Inovasi Pakan Berbasis Sawit Tingkatkan Kecernaan hingga 33 Persen, Produktivitas Sapi Dipacu

Inovasi Pakan

PONTIANAK, borneoreview.co – Di tengah upaya memperkuat integrasi perkebunan sawit dan peternakan sapi, para peneliti memperkenalkan inovasi pakan yang diklaim mampu meningkatkan kecernaan nutrisi hingga 33 persen. Terobosan ini diharapkan menjadi jawaban atas salah satu persoalan utama dalam sistem integrasi sawit-sapi (SISKA), yakni keterbatasan pakan bernutrisi tinggi bagi ternak produktif.

Dalam hamparan perkebunan sawit yang luas, rumput dan hijauan yang tumbuh di bawah tegakan memang tersedia melimpah. Namun, kualitas nutrisinya kerap belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sapi pada fase-fase penting, seperti kebuntingan, laktasi, dan pertumbuhan pedet.

Ketua CENTRAS IPB University, Prof. Nahrowi, menjelaskan bahwa kecukupan protein dan energi merupakan faktor krusial dalam meningkatkan populasi sapi di kawasan perkebunan sawit.

“Tantangan terbesar dalam peningkatan populasi sapi pada sistem integrasi sawit adalah memastikan ketersediaan nutrisi yang memadai, khususnya bagi sapi produktif,” ujarnya.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, hadir produk pakan suplemen bernama HAFSIN PELLET. Produk ini dikembangkan sebagai sumber nutrisi tambahan yang dirancang agar lebih mudah dicerna ternak. Berdasarkan hasil uji, tingkat kecernaannya meningkat sekitar 33 persen dibandingkan pakan konvensional. Dengan demikian, nutrisi dapat diserap lebih optimal dan dimanfaatkan untuk mendukung reproduksi, pertumbuhan, serta produksi susu.

Produk ini diproduksi oleh PT Hafar Daya Utama dan mulai diperkenalkan kepada pelaku usaha peternakan serta pekebun sawit sebagai solusi praktis untuk meningkatkan efisiensi sistem SISKA.

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Penggemukan Sapi Potong Indonesia (GAPENSISKA), Ahmad Surya, menilai inovasi tersebut membuka peluang baru bagi pengembangan peternakan berbasis sawit.

Menurutnya, keberhasilan integrasi sawit-sapi tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan lahan dan hijauan, tetapi juga harus ditopang teknologi pakan yang tepat.

“Dengan dukungan pakan yang lebih mudah dicerna, performa sapi dapat meningkat dan produktivitas peternak ikut terdongkrak,” katanya.

Program SISKA sendiri selama ini dipandang sebagai model strategis untuk memanfaatkan lahan perkebunan secara lebih produktif. Selain menyediakan pakan alami bagi sapi, kehadiran ternak juga membantu mengendalikan gulma dan menghasilkan pupuk organik yang bermanfaat bagi tanaman sawit.

Namun, tanpa pasokan nutrisi yang memadai, potensi sinergi tersebut belum sepenuhnya optimal. Karena itu, inovasi seperti HAFSIN PELLET dinilai penting untuk memperkuat fondasi integrasi antara subsektor perkebunan dan peternakan.

Dengan peningkatan kecernaan yang signifikan, teknologi pakan ini diharapkan dapat mempercepat pertumbuhan populasi sapi nasional, meningkatkan produktivitas peternak, dan sekaligus menambah nilai ekonomi di kawasan perkebunan sawit.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *