BULUKUMBA, borneoreview.co – Galangan kapal tradisional Phinisi menyimpan jejak ketangguhan nenek moyang Nusantara mengarungi samudra. Bangsa maritim yang perlahan melupakan akar sejarahnya.
Kejayaan maritim sejak zaman kerajaan Sriwijaya, Majapahit, Singasari dan Demak tidak lepas dari ketangguhan kapal layar dalam menjelajah lautan.
Kapal-kapal Phinisi dikabarkan sudah melanglang buana hingga China dan Afrika, jauh sebelum bangsa Portugis dan Spanyol menginjakkan kaki di pulau rempah di Ternate dan Tidore juga Banda.
Modernisasi Kapal Ikan yang Berkeadilan
Kapal buatan masyarakat Bugis, menjelajah hingga Srilanka, Filipina, Kamboja dan Australia Utara pada zaman keemasan Kerajaan Gowa abad XVI dan XVII.
Bukti ketrampilan nenek moyang kita membangun perahu-perahu besar, masih bisa dilihat di pusat pembuatan kapal tradisional legendaris di Tana Beru, Bonto Bahari, Bulukumba, Suawesi Selatan.
Di wilayah pesisir yang dijuluki “Bumi Phinisi” itu para perajin kapal masih menjaga tradisi membangun kapal-kapal kayu. Para Panrita Lopi -sebutan untuk ahli pembuat perahu- membangun kapal bermodalkan ingatan dan pengalaman turun temurun.
Mereka masih menjaga tradisi hari baik untuk menentukan kapan menebang pohon yang akan dijadikan bahan baku kapal. Pilihannya antara kayu besi, bikti, kandole, dan jati.
Kayu-kayu itu dipilih karena kedap air, tidak mudah pecah dan memiliki daya susut yang relatif kecil. Proses perakitan kapal masih menggunakan pasak kayu sehingga bagian-bagian bisa menyatu.
Kapal Cantrang: Gurita Masalah di Laut Kalbar
Tidak hanya sebelum proses pembuatan, saat peluncuran kapal Phinisi, para Panrita Lopi juga menggelar upacara adat. Upacara maccera lopi atau mensucikan perahu ditandai dengan penyembelihan binatang.
Berat kapal Phinisi bisa mencapai bobot 100 hingga 200 ton, sehingga memerlukan banyak orang dalam proses pembuatan. Selain Panrita Lopi, pembuatan kapal Phinisi juga melibatkan orang-orang yang memiliki keterampilan khusus yang biasa disebut punggawa (ahli pembuat kapal).
Mereka mewariskan pengetahuan membuat kapal kayu menggunakan sistem magang kepada anak keturunan sehingga tetap menjaga kelestarian warisan budaya.
Phinisi merupakan nama kapal layar jenis sekunar dengan dua tiang dan tujuh bentang layar. Ada dua jenis kapal Phinisi yaitu lamba atau dan palari.
Phinisi lamba adalah perahu modern yang sudah dilengkapi motor diesel. Sedangkan Phinisi palari merupakan bentuk awal kapal yang berukuran lebih kecil dengan lunas melengkung.
Desa Sungai Bakau di Tanah Laut Jadi Kampung Bahari Nusantara
Phinisi memiliki beberapa bagian kapal yaitu anjong, sombala, tanpasere, cocoro pantara, cocoro tangga, dan tarengke. Baik pada Phinisi palari maupun lamba, jurumudi mengendalikan kapal dari anjong (anjungan).
Seiring kemajuan zaman, kapal-kapal Phinisi tidak lagi mendominasi jalur laut Indonesia. Perusahaan pelayaran lebih memilih kapal modern yang memiliki kapasitas angkut lebih besar dan kecepatan jelajah lebih efisien.
Perusahaan milik negara yang bergerak di bidang pembuatan kapal, PT PAL Indonesia sempat melirik kerja sama membangun Phinisi sebagai kapal perintis mengangkut logistik ke pulau-pulai kecil.
Namun konsentrasi PT PAL lebih pada pembuatan kapal-kapal kebutuhan pertahanan militer. PT PAL diarahkan menjadi ujung tombak pertahanan maritim.
Ketika Kampung Nelayan Menolak Takdir Terpinggirkan
Saat ini mereka fokus menggarap proyek-proyek strategis dengan teknologi tinggi, seperti pembangunan kapal selam Scorpene Evolution berteknologi litium-ion, bekerja sama dengan Perancis. Serta memproduksi kapal-kapal perang jenis Frigate dan Landing Dock.
Tidak memproduksi kapal penumpang dan kapal kargo, PT PAL yang ditunjuk sebagai anchor campony hanya kebagian merawat dan mengurus perbaikan kapal-kapal milik BUMN seperti Pertamina, Pelni, dan ASDP.
