PONTIANAK, borneoreview.co – Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia menghadapi tantangan yang tidak ringan dalam sektor energi.
Pertumbuhan ekonomi membutuhkan pasokan listrik yang semakin besar. Digitalisasi meningkatkan konsumsi energi.
Di sisi lain, dunia juga menuntut transisi menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan, sekaligus sebagai langkah mitigasi krisis energi.
Menjawab berbagai tantangan tersebut, tentu tidak cukup hanya dengan mempertahankan kondisi yang ada.
Dibutuhkan pembangunan yang berkelanjutan, sekaligus kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman.
Maka dari itulah berbagai pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan, perlu dipahami sebagai bagian dari upaya membangun fondasi jangka panjang bagi bangsa.
Misalnya saja terkait beroperasinya 60 pembangkit baru dengan total kapasitas mencapai 16,5 gigawatt dalam lima tahun terakhir.
Hal ini menjadi bukti nyata, pembangunan yang berlangsung di sektor ketenagalistrikan nasional berjalan baik.
Pembangunan tersebut ditopang berbagai hal lain. Kehadiran pembangkit baru berjalan beriringan dengan penguatan jaringan transmisi, pembangunan gardu induk.
Juga transformasi digital yang membuat sistem kelistrikan nasional, semakin andal dan efisien.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa, transformasi yang dilakukan tidak hanya menyentuh aspek tata kelola perusahaan.
Tapi juga diwujudkan melalui pembangunan infrastruktur. Yang manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat.
Hal ini menjadi menarik karena mengingatkan bahwa pembangunan energi tidak dapat diukur hanya dari satu proyek atau satu wilayah tertentu.
Ketahanan energi dibangun melalui banyak komponen yang saling terhubung.
Pembangkit menghasilkan listrik, jaringan menyalurkannya, gardu induk mengatur distribusinya.
Sementara itu, teknologi digital memastikan seluruh sistem bekerja secara efektif dan responsif.
Maka fakta beroperasinya 60 pembangkit baru dengan kapasitas total 16,5 gigawatt, menjadi jawaban atas berbagai anggapan yang menyebut, tidak adanya pembangunan pembangkit dalam beberapa tahun terakhir.
Ketahanan Energi
Penilaian terhadap sektor kelistrikan juga harus didasarkan pada data dan fakta yang dapat diverifikasi. Yang dibangun bukan hanya aset fisik.
Melainkan fondasi ketahanan energi nasional, yang akan menopang kebutuhan masyarakat dalam jangka panjang.
Salah satu contoh yang dapat diangkat adalah peresmian Pembangkit Listrik Tenaga Air Jatigede di Sumedang, Jawa Barat, yang memiliki kapasitas 2 x 55 megawatt.
Pembangkit tersebut diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada Januari 2025 bersama 26 pembangkit energi baru terbarukan lainnya.
Kehadiran pembangkit tersebut menunjukkan upaya memperluas sumber energi yang lebih berkelanjutan, sekaligus memperkuat sistem kelistrikan nasional.

Indonesia juga memiliki kebanggaan lain, melalui beroperasinya PLTS Terapung Cirata di Jawa Barat. Yang dikenal sebagai pembangkit listrik tenaga surya terapung, terbesar di Asia Tenggara.
Kehadiran fasilitas ini tidak hanya penting dari sisi kapasitas energi. Juga menunjukkan bahwa, Indonesia mampu mengembangkan solusi energi, yang mengikuti perkembangan teknologi global.
Namun manfaat terbesar dari pembangunan energi sesungguhnya tidak selalu terlihat pada angka kapasitas yang besar.
Dampaknya justru paling terasa, dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Ketika listrik hadir secara andal, usaha mikro dapat beroperasi lebih lama. Petani dapat memanfaatkan teknologi yang meningkatkan produktivitas.
Nelayan memperoleh dukungan penyimpanan hasil tangkapan yang lebih baik. Industri kecil dapat berkembang dengan biaya operasional yang lebih efisien.
Kehadiran listrik yang andal telah menjadi katalis pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah.
Akses energi yang semakin baik membuka peluang bagi berkembangnya sektor usaha mikro, pertanian, perikanan, perdagangan.
Termasuk sektor industri kecil, yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat.
Hal tersebut mengingatkan bahwa energi bukan sekadar kebutuhan teknis, melainkan instrumen pembangunan sosial dan ekonomi.
Tidak berlebihan jika banyak negara menempatkan ketahanan energi sebagai bagian dari strategi pembangunan nasional.
Tanpa pasokan energi yang memadai, berbagai sektor sulit berkembang secara optimal.
Wilayah 3T
Dampak lain yang tidak kalah penting adalah meningkatnya akses listrik di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T.
Selama bertahun-tahun, keterbatasan akses listrik menjadi salah satu tantangan pembangunan di berbagai daerah.
Ketika listrik hadir, perubahan yang terjadi sering kali melampaui ekspektasi.
Anak-anak memiliki kesempatan belajar pada malam hari dengan penerangan yang lebih baik. Fasilitas kesehatan dapat memberikan layanan yang lebih optimal.
Masyarakat memperoleh peluang usaha baru yang sebelumnya sulit diwujudkan. Produktivitas meningkat, kualitas hidup membaik, dan kesempatan untuk berkembang menjadi lebih terbuka.
Saat ini, jutaan warga di wilayah 3T menikmati layanan listrik yang jauh lebih andal dibandingkan sebelumnya.
Manfaat pembangunan ketenagalistrikan tidak hanya tercermin dalam kapasitas pembangkit atau panjang jaringan. Juga, pada meningkatnya kualitas hidup masyarakat.
Di era digital saat ini, pembangunan infrastruktur fisik juga perlu didukung oleh transformasi sistem.
Karena itu, digitalisasi menjadi bagian penting dalam pengelolaan energi modern.
Transformasi digital yang diterapkan mulai dari sektor pembangkitan, transmisi, distribusi hingga layanan pelanggan.
Semua itu dinilai mampu meningkatkan efisiensi operasional. Sekaligus mempercepat respons dalam menjaga keandalan pasokan listrik.
Transformasi digital telah menjadi pengubah permainan dalam pengelolaan sistem kelistrikan nasional.
Digitalisasi memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih cepat, pengawasan sistem yang lebih akurat, serta pelayanan yang lebih responsif kepada masyarakat.
Sejatinya, teknologi bukan hanya alat modernisasi, tetapi juga sarana untuk menghadirkan layanan publik yang lebih baik.
Kedepan, tantangan sektor energi tentu tidak akan semakin ringan.
Pertumbuhan kebutuhan listrik, perkembangan industri, perubahan iklim, dan tuntutan transisi energi akan terus menjadi agenda besar yang harus dihadapi bersama.
Namun, pengalaman menunjukkan bahwa pembangunan yang konsisten, berbasis data, dan berorientasi pada manfaat masyarakat dapat menjadi modal penting untuk menjawab tantangan tersebut.
Maka dari itu, keberhasilan pembangunan energi tidak hanya diukur dari berapa banyak pembangkit yang berdiri. Atau, berapa kilometer jaringan yang terpasang.
Ukuran sesungguhnya adalah seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat.
Ketika listrik mampu membuka peluang usaha, mendukung pendidikan, memperkuat layanan kesehatan, dan menghadirkan harapan baru di berbagai pelosok negeri.
Maka energi telah menjalankan perannya yang paling mulia. Yaitu menjadi penerang jalan menuju masa depan yang lebih baik bagi seluruh bangsa.
*) KRT Tohom Purba, Penulis adalah Ketua Umum PLN Watch dan Ketua Umum Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS)
