BANJARMASIN, borneoreview.co – Udara Banjarmasin Kalimantan Selatan terasa lebih pekat dari biasanya pada penghujung Agustus. Bukan hanya kabut asap kiriman, melainkan aroma ketegangan yang menyelinap di sela-sela gedung.
Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bergerak senyap, membedah delapan titik lokasi di jantung kota dan Banjarbaru.
Mereka menyisir ruang-ruang yang diduga menyimpan bisik-bisik busuk terkait restitusi pajak. Sebuah operasi senyap menggetarkan kursi para pemilik modal.
Ledakan informasi itu akhirnya tersulut. Juru bicara KPK, Budi Prasetyo, membenarkan bahwa sasaran penggeledahan adalah entitas bisnis raksasa di sektor pertambangan.
Namanya masih disimpan rapat dalam laci penyidikan. Akan tetapi, arah jarum jam investigasi mulai mengunci satu nama besar. Kabar itu mengerucut pada Grup Adaro, konglomerasi batu bara milik taipan Boy Thohir.
Peta Kekuasaan Tersingkap
Rangkaian peristiwa ini bukan sekadar kabar rutin. Sebelumnya, KPK melayangkan panggilan terhadap Jul Seventa Tarigan, Kepala Pejabat Pajak PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI).
Jadwal pemeriksaan tertanggal 19 Agustus menjadi gerbang awal masuknya nama Adaro ke pusaran perkara. AADI bukan perusahaan kemarin sore ia adalah induk yang mencengkeram urat nadi bisnis batu bara termal.
Melalui Pajak PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), mereka mengoperasikan tambang raksasa di Kalimantan Selatan.
Budi menegaskan, delapan titik yang diacak-acak penyidik itu bukan lokasi sembarangan. Semuanya adalah kantor dan kediaman milik wajib pajak di bawah naungan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Madya Banjarmasin.
Di sinilah benang kusut itu diurai. Para penyidik tidak hanya membuka laci meja, tetapi juga mengangkut perangkat elektronik, mengikat bundel dokumen, dan mengamankan sejumlah uang dari tangan para pegawai pajak.
Drama di Balik Meja Pajak
Budi Prasetyo menyiratkan kecurigaan yang makin menebal. Proses pemeriksaan pajak di KPP Banjarmasin kini menjadi sorotan utama.
Bagaimana mekanisme itu dijalankan? Adakah negosiasi gelap di balik tumpukan berkas restitusi? Penyidik tengah meraba setiap lekukan prosedur untuk menemukan di mana letak daging korupsi itu disembunyikan.
“Kami sedang mendalami proses mekanismenya,” ujar Budi.
Dokumen-dokumen yang disita kini menjadi kepingan teka-teki. Tim penyidik harus memilah mana yang sekadar kertas usang dan mana yang menjadi kunci pembuka jeruji besi.
Telaah mendalam sedang berlangsung. Setiap lembar bukti dinilai, dicocokkan dengan konstruksi perkara yang telah dirancang rapi.
Hingga kini, KPK masih menutup rapat identitas pasti perusahaan yang digeledah. Namun, publik bukanlah penonton pasif. Ketika nama Adaro mulai berkelindan dengan jadwal pemeriksaan saksi, spekulasi pun menjelma menjadi keyakinan.
Budi hanya menegaskan bahwa penggeledahan menyasar pihak swasta. Mereka adalah para pemilik Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) yang terdaftar di KPP Banjarmasin.
Di balik gemerlap bisnis batu bara, kini terbuka kemungkinan adanya permainan angka yang merugikan kas negara.
Operasi pada 26 hingga 28 Agustus ini membuktikan bahwa KPK tidak berhenti pada gebrakan. Mereka menelusuri jejak dari kantor megah hingga ke rumah pribadi.
Banjarmasin dan Banjarbaru Pulau Kalimantan bagian selatan itu menjadi saksi bisu atas perburuan bukti yang berlangsung tanpa ampun.
Kasus ini menyisakan pertanyaan besar, seberapa dalam kaki konglomerasi tambang tertanam di rawa-rawa korupsi perpajakan?***
