Lori Gantung dan Bak Blendung, Sisa Tambang Emas Belanda di Cikotok Banten

Ilustrasi tambang emas Cikotok, Lebak, Banten.

LEBAK, borneoreview.co – Pada pucak jayanya, sekitar tahun 1939, tambang emas Cikotok pernah jadi yang terbesar pada masa pemerintahan kolonial Belanda.

Tersembunyi di antara bukit-bukit cadas dengan lembah yang sempit, sisa-sisa fasilitas penambangan emas masih bisa dilihat di kawasan Cikotok, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten.

Lori gantung, lengkap dengan struktur bangunan baja penopangnya, menjadi bukti dari perut bumi Kawasan Hutan Lindung Halimun-Salak pernah ditambang logam mulia.

Tambang emas Cikotok beroperasi sejak 1936. Butuh 77 tahun penelitian oleh pemerintah kolonial Belanda untuk memastikan kadar endapan emas di kawasan tersebut.

Ahli geologi berkebangsaan Belanda, W.F.F. Oppenoorth melakukan eksplorasi dan pemetaan potensi emas di Cikotok sejak tahun 1924 hingga 1930.

Butuh waktu tambahan 3 tahun sebelum Belanda akhirnya yakin untuk mendirikan perusahaan NV Mijnbouw Maatschappij Zuid Bantam sebagai pengelola tambang.

Pada tahun yang sama perusahaan mulai membangun fasilitas pendukung seperti perumahan direksi dan karyawan, kantor, gudang, serta rumah sakit.

Perusahaan juga mendirikan laboratorium mandiri dan fasilitas air bersih serta pembangkit listrik tenaga air untuk mendukung kegiata tambang.

Bak Blendung

Air bersih untuk kebutuhan karyawan ditampung pada bak besar tertutup di Cigarokrok. Warga setempat menyebutnya “bak blendung” karena bentuknya atasnya yang melengkung menyerupai kubah.

Dulu hanya karyawan yang tinggal di kompleks perumahahan dinas yang bisa menikati air bersih dari bak Cigarokrok. Airnya berasal dari mata air Ci Burial yang disalurkan melalui pipa sepanjang 1,5 kilometer.

Di kampung Pasirgombong, ada satu lagi bak penampungan air yang dipakai untuk penggerak turbin pembangkit listrik tenaga air.

Listrik yang diproduksi di rumah turbin dialirkan ke rumah karyawan, perkantoran dan fasilitas penambangan lainnya.

Air untuk pembangkit listrik diambil dari sungai Ci Madur yang bagian hulunya dibendung. Sebelum masuk bak penampungan air disaring untuk memilah sampah.

Lori gantung dibangun karena jarak antara pusat-pusat penambangan dengan pabrik pengolahan jaraknya cukup jauh. Lori gantung mengatasi kendala lokasi tambang yang berada di antara bukit-bukit batu.

Jarak Pasirgombong ke Cikotok 5 kilometer. Sedangkan ke Cirotan 19 kilometer. Kondisi geografis Cikotok merupakan kawasan perbukitan terjal dengan lembah yang sempit.

Lama setelah tambang ditutup, masih tersisa bekas struktur stasiun lori gantung. Tiang-tiang bekas penyangga kabel lori gantung sekarang dipakai PLN menjadi tiang jaringan listrik tegangan tinggi.

Tambang Mesiu

Ketika Jepang masuk dan mengambil alih kekuasaan dari Belanda, pengelolaan tambang emas Cikotok berada di bawah perusahaan Mitsui Kosha Kabushiki Kaisha.

Di Cikotok, Jepang tidak menambang emas. Mereka mencari biji timah hitam sebagai bahan dasar mesiu yang dipakai untuk keperluan perang.

Setelah perang kemerdekaan berakhir, tambang emas Cikotok dikuasai oleh Pemerintah Republik Indonesia di bawah pengawasan Djawatan Pertambangan Pusat.

Tahun 1948, tambang emas Cikotok kembali diambil alih Belanda untuk yang kemudian diserahkan kepada perusahaan yang semua mengelolanya: NV Mijnbouw Maatschappij Zuid Bantam.

Tambang emas Cikotok kemudian dijual kepada NV Perusahaan Pembangunan Pertambangan yang saham utamanya dipegang Bank Industri Negara.

Sejak tahun 1974, PT Aneka Tambang menjadi pengelola dan pengendali pertambangan emas di Cikotok.

Eksplorasi emas secara terus menerus menyebabkan kandungan emas di Cikotok menipis. Keuntungan penambangan tidak lagi cukup untuk menutup biaya operasional.

Alhirnya pada 28 September 2005 aktivitas pertambangan resmi ditutup. Tapi produksi baru benar-benar berhenti total pada tahun 2008.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *