Hapsoro, Jurus Siluman di Balik Kontrak Tambang Rp9,3 Triliun di Kalimantan Tengah

Batu Bara

KAPUAS, borneoreview.co – Kabut pagi belum sepenuhnya pergi dari Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah.

Di atas tanah gambut merah kehitaman, mesin-mesin berat mulai menderu. Di tempat inilah, sebuah kisah tentang harta karun hitam senilai Rp9,3 triliun ditorehkan bukan dengan pena, melainkan dengan tinta kontrak mengikat tiga nama besar: Petrosea, Pesona Bara Cakrawala, dan Cakrawala Bara Persada.

Pada Kamis, 23 Juli 2026, lembaran perjanjian ditandatangani. Tanpa gemuruh. Tanpa kamera yang menyorot berlebihan.

PT Petrosea Tbk (PTRO) resmi menggenggam dua kontrak jasa pertambangan batu bara dengan nilai estimasi menembus Rp9,3 triliun.

Angka nyaris mustahil dicerna di tengah ekonomi yang sedang merangkak pulih dari keterpurukan.

PT Pesona Bara Cakrawala (PBC) dan PT Cakrawala Bara Persada (CBP), dua anak usaha tak langsung PT Singaraja Putra Tbk (SINI), menjadi pemberi kerja.
Keduanya memegang Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi di wilayah yang sama: Kapuas, Kalimantan Tengah.

Kontrak berlaku sepanjang usia tambang sebuah frasa menyiratkan ikatan jangka panjang, bahkan melampaui masa jabatan para eksekutif menandatanganinya.

Benang Kusut Afiliasi

Di balik angka fantastis itu, ada nama yang berulang: Hapsoro. Ia bukan sekadar pengendali SINI.

Ia juga rupanya pemegang saham utama tak langsung di PTRO melalui PT Sentosa Bersama Mitra.

Kepemilikan langsungnya di SINI tercatat 9 persen per akhir Juni 2026, sementara di PTRO ia menggenggam 2,55 persen secara tak langsung.

Hubungan ini menjelaskan mengapa kontrak raksasa itu bisa jatuh ke pangkuan PTRO tanpa riuh tender terbuka.

Sebuah kenyamanan lahir dari kedekatan struktural, bukan semata kompetisi pasar harian belaka.

Dalam dunia tambang, afiliasi adalah pedang bermata dua mempercepat eksekusi, namun mengaburkan batas antara kepentingan publik korporasi dan keuntungan pribadi.

Perangkap Hak dan Siaga

Rangkaian transaksi tidak berhenti di kontrak jasa. PTRO bersiap menjadi pembeli siaga dalam rights issue SINI senilai Rp3,61 triliun.

Setelah aksi korporasi rampung, PTRO diproyeksikan menggenggam 21,76 hingga 24,67 persen saham SINI.

Sebuah perpindahan kekuasaan yang dilakukan dengan langkah halus, seperti ular yang melingkar perlahan di dahan kering.

Tak hanya itu, PTRO juga melepas anak usahanya, PT Kemilau Mulia Sakti, kepada SINI dengan nilai Rp1,73 triliun.

KMS memiliki cadangan hingga 2038 dan ditargetkan memproduksi hingga 5 juta ton batu bara per tahun.

SINI bahkan memproyeksikan pendapatan KMS mencapai US$158,97 juta pada 2027, menyumbang 27,06 persen terhadap total pendapatan.

Asap Hitam di Cakrawala

Proyek PBC dijadwalkan beroperasi komersial pada kuartal IV 2026, sementara CBP menyusul setahun kemudian.

Batu bara PBC berkalori GAR 4200, lebih rendah dari pada CBP yang mencapai GAR 5000.

Namun, di pasar global yang kelaparan energi, angka kalori tak lagi menjadi harga mati. Volume dan keberlanjutan pasokan lebih berharga daripada kualitas ideal.

Dari PBC, SINI memproyeksikan pendapatan total US$2,6 miliar atau sekitar Rp45,6 triliun sepanjang masa kontrak.

Dari CBP, angkanya mencapai US$656 juta atau Rp11,5 triliun. Angka-angka itu akan mengalir ke kantong para pemegang saham.

Sementara tanah Kapuas akan terkoyak, lapisan penutupnya dipindahkan 189 juta BCM, dan debu batu bara akan menempel di dedaunan, paru-paru warga, dan sungai-sungai menjadi urat nadi kehidupan.

Di tengah euforia angka, pertanyaan elementer justru tertinggal siapa yang akan memastikan bekas tambang tidak menjadi kubangan asam?

Siapa yang menjamin warga Kapuas mendapat bagian adil dari tanah yang mereka pijak? Kontrak life of mine sering kali menjadi life of damage bagi ekosistem dan komunitas lokal.

Tidak ada jawaban dalam keterbukaan informasi. Hanya ada barisan angka, proyeksi pendapatan, dan struktur kepemilikan yang rapat.

Di panggung kapitalisme tambang, tanah dan manusia kerap menjadi figuran dalam narasi besar yang ditulis para pemodal.

Rangkaian transaksi ini bukan sekadar berita bisnis. Ia adalah potret bagaimana kekuasaan ekonomi bergerak senyap, terstruktur, dan hampir selalu meninggalkan jejak abu.

Warga patut bertanya lebih jauh bukan hanya kepada emiten, tetapi juga kepada regulator seharusnya menjaga keseimbangan antara investasi dan keadilan.

Buka mata lebih lebar. Sebab di balik setiap ton batu bara yang dikeruk, ada cerita tak pernah masuk laporan keuangan.*

Deskripsi//

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *