SLEMAN, borneoreview.co – PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) menggandeng perajin batik asal Sleman untuk mengembangkan batik sawit.
Smart Batik Indonesia memanfaatkan berbagai olehan sawit sebagai bahan baku pendukung. Mereka juga menjadikan sawit sebagai inspirasi motif batik.
Kepala Divisi Hubungan Masyarakat dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Agrinas Palma Nusantara, Gatut Mukti mengatakan, Smart Batik Indonesia merupakan perajin yang memiliki inovasi memanfaatkan turunan sawit untuk produksi.
“Ini inovasi yang unik. Biasanya sawit digunakan oleh masyarakat untuk bahan tambahan cokelat, margarin, sampo, sabun, pasta gigi,” kata Gatut dikutip dari Antara.
Malam Batik dari Sawit
Smart Batik yang berlokasi di Kalurahan Maguwoharjo, konsisten menggunakan malam atau lilin (wax) batik berbahan turunan sawit. Aneka produk olahan sawit berpotensi terus dikembangkan.
Menurut Gatut, kerja sama ini menjadi bagian dari upaya mendorong pemanfaatan sawit hingga berdampak pada ekonomi berkelanjutan. “Mengedukasi bahwa sawit itu berdampak dan berkelanjutan.”
PT Agrinas berencana mengembangkan pemanfaatan cangkang sawit sebagai bahan pewarna organik batik.
“Kami akan melakukan inovasi terkait elemen pohon sawit, daun dan lidinya. Makin banyak inovasi, menambah nilai ekonomi,” kata Gatut.
Perusahaan akan bekerja sama dengan Smart Batik untuk mengedukasi UMKM di sekitar perkebunan sawit di berbagai wilayah Indonesia.
“Nanti akan keliling ke sekolah-sekolah, mengedukasi, mengajarkan bagaimana batik dari sawit itu sangat ramah lingkungan.”
Produksi Sejak 2023
CEO Smart Batik Indonesia, Miftahudin Nur Ihsan mengatakan pihaknya mulai mengembangkan malam berbahan sawit untuk batik tulis pada akhir tahun 2023.
“Kami memperoleh bahan baku dari beberapa perusahaan sawit, tapi memang sudah dalam bentuk packing,” kata Miftahudin Nur.
Malam atau lilin (wax) berbahan sawit memiliki beberapa keunggulan. Antara lain aroma yang malam saat dipanaskan tidak terlalu menyengat.
Hasil akhir batik menggunakan malam minyak sawit tidak terlalu berbeda dari batik yang menggunakan lilin konvensional.
“Dari sisi kualitas, hasil akhir tidak terlalu berbeda. Kami pakai itu kan di proses pembuatan,” ujar Miftahudin Nur.
Bahan malam atau lilin pada proses membatik umumnya berasal dari parafin. Hasil olahan minyak bumi ini memiliki karakter cepat meleleh dan membeku.
Penggunaan malam berbahan parafin kerap menimbulkan kekhawatiran efek samping terhadap kesehatan. Lilin parafin menghasilkan aroma menyengat.
Fungsi malam dalam proses membatik selain menambah kelenturan kain untuk melindungi motif batik agar tidak mudah rusak (pecah-pecah). ***
