MALANG, borneoreview.co – Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (Apolin) mendorong UMKM masuk dalam ekosistem rantai pasokan industri oleokimia sawit.
Ketua Umum Apolin, Markus Susanto mengatakan 70 persen dari total produksi oleokimia nasional untuk memenuhi kebutuhan ekspor.
Baru sekitar 30 persen yang terserap industri produk turunan sawit dalam negeri. Sehingga masih terbuka lebar peluang pemanfaatan oleokimia untuk berbagai produk konsumsi.
Langkah strategis itu untuk memperkuat serapan pasar domestik produk turunan sawit. Selama ini industri oleokimia menopang devisa ekspor sebasar Rp108 triliun per tahun.
Pasar Terbuka Luas
Luasnya ceruk pasar dalam negeri membuka peluang masif bagi UMKM untuk mengolah bahan mentah oleokimia. Produk oleokimia antara lain fatty acid, soap noodle, dan gliserin.
Produk oleokimia merupakan komponen utama barang kebutuhan harian, mulai dari sabun, kosmetik, sampo, hingga deterjen.
“Besarnya daya serap ini membuktikan keterkaitan erat antara industri turunan sawit dengan penguatan sektor usaha kecil,” kata Markus Susanto.
Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, menegaskan bahwa sawit memiliki potensi sedikitnya 200 jenis produk turunan.
Daya Saing UMKM
Produk turunan sawit siap diolah menjadi barang jadi maupun bahan baku pendukung manufaktur kreatif.
“Pemanfaatan bahan berbasis sawit membuka peluang bagi UMKM untuk meningkatkan daya saing melalui inovasi produk oleofood, kerajinan, hingga perawatan tubuh,” kata Helmi Muhansyah.
Menurut Helmi, sektor sawit saat menyumbang 9 persen dari total ekspor non-migas nasional. Keterlibatan UMKM dapat memperkokoh hilirisasi energi dan penyerapan tenaga kerja.
Nilai ekspor oleokimia Indonesia mengalami peningkatan signifikan. Dari US$2,63 miliar pada 2020, menjadi US$5,4 miliar pada tahun-tahun berikutnya.
Nilai Potensi Ekspor
India, China, dan negara kawasan Eropa merupakan pasar utama tujuan ekspor produk oleokimia.
Volume ekspor produk sawit Indonesia secara umum ke India termasuk fantastis pada bulan Februari 2025. Naik 245 persen dengan total pengiriman 112.000 ton untuk jenis tertentu.
Sedangkan jumlah serapan oleokimia domestik berkisar 170.000 hingga 195.000 ton per bulan. Jumlah akumulatif produk turunan sawit itu mencapai 2,1 hingga 2,3 juta ton per tahun.
Dalam struktur konsumsi minyak sawit mentah dalam negeri, industri oleokimia menempati porsi terkecil ketiga setelah biodiesel dan pangan (minyak goreng).
Pada laporan kuartal II tahun 2026, serapan oleokimia sempat menyentuh angka 173.000 ton. Sedangkan pada periode Agustus 2026 tercatat berada pada kisaran 192.000 ton.***
