekitar 15,2-16,3 juta ton.
Pemerintah menghitung kebijakan biodiesel B50 dapat menurunkan emisi sekitar 44,46 juta ton CO2. Lebih tinggi dari estimasi pengurangan emisi B40 sebesar 39,66 juta ton.
Yayan Satyakti, peneliti Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran menyebut penghentian impor solar memang menghemat devisa. Dia memperkirakan penghematan tersebut sekitar Rp170 triliun per tahun.
Namun, Yayan meminta pemerintah mengevaluasi kembali mandat B50 karena terdapat risiko akumulasi “utang karbon” dari ekspansi perkebunan sawit.
Risiko kerusakan lingkungan dan utang karbon semakin besar jika pemenuhan kebutuhan biosolar terpenuhi lewat perluasaan lahan sawit dengan cara membuka hutan atau memanfaatkan lahan gambut.
Dalam paparan risetnya, Yayan menyebutkan Indonesia membutuhkan tambahan lahan sawit hingga 3,22 juta hektare sepanjang 2025-2035.
Itu terjadi jika sektor sawit gagal meningkatkan produktivitas dari perkebunan yang sudah ada untuk memenuhi kebutuhan biosolar.
Jika terjadi pembukaan hutan dan lahan gambut untuk perkebunan sawit, akan menghasilkan sekitar 4,65 gigaton CO2.
Butuh waktu sekitar 94 hingga 122 tahun untuk melunasi “utang karbon” akibat pembukaan hutan.
Jika ekspansi terjadi pada lahan gambut yang dikeringkan, emisi dapat berlangsung terus karena gambut yang teroksidasi terus melepaskan karbon.
Hitungan utang karbon ini baru merupakan skenario hasil penelitian. Besaran utang karbon yang hars kita tanggung bergantung pada sumber tambahan bahan baku dan perubahan penggunaan lahan.
Peneliti IPB University, Leopold Oscar Nelwan juga mengingatkan bahwa manfaat emisi biodiesel harus dihitung berdasarkan seluruh siklus hidupnya.
Biodiesel dari minyak sawit secara umum dapat menghasilkan emisi lebih rendah dari diesel fosil.
Tapi keunggulan tersebut dapat berkurang secara signifikan apabila bahan bakunya berkaitan dengan konversi hutan atau lahan gambut yang memiliki cadangan karbon tinggi.
Fabby Tumiwa dari Institute for Essential Services Reform menyampaikan pendapat senada. Dia memperkirakan peningkatan dari B40 ke B50 dapat menambah kebutuhan CPO sekitar 4 juta ton per tahun.
Jika pasokan tersebut tidak berasal dari peningkatan produktivitas, kebutuhan ekspansi lahan baru dapat muncul.
Fabby menekankan bahwa emisi CPO berbeda menurut asal kebun sawit. Kebun sawit lama dengan tata kelola baik, memiliki profil emisi berbeda dari perkebunan yang berasal dari pembukaan lahan gambut.
Persoalannya jadi lebih kompleks karena kebutuhan CPO untuk energi bersinggungan dengan kebutuhan ekspor.
Kajian Bank Indonesia mengenai mandatori B50 hingga B70 menemukan bahwa pengurangan impor solar memang terjadi.
Tapi pada skenario B50 hingga B70 juga menyebabkan pendapatan ekspor CPO hilang secara sistematis yang nilainya melampaui penghematan impor solar.
Dengan demikian, tidak cukup mengukur keberhasilan B50 hanya dari berapa banyak solar yang tidak lagi impor.
Metode menghasilkan minyak sawit dengan cara ramah lingkungan juga menjadi pertimbangan.
Jika bahan baku berasal dari peningkatan produktivitas kebun yang sudah ada, manfaat energi dan ekonominya dapat berjalan tanpa kebutuhan ekspansi besar.
Tetapi jika kebutuhan tambahan terpenuhi melalui pembukaan hutan atau gambut, penghematan devisa hari ini dapat berhadapan dengan kewajiban emisi yang berlangsung jauh lebih lama.
Biodiesel B50 akhirnya menghadapkan Indonesia pada dua neraca sekaligus. Neraca pertama menghitung jumlah liter solar yang tidak lagi impor, sehingga devisa tetap berputar di dalam negeri.
Neraca kedua menghitung kebutuhan luas hektare lahan kebun sawit untuk menghasilkan CPO, serta potensi produksi karbon.***
