BENGKAYANG, borneoreview.co – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bengkayang mencatat jumlah penduduk Kabupaten Bengkayang Kalimantan Barat, pada 2026 mencapai 312.147 jiwa, meningkat dibandingkan proyeksi 2025 sekitar 307.800 jiwa.
Kepala BPS Kabupaten Bengkayang Guntur Prahara di Bengkayang, Rabu (30/9/2026), mengatakan peningkatan tersebut menunjukkan adanya pertumbuhan penduduk dengan laju sekitar 1,45 persen.
“Di tahun 2026 data dari BPS itu jumlah penduduknya meningkat menjadi 312.147. Jadi terjadi peningkatan dengan laju pertumbuhan penduduknya sekitar 1,45 persen,” kata Guntur.
Ia menjelaskan, angka penduduk yang diterbitkan BPS merupakan jumlah penduduk secara de facto atau berdasarkan keberadaan penduduk di suatu wilayah, bukan semata-mata berdasarkan alamat pada kartu tanda penduduk (KTP).
Menurut dia, seseorang yang secara administratif memiliki KTP dari daerah lain tetap dapat tercatat sebagai penduduk Bengkayang apabila secara faktual tinggal di wilayah tersebut sesuai konsep statistik yang digunakan BPS.
Guntur mengatakan angka, penduduk di antara pelaksanaan sensus penduduk merupakan angka proyeksi. Sensus Penduduk dilaksanakan setiap 10 tahun, sedangkan di antara dua sensus terdapat Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) yang menjadi salah satu sumber dalam memperkirakan perkembangan jumlah penduduk.
“Angka yang dikeluarkan oleh BPS adalah angka proyeksi kecuali pada saat tahun sensus. Sensus itu 10 tahun sekali,” ujarnya.
Dari sebarannya, Kecamatan Bengkayang menjadi wilayah dengan jumlah penduduk terbesar, yakni sekitar 37.300 jiwa berdasarkan data proyeksi yang telah dirilis BPS.
Sementara itu, Kecamatan Suti Semarang menjadi kecamatan dengan jumlah penduduk paling sedikit, yakni sekitar 6.400 jiwa.
Guntur mengatakan pertumbuhan jumlah penduduk tidak dapat serta-merta dikaitkan hanya dengan satu faktor. Perubahan jumlah penduduk dipengaruhi antara lain oleh kelahiran, kematian, serta perpindahan penduduk masuk dan keluar suatu wilayah.
“Jumlah kematian, kelahiran juga mempengaruhi jumlah penduduk. Misalnya lahir lebih banyak, yang meninggal sedikit, kemudian yang masuk lebih banyak dan yang keluar sedikit. Itu berpengaruh,” katanya.
Namun katanya, ia belum dapat memastikan faktor mana yang paling dominan mendorong pertumbuhan penduduk Bengkayang karena diperlukan pengolahan data lebih lanjut untuk melihat keseimbangan kelahiran, kematian, dan migrasi.
Di sisi lain, pertambahan jumlah penduduk juga perlu diikuti dengan kesiapan lapangan pekerjaan. Guntur mengatakan dampak pertumbuhan penduduk terhadap kebutuhan tenaga kerja perlu dilihat berdasarkan struktur umur penduduk.
Menurut dia, semakin besar jumlah penduduk yang masuk kelompok usia kerja, semakin besar pula kebutuhan terhadap kesempatan kerja.
“Kalau kelompok umurnya makin banyak, terutama penduduk usia kerja, otomatis diperlukan lapangan kerja yang banyak,” katanya.
Ia mengatakan kondisi tersebut menjadi penting untuk diperhatikan karena pertumbuhan penduduk tidak hanya berarti bertambahnya jumlah masyarakat, tetapi juga meningkatnya kebutuhan terhadap pekerjaan dan berbagai layanan dasar.***
