BENGKAYANG, borneoreview.co — Bukit Vandering di Kecamatan Sanggau Ledo, Kabupaten Bengkayang, menyimpan jejak salah satu sistem pertahanan Belanda pada masa Perang Dunia II.
Hingga kini, benteng beton dan jaringan parit pertahanannya, masih dapat ditemukan di kawasan tersebut.
Berdasarkan himpunan keterangan yang dilakukan pegiat sejarah Alex dari sejumlah warga lokal pada 1990, benteng itu dibangun Belanda, untuk melindungi aset strategis. Yakni, lapangan udara militer di Sanggau Ledo.
Menurut penuturan warga, Belanda memilih Bukit Vandering, karena memiliki hutan lebat dan topografi sangat ekstrem.
Medan itu dianggap, mampu menjadi benteng alami yang sulit ditembus pasukan lawan.
Dalam ilustrasi strategi yang dihimpun dari berbagai kesaksian warga, jalur berwarna biru menunjukkan jalan raya Singkawang–Kota Bengkayang, hingga Lapangan Udara Belanda di Sanggau Ledo.
Jalur tersebut menjadi akses utama mobilisasi pasukan dan logistik.
Warga mengisahkan, sebagian orang pribumi lebih dahulu dikirim mendekati kawasan pertahanan, dengan penyamaran menyerupai pasukan Dai Nippon.
Pada ilustrasi, pergerakan itu ditandai dengan warna kuning sebagai bagian dari taktik umpan.
“Orang-orang itu lebih dulu masuk untuk melihat keadaan pertahanan Belanda sebelum pasukan utama bergerak,” ujar Alex, mengutip hasil himpunan keterangan warga yang ia lakukan pada 1990.
Setelah kondisi pertahanan dipetakan, pasukan Dai Nippon bergerak dari berbagai arah.

Dalam ilustrasi, manuver pengepungan itu ditandai dengan panah berwarna merah. Yang mengarah ke pusat pertahanan Belanda di Bukit Vandering.
Warga menuturkan, benteng-benteng Belanda saling terhubung melalui parit pertahanan.
Jalur yang ditandai warna hijau, memungkinkan perpindahan pasukan dari benteng terdepan, menuju benteng berikutnya tanpa harus keluar ke area terbuka.
Meski demikian, sistem pertahanan berlapis tersebut disebut tidak mampu menahan tekanan pengepungan yang dilakukan dari beberapa arah secara bersamaan.
Menurut Alex, sebagian benteng dan parit pertahanan itu, masih dapat dijumpai hingga sekarang.
Struktur beton dan jalur paritnya, menjadi bukti bahwa kawasan tersebut, pernah menjadi salah satu titik pertahanan penting Belanda di Kalimantan Barat.
Himpunan kesaksian warga itu menggambarkan, keberhasilan pasukan Dai Nippon, menurut tradisi lisan setempat, bukan semata karena kekuatan persenjataan.
Melainkan juga penguasaan medan, penyamaran, dan strategi pengepungan yang memanfaatkan kondisi alam Bukit Vandering.(BR-01)***
