ITS Kembangkan Bensin dari Sawit, Potensi Hemat BBM hingga 10 Persen

Benwit

JAKARTA, borneoreview.co – Upaya mencari sumber energi alternatif terus dilakukan di tengah meningkatnya kebutuhan bahan bakar nasional. Salah satu terobosan terbaru datang dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang berhasil mengembangkan bensin berbasis kelapa sawit.

Inovasi ini dikenal dengan nama Benwit atau bensin sawit, yang diproyeksikan mampu menjadi pelengkap bahan bakar konvensional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.

Peneliti ITS mengolah minyak kelapa sawit mentah (CPO) melalui proses konversi menjadi bahan bakar dengan karakteristik menyerupai bensin. Hasilnya, bahan bakar ini dapat digunakan dengan sistem pencampuran tanpa perlu modifikasi mesin kendaraan.

Dalam penerapannya, Benwit digunakan dengan metode blending, yakni sekitar 10 persen dicampurkan ke dalam bensin konvensional. Skema ini dinilai cukup realistis untuk tahap awal implementasi.

Penggunaan campuran tersebut diperkirakan mampu menekan konsumsi BBM hingga 10 persen. Angka ini dinilai signifikan, terutama jika diterapkan secara luas di Indonesia yang memiliki konsumsi bahan bakar cukup tinggi.

Selain efisiensi, keunggulan lain dari bensin sawit ini adalah aspek keberlanjutan. Proses produksinya menghasilkan emisi yang lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil, sehingga lebih ramah lingkungan.

Teknologi yang digunakan dalam pengembangan Benwit adalah catalytic cracking, yakni metode pemecahan molekul minyak menjadi fraksi yang lebih ringan menggunakan katalis. Pendekatan ini memungkinkan konversi bahan baku sawit menjadi hidrokarbon rantai pendek yang menjadi komponen utama bensin.

Indonesia sebagai salah satu produsen kelapa sawit terbesar dunia dinilai memiliki peluang besar untuk mengembangkan bahan bakar berbasis nabati ini. Ketersediaan bahan baku yang melimpah menjadi salah satu faktor pendukung utama.

Meski demikian, tantangan tetap ada, terutama dalam hal skala produksi, kesiapan industri, serta distribusi. Diperlukan sinergi antara lembaga riset, pemerintah, dan pelaku industri agar inovasi ini dapat diimplementasikan secara optimal.

Ke depan, keberhasilan inovasi seperti Benwit tidak hanya diukur dari sisi teknologi, tetapi juga dari sejauh mana dapat diterapkan secara luas dan berkelanjutan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *