Kekeringan di Sungai Mahakam Ancam Populasi Pesut

Kekeringan Sungai Mahakam ancam populasi pesut.

TENGGARONG, borneoreview.co – Kemarau panjang yang menyebabkan berkurangnya debit Sungai Mahakam mempersempit ruang gerak pesut. Satwa endemik Kalimantan Timur ini terancam terdampar di perairan dangkal.

Puncak kemarau yang terjadi sejak Juli lalu menyebabkan beberapa bagian sungai kering sama sekali. Pesut harus berebut ruang gerak dengan tongkang dan ponton yang juga berlayar di Sungai Mahakam.

Yayasan Konservasi RASI menyebutkan, kondisi itu perlu diantisipasi dengan mengatur lalu lintas tongkang dan kapal berukuran besar yang melintasi Sungai Mahakam.

Krisis Air dan Kekeringan, Ribuan Ikan Sapu-Sapu Mati di Pati

Transportasi sungai seharusnya memiliki jeda berlayar minimal 30 menit untuk memberikan kesempatan pesut berpindah tempat. Lebar serta kedalaman tongkang dan kapal besar juga harus dibatasi agar tidak membahayakan pesut.

Ketika sungai semakin dangkal, pesut bergantung pada bagian sungai yang dalam. Persoalannya, jalur sungai yang dalam juga menjadi jalur lalu lintas tongkang.

Sehingga pesut berada di bawah jalur kapal dan tidak selalu terlihat. Selain membahayakan pesut, suara kapal juga mengganggu kemampuan sonar pesut.

Penyusutan debit air saat ini sangat berdampak terhadap habitat pesut Mahakam. Sejumlah anak sungai hingga danau yang menjadi ekosistem perairan Mahakam mulai mengalami kekeringan.

Warga Terdampak Kekeringan, Murung Raya Dirikan Posko Air Bersih

Video unggahan masyarakat bermain bola atau berwisata di dasar sungai yang mengering muncul di media sosial.

Menunjukkan bahwa penyusutan muka air membuat daya jelajah pesut Mahakam semakin terbatas. “Daya jelajahnya smakin sempit, apalagi Sungai Mahakam juga dipakai untuk aktivitas lain seperti batu bara, ponton dan kapal-kapal lain atau transportasi sungai,” kata Novitasari dari Yayasan Konservasi RASI.

Pengaturan ini diharapkan dapat memberikan ruang yang lebih aman bagi Pesut Mahakam dan para pengguna sungai lainnya. “Jika melebihi ukuran (tongkang dan ponton), bukan hanya untuk pesut, tapi juga ruang untuk para nelayan semakin sempit.”

Kemarau panjang juga berdampak terhadap ketersediaan makanan pesut Mahakam. Penyusutan air menyebabkan penyebaran ikan sebagai sumber makanan pesut ikut terganggu.

Pesut bergerak mencari makan. Ketika ikan berpindah, pesut akan mengikuti arah pergerakan ikan. Jika ikan masuk ke rawa atau anak sungai yang surut, pesut terancam terdampar dan mati.

KLH Tetapkan Dua Desa di Kaltim Jadi Lokasi Konservasi Pesut Mahakam

Kekeringan juga menyebabkan air laut masuk ke Sungai Mahakam. Ini berpotensi memengaruhi ekosistem pesut di Kalimantan Timur.

“Pesut ini kan beradaptasi khusus dengan habitat air tawar, tubuh mereka tidak memiliki mekanisme untuk membuang kelebihan garam jika berada di air asin,” tuturnya.

Yayasan Konservasi RASI meminta pengawasan terhadap keberadaan pesut Mahakam diperkuat. Informasi mengenai lokasi kemunculan pesut sangat penting agar perlindungan mamalia air tawar endemik ini dapat segera dilakukan.

Selain perlindungan pesut, RASI mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran di area gambut maupun lahan terbuka yang kering. Perusahaan yang berada di sekitar sungai dan danau juga diminta tidak membuang limbah ke air.

“Jika bertemu dengan pesut silakan laporkan segera ke pihak berwenang, mulai desa dan juga Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak,” kata Novitasari dari Yayasan Konservasi RASI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *