Kemdiktisaintek Jajaki Riset Batang Sawit Jadi Bahan Baku Etanol

Limbah batang sawit menjadi etanol.

JAKARTA, borneoreview.co – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menjajaki riset pengolahan batang sawit sebagai bahan baku etanol dan energi alternatif.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto menyampaikan rencana itu kepada Duta Besar Indonesia untuk Australia dan Vanuatu, Siswo Pramono.

Brian menyampaikan kemungkinan pengembangan teknologi pengolahan batang kelapa sawit menjadi produk bernilai tambah. Termasuk menjadi bahan baku etanol.

Batang kelapa sawit tersedia dalam jumlah besar terutama pada masa peremajaan perkebunan. Pengolahan limbah batang sawit berpotensi menghasilkan produk bernilai tambah melalui pengembangan teknologi dan penelitian lanjutan.

Sejumlah perguruan tinggi dan peneliti telah menjajaki berbagai kemungkinan pemanfaatan biomassa dari batang sawit. Produksi etanol dan energi alternatif menjadi beberapa opsi pengkajian.

Menurut Brian Yuliarto, peluang pemanfaatan batang sawit relevan dengan upaya pemerintah mencapai swasembada energi.

Pengembangan riset juga membuka kemungkinan penerapan teknologi melalui proyek percontohan.

Kerjasama Penelitian

Duta Besar Indonesia untuk Australia dan Vanuatu, Siswo Pramono menyambut penjajakan kolaborasi tersebut.

Terbuka peluang kolaborasi riset antara Indonesia dan Australia untuk mengembangkan produk dari batang kelapa sawit.

Kerja sama riset ini berpeluang menghubungkan keahlian akademik dengan kebutuhan pengembangan teknologi dan komersialisasi hasil penelitian.

Sejumlah institusi akademik dan peneliti di Australia sudah terlibat dalam penjajakan pemanfaatan biomassa tersebut.

Pengembangan teknologi membutuhkan kajian kelayakan teknis dan ekonomi. Hasil penelitian dapat ditindaklanjuti ke proyek percontohan apabila menunjukkan potensi untuk diterapkan.

Beasiswa Sawit 

Kolaborasi riset juga mencakup penjajakan peluang beasiswa bagi mahasiswa Indonesia yang ingin menempuh pendidikan tinggi di Australia.

Salah satu usulannya kemungkinan mendukung pemberian beasiswa untuk sekitar 20–25 mahasiswa Indonesia pada jenjang sarjana.

Peluang tersebut masih dalam penjajakan dan akan ditindaklanjuti sesuai mekanisme kerja sama.

Kolaborasi riset dan pendidikan mencakup pengembangan potensi batang kelapa sawit menjadi produk bernilai tambah.

Kesempatan pendidikan bagi mahasiswa Indonesia melalui kemitraan dengan perguruan tinggi di Australia juga menjadi salah satu point penjajakan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *