Industri Keramik Antusias Sambut Rencana Bahlil Stop Ekspor Gas ke Negara Tetangga

Pabrik keramik dalam negeri.

JAKARTA, borneoreview.co – Pelaku industri dalam negeri menyambut baik rencana Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia mengurangi hingga menghentikan ekspor gas bumi ke negara tetangga. Memprioritaskan kebutuhan industri dalam negeri.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Perindustrian, Saleh Husin mengatakan, langkah tersebut menjadi indikasi keberpihakan pemerintah terhadap industri nasional.

Selama ini industri dalam negeri terutama industri keramik menghadapi kendala pasokan gas bumi.

“Pemerintah menunjukkan keberpihakan dengan mengutamakan kebutuhan industri dalam negeri,” kata Saleh Husin.

Menurut Saleh, gas bumi menjadi sumber energi utama untuk sejumlah sektor industri. Sehingga pemerintah selayaknya mengutamakan kebutuhan industri dalam negeri.

Industri Keramik

Kekurangan pasokan gas bumi terutama dirasakan oleh Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI). Industri keramik menunggu realisasi tambahan pasokan gas untuk meningkatkan kapasitas produksi.

“Ini kebijakan yang kami tunggu dan harapkan, sebagai industri penerima harga gas bumi tertentu. Industri keramik akan kembali bergairah dan siap melanjutkan tahapan ekspansi,” kata Ketua Umum ASAKI, Edy Suyanto.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia memberi sinyal tidak memperpanjang kontak ekspor produk gas bumi Indonesia ke negara tetangga.

Produksi gas bumi akan diprioritaskan untuk industri dalam negeri. Gejolak geopolitik mengharuskan pemerintah mengamankan pasokan energi nasional.

“Kalau negara-negara lain mau pandangan lain untuk kita, hati-hati. Saya juga mungkin memikirkan untuk gas tidak perpanjang untuk ekspor ke negara tetangga,” kata Bahlil.

Gangguan Pasokan Gas

Industri keramik menggunakan gas bumi sebagai bahan bakar utama proses pembakaran dan pengeringan. Proses ini memakan sekitar 35 persen dari total biaya produksi.

Industri keramik dalam negeri saat ini hanya menerima alokasi gas bumi sekitar 73 persen dari total kebutuhan riil.

Sejak September hingga Oktober 2026, terjadi pembatasan pemanfaatan dan gangguan pasokan gas oleh pihak distributor (Perusahaan Gas Negara) yang mengancam kegiatan pabrik.

Kapasitas terpasang industri keramik nasional mencapai 686 juta meter persegi dengan proyeksi tingkat utilisasi sebesar 75 persen pada tahun 2026.

Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (ASAKI) menyiapkan ekspansi kapasitas tambahan 110 juta meter persegi pada periode 2026–2028 dengan nilai investasi Rp12 triliun.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *