Kementerian Kehutanan: Jumlah Titik Panas Karhutla Berkurang

Pemadaman karhutla oleh personel TNI dan relawan.

JAKARTA, borneoreview.co – Kementerian Kehutanan melaporkan jumlah titik panas karhutla berkurang di Kalimantan dan Sumatera. Kabut asap mengganggu jarak pandang penerbangan di sejumlah bandara.

Tim gabungan terus memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah prioritas, terutama di Kalimantan dan Sumatera.

Meski jumlah titik panas terpantau menurun, operasi pemadaman dan pencegahan tetap dilakukan secara intensif. Kebakaran masih ditangani di sejumlah lokasi, serta asap memengaruhi kualitas udara dan jarak pandang di beberapa wilayah.

Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, hingga 30 Agustus 2026 pukul 21.02 WIB, kondisi titik pnas high confidence tercatat sebanyak 946 lokasi.

Jumlah itu turun 629 titik dibandingkan 29 Agustus 2026. Sebaran titik panas antara lain Kalimantan Barat: 455 titik; Kalimantan Tengah: 308 titik; Sumatera Selatan: 36 titik; Kalimantan Selatan: 18 titik; Jambi: 1 titik; dan Riau: 0 titik.

Data tersebut menunjukkan penurunan jumlah titik panas secara nasional. Namun konsentrasi titik panas masih cukup tinggi terutama di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

Kementerian Kehutanan mengingatkan bahwa titik panas merupakan indikasi berdasarkan penginderaan satelit dan tidak selalu berarti kejadian kebakaran.
Satu kejadian kebakaran juga dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot, sehingga seluruh indikasi tetap perlu diverifikasi melalui pengecekan lapangan.

Berdasarkan Laporan Ringkasan Operasi Dalkarhut per Minggu, 30 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB, tercatat 93 laporan kejadian karhutla di 12 provinsi, dengan 33 lokasi dilaporkan telah padam dan 60 lokasi masih dalam proses pemadaman.

Pada skala provinsi, penanganan terbanyak dilakukan di Kalimantan Tengah sebanyak 21 lokasi. Diikuti Kalimantan Barat 16 lokasi, Sumatera Selatan 13 lokasi, Kalimantan Selatan 11 lokasi, Jambi 9 lokasi, Riau 8 lokasi, dan Kalimantan Timur 7 lokasi.

Penanganan juga dilakukan di Sulawesi Tenggara sebanyak 3 lokasi, Sulawesi Selatan 2 lokasi, serta masing-masing satu lokasi di Sumatera Utara, Kalimantan Utara, dan Sulawesi Tengah.

Secara kumulatif sepanjang 2026, tercatat 4.801 kali operasi penanganan karhutla dengan luas areal yang ditangani seluas 38.829,46 hektare.

Pemadaman Terus Dilakukan

Tim gabungan terus melakukan penanganan melalui pemadaman darat, water bombing, patroli udara, ground check, serta kegiatan pencegahan dan pengendalian di wilayah prioritas. Operasi melibatkan Manggala Agni Kemenhut bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dan para pihak lainnya.

Dukungan operasi udara diperkuat 30 helikopter di Kalimantan dan 22 helikopter di Sumatera untuk mendukung water bombing dan patroli udara.
Selain operasi pemadaman, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) terus diupayakan pada wilayah dan waktu yang memenuhi kondisi meteorologis untuk mendukung penanganan karhutla.

Kondisi udara di sejumlah wilayah terdampak juga masih menjadi perhatian. Laporan operasi menunjukkan kualitas udara pada sejumlah titik pemantauan di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan berada dalam kondisi bervariasi dari sedang hingga berbahaya.

Dampak asap juga terlihat pada jarak pandang di beberapa bandara. Berdasarkan pemantauan BMKG pada Senin pagi, 31 Agustus 2026, Bandara Supadio, Pontianak, tercatat dalam kondisi berasap dengan jarak pandang 1,3 kilometer.

Di Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya, kondisi berasap tercatat dengan jarak pandang 1,5 kilometer pada pukul 08.00 WIB.

Di Sumatera, Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, tercatat berasap dengan jarak pandang 4 kilometer pada pukul 07.30 WIB. Sedangkan Bandara Sultan Thaha, Jambi, mencatat kondisi berasap dengan jarak pandang 5 kilometer pada pukul 08.00 WIB.

Sementara di Bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin, BMKG mencatat kondisi berasap dengan jarak pandang 3 kilometer pada pukul 09.00 WITA.

Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa penurunan jumlah hotspot belum berarti risiko karhutla telah berakhir. Pemantauan dan operasi lapangan tetap diperkuat, terutama di wilayah dengan kejadian kebakaran yang masih aktif serta wilayah yang mulai mengalami gangguan asap dan penurunan jarak pandang.

Masyarakat di wilayah terdampak asap diimbau untuk mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan BMKG, menjaga kesehatan, serta mengurangi aktivitas di luar ruang apabila kondisi udara memburuk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *