KUALA LUMPUR, borneoreview.co – Kontrak acuan minyak kelapa sawit untuk pengiriman bulan November di Bursa Malaysia Derivatives Exchange, naik RM46 atau 0,95 persen menjadi RM4.896 (US$1.200,59) per metrik ton.
Kenaikan harga CPO salah satunya didorong perkiraan pasokan yang ketat tahun depan akibat mandat biodiesel B50 Indonesia dan potensi penurunan produksi akibat El Nino.
“Kontrak berjangka CPO di BMD diperdagangkan lebih tinggi, menyusul kenaikan harga energi,” kata Anilkumar Bagani, kepala riset Sunvin Group, perusahaan pialang minyak nabati yang berbasis di Mumbai, India.
Harga TBS Sawit di Kalbar Januari-Agustus 2026 Bergerak Fluktuatif
Harga minyak naik karena muncul kekhawatiran gangguan pasokan berlanjut setelah serangan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi. Menyebabkan pipa Timur-Barat negara itu tidak beroperasi dan menimbulkan keraguan terhadap upaya mengurangi risiko pelayaran di kawasan Teluk.
Harga minyak mentah berjangka yang lebih tinggi menjadikan minyak sawit sebagai pilihan yang lebih menarik untuk bahan baku biodiesel.
Kontrak minyak kedelai paling aktif di bursa Dalian turun 0,91 persen. Sementara kontrak minyak sawit di bursa komoditas yang sama turun 0,38 persen. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade naik tipis 0,07 persen.
Harga Minyak Kelapa Sawit Naik, Pemerinta Naikkan HET MinyaKita
Pergerakan harga minyak sawit cenderung mengikuti harga minyak nabati pesaing lainnya. Mengingat komoditas ini bersaing memperebutkan pangsa pasar minyak nabati global.
Ringgit Malaysia, mata uang yang dipakai dalam perdagangan minyak kelapa sawit, melemah 0,1 persen terhadap dolar Amerika. Sehingga komoditas tersebut menjadi lebih murah bagi pembeli yang memegang mata uang asing.
Harga minyak kelapa sawit berpotensi kembali naik ke kisaran RM4.930 hingga RM4.964 per metrik ton setelah menembus garis tren penurunan.
