Membasmi Hama Apogonia, Musuh Petani Pada Masa Peremajaan Kelapa Sawit

Ilustrasi penanganan hama tanaman kelapa sawit.

PEKANBARU, borneoreview.co – Serangan hama pada masa peremajaan kebun, menjadi periode paling kritis bagi petani kelapa sawit. Tanaman belum bisa panen dan rawan terserang penyakit.

Kumbang Apogonia menjadi hama sawit paling menakutkan bagi petani pada masa tanaman belum menghasilkan (TBM).

Serangga hitam bercangkang keras ini aktif pada malam hari. Sepanjang siang bersembunyi dalam tanah dan keluar mencari makan saat hari mulai gelap.

Penyemprotan pada jam kerja normal sering kali tidak tepat sasaran. Petani perlu mencari cara lain untuk membasmi serangga satu ini.

Kumbang Apogonia dewasa, sepenuhnya nocturnal. Kumbang keluar dari tanah saat senja, terbang mencari pucuk daun muda untuk dimakan. Lalu bersembunyi sebelum fajar.

Kebersihan Kebun

Larvanya hidup di dalam tanah. Memakan bahan organik yang membusuk, juga sesekali akar muda. Blok kebun sawit yang jarang dibersihkan menjadi sarang populasi kumbang Apogonia.

Serangan hama ini biasanya berlangsung cepat. Populasi kumbang dewasa dapat meledak dalam waktu singkat, lalu perlahan berkurang.

Tanpa pemantauan kebun secara rutin, petani kesulitan mendeteksi dan mengantisipasi pola serangan kumbang Apogonia.

Daun yang rusak akan menurunkan kapasitas fotosintesis, sehingga pertumbuhan terhambat. Pada fase tanaman muda, kegagalan pertumbuhan awal menyebabkan panen pertama terlambat dan potensi produksi berkurang.

Serangan parah kumbang Apogonia pada fase bibit dapat mematikan tanaman sawit. Menggagalkan program peremajaan perkebunan sawit.

Perangkap Cahaya

Kumbang ini tertarik kuat pada cahaya (fototaksis positif). Perilaku alami ini menjadi celah membasmi kumbang secara massal, murah, dan ramah lingkungan.

Kumbang dewasa yang keluar malam hari akan terbang menuju sumber cahaya. Sinyal navigasi kumbang ini terganggu oleh sinar lampu -terutama lampu ultraviolet.

Ketika terbang mendekat, kumbang menabrak perisai lampu. Kemudian jatuh ke corong dan terjebak dalam wadah berisi deterjen.

Deterjen merusak tegangan permukaan air sehingga kumbang tidak dapat mengapung dan tenggelam.

Berdasarkan uji coba lapangan, kumbang Apogonia paling tertarik pada cahaya lampu ungu. Dalam satu periode uji lapangan lampu cahaya ungu menjebak 1.562 ekor kumbang.

Sedangkan lampu cahaya biru, merah, dan kuning pling sedikit menjebak kumbang Apogonia (360 kumbang dewasa).

Monitoring Populasi

Kelebihan perangkap cahaya ini adalah mampu menjebak kumbang jantan dan betina sekaligus. Sehingga memutus siklus bertelur.

Perangkap cahaya juga dapat menjadi alat monitoring menghitung jumlah populasi kumbang dalam satu areal. Sehingga memberi kesempatan bagi petani untuk mengantisipasi ledakan populasi.

Kekurangan alat pengendali hama perangkap cahaya, hanya menangkap kumbang dewasa. Sehingga perlu perlakuan lain untuk membasmi larva yang bersembunyi dalam tanah.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *