Reaktivasi Sumur Idle Bisa Dongkrak Produksi Migas Nasional

sumur idle

JAKARTA, borneoreview.co – Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pemboran Minyak, Gas, dan Panas Bumi Indonesia (APMI) Suprijonggo Santoso mendukung reaktivasi sumur idle atau sumur yang tidak aktif untuk mendongkrak produksi minyak dan gas bumi (migas) nasional.

“Upaya SKK Migas melakukan reaktivasi sumur idle dan lapangan idle patut didukung,” katanya seperti disiarkan Antara, Sabtu (11/7/2026).

“Faktanya, di Indonesia ada belasan ribu sumur tua yang idle yang dapat mendongkrak produksi migas,” tambahnya.

SKK Migas mencatat pada akhir 2025 terdapat lebih dari 17 ribu sumur minyak dan gas di Indonesia berstatus idle atau ditutup sementara (shut-in). Sebagian besar berada di lapangan-lapangan tua (brown field) wilayah Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.

Banyak di antaranya masih memiliki cadangan recoverable yang ekonomis jika dapat diaktifkan kembali dengan biaya yang jauh lebih rendah daripada pengeboran sumur baru.

Namun, mayoritas sumur idle berada di lokasi yang sulit dijangkau oleh rig konvensional besar.

Karenanya, APMI menggagas perangkat pemboran yang sesuai dengan karakteristik geografis, infrastruktur, dan kebutuhan nasional. Salah satunya dengan menggunakan Sinergy Lean Innovative Modular Rig (SLIM Rig).

“Dengan SLIM Rig, ribuan idle well yang selama ini ‘tertidur’ dapat dihidupkan kembali dengan efisien dan biaya yang terjangkau,” ucapnya.

Dengan demikian, diharapkan dapat mendukung kemandirian industri pemboran nasional, serta dapat mengurangi ketergantungan impor, menekan biaya operasional, memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi industri dalam negeri.

Terutama, mampu menumbuhkan kebanggaan dan percaya diri rakyat Indonesia bahwa bisa berkiprah dalam dunia industri pemboran migas dan panas bumi.

Pada bagian lain, pelaku usaha pabrikasi Ir. Doddy Suherman mengatakan, banyak alat-alat pengeboran minyak yang digunakan di Indonesia sudah ketinggalan zaman.

“Alat-alat yang digunakan masih dari era 80-an. Sementara dunia lain sudah menggunakan alat yang lebih canggih,” tuturnya.

Menurutnya, perlu dilakukan eksplorasi dengan menyesuaikan dengan kondisi geografis Indonesia, di mana banyak gunung, hutan, dan laut.

“Saya bersama tim sudah coba membuat RIG pengeboran modural sederhana,” urainya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *