WEST KORDOFAN, borneoreview.co – Suara gemuruh mengejutkan para pekerja tambang emas tradisional Al Zaraa di Wilayah Nuhud, Sudan. Operasional tambang skala kecil dan situasi perang menambah rentan keselamatan para pekerja.
Runtuhnya salah satu lubang tambang, segera memicu longsor di sejumlah lubang tambang lain yang saling terhubung. Hingga Sabtu (19/9), para pekerja dan warga berhasil mengevakuasi 82 jenazah.
Puluhan pekerja lainnya diperkirakan masih terkubur di bawah reruntuhan. Sementara operasi penyelamatan menghadapi keterbatasan alat berat di tengah perang yang masih berlangsung.
Operasi pencarian berlangsung sulit. Lokasi tambang berada lebih dari 30 meter di bawah permukaan tanah. Sementara tim penyelamat hanya memiliki satu forklift untuk mengangkat tanah dan bebatuan.
Seorang penyintas, Khairal-Sayed Gabara mengatakan bahwa para pekerja dan warga berusaha melakukan pencarian menggunakan peralatan seadanya. Tidak tersedia mesin yang memadai untuk membersihkan reruntuhan.
Sekitar 50 orang pekerja tambang mengalami luka-luka. Otoritas tambang tidak dapat memastikan jumlah pasti pekerja yang masih terjebak dalam lorong tambang.
Dua penyintas mengatakan, operasi penyelamatan dilakukan sepanjang siang dan malam, menggunakan peralatan sederhana yang biasanya dipakai untuk aktivitas penambangan.
Tambang Al Zaraa merupakan salah satu dari ribuan lokasi pertambangan emas skala kecil dan informal di Sudan. Lokasi tersebut berada di wilayah yang dikuasai kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF).
Kelompok paramiliter ini berperang melawan militer Sudan sejak April 2023. Kondisi konflik membuat akses terhadap peralatan penyelamatan dan layanan darurat semakin terbatas.
Kecelakaan tambang mematikan bukan kejadian baru di Sudan. Negara tersebut merupakan salah satu produsen emas utama di Afrika, tetapi sebagian besar produksinya berasal dari pertambangan artisanal yang mengandalkan peralatan sederhana dan skala kecil.
Runtuhnya tambang emas tradisional Al Zaraa, menambah panjang catatan kecelakaan kerja memilukan di Wilayah Nuhud. Kecelakaan tambang pada 2021 menewaskan 38 orang, sedangkan runtuhnya tambang pada 2023 menyebabkan 14 pekerja tambang tewas.***
