BENGKAYANG, borneoreview.co – Matahari pagi menyinari pesisir Desa Karimunting, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.
Di sela aroma laut dan deretan ikan hasil tangkapan nelayan, harapan baru mulai tumbuh.
Bukan berasal dari hasil tangkapan lebih banyak, melainkan melalui cara mengolah hasil laut agar memiliki nilai ekonomi jauh lebih tinggi.
Suasana itu terasa hidup saat tim Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Universitas Tanjungpura (UNTAN) menggelar Workshop Hilirisasi Produk Olahan Ikan berbasis Good Manufacturing Practice (GMP) serta pemanfaatan teknologi Solar Dome Dryer, Rabu (5/8/2026).
Kegiatan pengabdian masyarakat tersebut menjadi ikhtiar memperkuat kemandirian ekonomi warga pesisir melalui penguasaan teknologi tepat guna.
Ada Mutu Produk
Program dipimpin Ketua Pusat Pemberdayaan Perdesaan (P2D) ITB, Dr. Taufikurahman, melibatkan Dr. Andira Rahmawati, Dr. Dzulianur Mutsla, Nanda Shofiah Ulfa, M.Si., Afghani Jayuska, M.Si., serta Ir. Riadi Budiman, M.T., M.Ag., ASEAN Eng.
Kolaborasi akademisi lintas perguruan tinggi berlangsung bersama Pemerintah Desa Karimunting sebagai bagian dari penguatan ekonomi berbasis potensi lokal.
Workshop dibuka Kepala Desa Karimunting H. Iskandar, S.Pd., dihadiri Bintara Pembina Desa Serka Sugiyanto, Bhabinkamtibmas Briptu Doni Alfianto, serta kelompok pengolah hasil perikanan.
Ruang pelatihan dipenuhi warga, terutama pelaku usaha rumah tangga, memanfaatkan kesempatan mempelajari teknik produksi pangan modern.
Materi pelatihan tidak berhenti pada teori. Peserta diajak memahami seluruh rantai produksi, mulai pemilihan bahan baku, sanitasi, proses pengolahan higienis, pengemasan, pelabelan, penyimpanan, hingga strategi pemasaran.
Seluruh tahapan disusun mengikuti standar Good Manufacturing Practice agar mutu produk meningkat sekaligus memperkuat kepercayaan konsumen.
Asa Teknologi Surya
Perhatian peserta tertuju pada Solar Dome Dryer, rumah pengering berbasis energi matahari.
Teknologi tersebut menjadi jawaban atas persoalan klasik nelayan saat musim hujan menghentikan proses penjemuran ikan secara konvensional.
Berbeda dari penjemuran terbuka, Solar Dome Dryer mampu mempercepat proses pengeringan sekaligus melindungi produk dari debu, serangga, serta kontaminasi lingkungan.

Hasil akhir menjadi lebih bersih, higienis, dan memiliki kualitas lebih seragam sehingga peluang menembus pasar modern semakin terbuka.
Sebelum sesi pelatihan berlangsung, teknologi tersebut diresmikan pemanfaatannya bagi kelompok pengolah ikan di Dusun Sungai Soga.
Warga kemudian mengikuti praktik langsung mengoperasikan fasilitas tersebut bersama tim pendamping.
Diskusi berkembang hangat. Berbagai persoalan produksi, mulai kualitas ikan kering hingga teknik pengemasan, dibahas satu per satu bersama narasumber.
Pendekatan tersebut membuat pelatihan tidak sekadar menjadi forum penyampaian materi, melainkan ruang mencari solusi berdasarkan pengalaman lapangan.
Ekonomi Desa Bergerak
Program tidak berhenti pada pelaksanaan workshop. Tim ITB dan UNTAN menyiapkan pendampingan lanjutan agar kemampuan masyarakat berkembang menjadi usaha berdaya saing.
Ketua P2D ITB, Doktor Taufikurahman, menegaskan pengabdian tersebut merupakan wujud pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi.
“Kami ingin hadir untuk memastikan Desa Karimunting tidak hanya jadi produsen ikan segar, tapi juga penghasil produk olahan bermutu dan siap bersaing di pasar,” kata Doktor Taufikurahman.
Pendampingan berikutnya diarahkan menuju penerapan Good Manufacturing Practice secara konsisten sebagai pintu awal memperoleh sertifikasi Pangan Industri Rumah Tangga (P-IRT) dan sertifikasi halal.
Ketua Tim UNTAN, H Afghani Jayuska, M.Si., memastikan proses pendampingan berlangsung selama enam bulan.
“Tim UNTAN akan melakukan pendampingan intensif selama enam bulan ke depan. Mulai dari hulu produksi, pengemasan, uji mutu, hingga persiapan sertifikasi,” ucap Afghani Jayuska.
Langkah tersebut diharapkan memperkuat posisi produk olahan ikan Karimunting agar mampu memasuki jaringan perdagangan modern dengan standar mutu lebih tinggi.
Bagi warga, perubahan paling nyata terasa ketika cuaca tak lagi menjadi ancaman utama dalam proses produksi.
Kepala Desa Karimunting, H Iskandar, S.Pd., menyebut kehadiran Solar Dome Dryer membawa optimisme baru bagi pelaku usaha, terutama kelompok perempuan pengolah ikan.
“Dengan Solar Dome Dryer ini ibu-ibu tidak lagi khawatir kalau turun hujan untuk mengeringkan ikan. Dengan pelatihan GMP, produk kami bisa lebih bersih dan dipercaya konsumen,” ucap Iskandar.
Kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah desa, aparat kewilayahan, serta masyarakat memperlihatkan hilirisasi bukan sekadar konsep pembangunan.
Di Desa Karimunting, hilirisasi hadir melalui perubahan sederhana ikan tidak lagi hanya dijual sebagai hasil tangkapan.
Melainkan diolah menjadi produk bernilai tambah, memenuhi standar keamanan pangan, serta memiliki peluang bersaing di pasar lebih luas.
Apabila pendampingan berjalan konsisten, desa pesisir di ujung Kalimantan Barat itu berpotensi tumbuh sebagai sentra olahan perikanan modern berbasis inovasi teknologi.
Dari ruang pelatihan sederhana, harapan itu mulai dirangkai bahwa masa depan ekonomi pesisir dapat dibangun melalui ilmu pengetahuan, ketekunan warga, serta keberanian berinovasi. (Aceng Mukaram)
