Pontianak, Manuskrip dan Penanda Sejarah Kota yang Terlupakan

Manuskrip Kuno

Pontianak – Di balik pesatnya pembangunan Kota Pontianak, tersimpan jejak sejarah yang nyaris luput dari perhatian. Padahal, jejak sejarah itu merupakan penanda dan sejarah kota.

Bukan berupa bangunan tua atau benteng peninggalan kolonial. Melainkan ribuan manuskrip kuno yang selama ratusan tahun, menjadi saksi perjalanan Islam, Kesultanan Pontianak, hingga kehidupan masyarakat Melayu di Kalimantan Barat.

Sebagian naskah itu, kini tersimpan di rumah-rumah keluarga. Sebagian lainnya, mulai rapuh dimakan usia. Padahal, manuskrip itu, adalah jejak dan sejarah tak terpisah, dari perjalanan Kota Pontianak.

Manuskrip-manuskrip tersebut, tidak hanya berisi mushaf Al-Qur’an tulisan tangan. Juga kitab-kitab keagamaan, surat-menyurat kerajaan, rajah, jimat, silsilah keluarga, hingga catatan hukum adat dan fikih, yang pernah menjadi pedoman masyarakat.

Banyak di antaranya ditulis menggunakan aksara Arab Melayu atau Jawi. Kini, semakin sedikit orang mampu membacanya.

Ironisnya, keberadaan manuskrip bersejarah itu, belum sepenuhnya terdokumentasi secara baik. Sejumlah koleksi masih disimpan secara pribadi, tanpa standar konservasi yang baik.

Kelembapan udara, rayap, jamur, hingga minimnya pengetahuan mengenai perawatan naskah, menjadi ancaman nyata terhadap keberlangsungan warisan budaya tersebut.

Di tengah kondisi itu, masih ada segelintir orang yang memilih mengabdikan hidupnya untuk menjaga peninggalan sejarah tersebut.

Salah satunya adalah Saleh, pemerhati manuskrip kuno di Pontianak. Ia dikenal luas sebagai keturunan langsung Mufti Kesultanan Pontianak, Syekh Serwani.

Selama puluhan tahun, ia mengumpulkan, merawat, dan mempelajari berbagai manuskrip peninggalan ulama dan keluarga Kesultanan.

Manuskrip ini bukan sekadar kertas tua. Di dalamnya tersimpan ilmu, sejarah, identitas, bahkan perjalanan dakwah Islam di Kalimantan Barat.

“Kalau tidak dijaga sekarang, generasi berikutnya hanya akan mendengar ceritanya, tanpa pernah melihat bukti sejarahnya,” kata Saleh, saat ditemui di kediamannya.

Menurut Saleh, koleksi yang dirawatnya meliputi mushaf Al-Qur’an tulisan tangan, kitab-kitab klasik, rajah, jimat tradisional, naskah doa, hingga berbagai dokumen keluarga yang memiliki nilai sejarah tinggi.

Barang itu, sebagian besar diwariskan secara turun-temurun dari leluhur, yang pernah berperan dalam perkembangan Islam di Pontianak.

Sebagai keturunan langsung Syekh Serwani, Saleh menegaskan, ia memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan warisan intelektual tersebut, tidak hilang ditelan zaman.

Ia menilai, manuskrip bukan hanya milik keluarga tertentu. Melainkan bagian dari sejarah kolektif masyarakat Kalimantan Barat yang harus dipelajari dan dilestarikan.

“Kalau manuskrip rusak, yang hilang bukan hanya bendanya. Tapi juga pengetahuan yang terkandung di dalamnya,” tuturnya.

Banyak informasi tentang sejarah Pontianak yang justru tidak ditemukan dalam buku-buku modern, tetapi masih tersimpan di naskah kuno, ujarnya melanjutkan.

Namun, upaya pelestarian itu bukan tanpa tantangan. Perhatian terhadap konservasi manuskrip di tingkat masyarakat masih tergolong minim.

Tidak sedikit pemilik naskah yang menyimpan koleksinya di lemari biasa, tanpa pengaturan suhu dan kelembapan.

Bahkan, ada pula yang menjual manuskrip kuno kepada kolektor luar daerah, karena tidak mengetahui nilai sejarah yang dimilikinya.

Padahal, berbagai manuskrip tersebut berpotensi menjadi sumber primer bagi penelitian sejarah, filologi, hingga perkembangan hukum Islam dan budaya Melayu di Kalimantan Barat.

Para peneliti, selama ini menilai manuskrip lokal memiliki nilai akademik tinggi, karena menyimpan informasi yang tidak tercatat dalam arsip kolonial maupun literatur modern.

Saleh berharap pemerintah daerah, perguruan tinggi, lembaga arsip, dan masyarakat dapat membangun kerja sama untuk mendata, mendigitalisasi, sekaligus mengonservasi manuskrip yang masih tersebar di berbagai wilayah Kalimantan Barat.

Menurutnya, digitalisasi menjadi langkah penting, agar isi naskah tetap dapat dipelajari. “Meski kondisi fisiknya terus menua,” ujarnya.

Warisan sejarah tidak selalu hadir dalam bentuk bangunan megah, atau benda-benda yang dipamerkan di museum. Di Pontianak, sejarah juga hidup dalam lembar-lembar manuskrip yang diam menyimpan perjalanan panjang para ulama, sultan, dan masyarakat Melayu.

Selama masih ada sosok, seperti Saleh yang mendedikasikan hidupnya menjaga peninggalan itu, harapan agar memori sejarah Pontianak tetap lestari masih terbuka. Namun, tanpa perhatian yang lebih serius dari berbagai pihak.

“Bukan tidak mungkin, generasi mendatang hanya akan mengenal manuskrip-manuskrip tersebut, sebagai cerita tentang warisan yang pernah ada, tetapi gagal diselamatkan,” tutur Saleh dengan lirih dan menerawang.(BR-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *