BANGKA, borneoreview.co – Hujan turun sejak pagi di Dusun Kedimpal, Desa Baskara Bakti. Tanah becek di lokasi pembuangan tailing tambang timah kini berubah menjadi kubangan lumpur.
Bagi banyak orang tempat ini tak ubahnya neraka. Kotor, lembab, dan tercemar berbagai kandungan logam berat yang membahayakan kesehatan.
Tapi bagi warga sekitar, tempat ini surga sumber mata pencaharian. Sore itu sekitar 50 orang berkumpul di dekat sakan.
Sakan adalah wadah atau saluran bertingkat terbuat dari kayu yang dipakai untuk mencuci dan memisahkan biji timah dari pasir.
Struktur kayu non permanen ini paling sering dijumpai dalam aktivitas penambangan timah rakyat.
Mekanisme penyaringan sederhana pada sakan, bertujuan memisahkan biji timah dari lumpur dan pasir.
Biji timah yang memiliki massa jenis lebih berat dari pasir biasa akan mengendap di saringan atau undakan sakan.
Lokasi ini bukan tambang timah resmi. Warga berkumpul mencari peruntungan dari sisa limbah yang dibuang pabrik.
Melimbang. Begitu mereka menyebut kegiatan mencari sisa biji timah dari timbunan limbah industri (tailing). Hasil melimbang dikumpulkan untuk kemudian dijual ke pengepul.
Jumlah penambang bakal bertambah saat harga timah melonjak. Harga timah hasil melimbang tergantung dari kandungan kadar SN.
Untuk kadar SN 70 persen hingga 73 persen dihargai Rp200.000 sampai Rp300.000 per kilogram. Sedangkan hasil tambang dengan kadar SN 100 persen dihargai Rp260.000 per kilogram.
Tapi karena warga melimbang di lokasi limbah pabrik, otomatis kadar SN-nya belum murni. Paling mahal dihargai Rp110.000 hingga Rp130.000 per kilogram di tingkat pengepul liar.
Keluarga Miskin
Kegiatan melimbang melibatkan nyaris seluruh anggota keluarga. Termasuk anak-anak dan perempuan.
Menggunakan pengeruk dan ember anak-anak ikut menyerok biji timah yang tersaring sakan. Memisahkan ampas biji timah, sementara kaki mereka terendam limbah pasir timah selama berjam-jam.
Kebanyakan anak ikut bekerja karena disuruh oleh orang tua. Pekerja anak mengalami resiko kehilangan waktu belajar, bermain, dan rentan gangguan kesehatan.
Selain dinikmati sendiri, upah pekerja anak biasanya juga dipakai untuk membantu pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Di negara berkembang termasuk Indonesia, tidak dipungkiri banyak anak terpaksa bekerja karena dorongan ekonomi.
Rata-rata penambang timah rakyat termasuk masyarakat miskin. Penghasilan mereka yang sangat rendah menyebabkan anak terpaksa mengikuti jejak orang tua bekerja.
Budaya masyarakat juga memaklumi anak bekerja untuk membantu orang tua. Bahkan ada anggapan bahwa anak yang tidak mau membantu bekerja, dianggap sebagai anak yang tidak berbakti.
Mereka dididik sejak usia dini untuk bekerja membantu orang tua. Faktor ini biasanya juga dipengaruhi oleh lingkungan anak yang terbiasa melihat aktivitas menambang timah setiap hari.
Kesadaran yang rendah soal pentingnya pendidikan juga mendorong anak bekerja di tambang timah rakyat. Mereka beranggapan untuk apa bersekolah tinggi yang penting dapat bekerja.
Sisa Rezim Orde Baru
Jaringan Advokasi Tambang pernah meluncurkan kajian kritis mengenai aktivitas tambang timah inkonvensional di Bangka Belitung.
Mereka menyebut tambang timah rakyat muncul atas kebijakan PT Timah dan PT Koba Tin pada masa Orde Baru.
Perusahaan menggandeng mitra atau kontraktor lokal untuk ikut menambang dan memenuhi target produksi.
PT Timah menyerahkan pengelolaan lokasi tambang yang kurang produktif kepada masyarakat. Perusahaan kemudian menampung hasilnya dan mengklaim sebagai hasil produksi perusahaan.
“PT Timah yang pertama kali kompromi dalam konteks yang menguntungkan korporasi. Jadi dalam konteks (hasil tambang) tidak ekonomis, lebih murah menerima dari para penambang rakyat,” kata Siti Maemunah, peneliti tambang timah di Bangka Belitung.
Pada masa Reformasi, aktivitas pertambangan yang semula dimonopoli PT Timah dan PT Koba Tin mengalami desentralisasi.
Sehingga jumlah penambangan timah inkonvensional bertambah pesat dan tidak terkontrol. Mereka mulai menambang di luar wilayah pertambangan.
PT Timah kemudian menghentikan kebijakannya karena kelebihan stok cadangan timah. Namun, kondisi ini tidak menghentikan para penambang timah ilegal mencari alternatif penjualan lain.
Hukum ekonomi dan desakan kebutuhan hidup, kemudian menyebabkan tambang timah rakyat dan praktik pekerja anak menjadi lingkaran setan yang terlembagakan.***
