Kementerian Pertanian Setuji Kenaikan Harga Bibit Sawit Program PSR

Ilustrasi penyemaian bibit kelapa sawit.

JAKARTA, borneoreview.co – Kementerian Pertanian menetapkan harga jual maksimal bibit kelapa sawit untuk Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) Rp59.000.

Harga tersebut ditetapan dari hasil kesepakatan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) bersama beberapa pihak terkait.

Rapat penetapan harga dipimpin Direktur Perbenihan Perkebunan Ditjenbun Kementan, Ebi Rulianti. Pertemuan salah satunya membahas rencana kenaikan harga berdasarkan perkembangan biaya produksi benih.

Ebi Rulianti mengatakan, harga benih sawit siap salur untuk program PSR sebelumnya Rp50.000 per batang.

Pada awal pelaksanaan program peremajaan sawit rakyat tahun 2017-2018, harga bibit dtetapkan Rp38.000 per batang.

“Harga benih sawit untuk program PSR meningkat 31,58 persen selama kurun waktu tersebut hingga 2025,” kata Ebi Rulianti.

Penyesuaian Biaya Produksi

Kenaikan harga terbaru diputuskan setelah produsen benih mengajukan penyesuaian berdasarkan komponen biaya produksi.

Komponen biaya produsi meliputi harga kecambah, pupuk, pestisida, bahan bakar minyak, tenaga kerja, sertifikasi, peralatan, sewa, dan perizinan.

“Penetapan harga benih kelapa sawit siap salur ini mempertimbangkan perkembangan biaya produksi serta usulan para pemangku kepentingan,” ujar Ebi Rulianti.

Perkumpulan Produsen Benih Tanaman Perkebunan Indonesia (PPBTPI), menghitung rata-rata harga pokok benih siap salur pada 2026 mencapai Rp51.372 per batang.

Dengan tambahan keuntungan 10–15 persen, rata-rata harga jual yang diusulkan mencapai Rp58.707 per batang.

Analisis harga oleh Direktorat Jenderal Perkebunan juga menghasilkan rata-rata harga benih sebesar Rp53.820 per batang. Dengan memperhitungan komponen inflasi 10 persen, makan harga benih mencapai Rp59.202 per batang.

Setelah mempertimbangkan berbagai usulan, rapat menyepakati harga jual benih kelapa sawit siap salur untuk program PSR maksimal Rp59.000 per batang.

Kualitas Benih

Wakil Sekjen DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), Eko Jaya Siallagan meminta kenaikan harga benih program PSR diimbangi peningkatan kualitas.

Eko Jaya yang membidangi Peremajaan Sawit Rayat, Sarana dan Prasarana, serta SDM Sawit memahami kenaikan harga akibat perubahan komponen biaya produksi.

“Benih kelapa sawit menjadi pondasi utama keberhasilan pelaksanaan PSR. Kami berharap petani yang sedang melaksanakan PSR mendapatkan benih berkualitas tinggi,” kata Eko.

Eko Jaya berharap benih PSR memenuhi standar mutu dan mendukung produktivitas kebun dalam jangka panjang.

“Kenaikan harga akibat perubahan komponen-komponen produksi harga benih sawit, itu merupakan hal yang wajar. Yang paling penting, petani mendapatkan jaminan kualitas benih terbaik.”

Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia menekankan pentingnya ketersediaan benih hingga ke pelosok daerah. Kenaikan harga harus diikuti distribusi yang lancar.

“Petani mendapatkan ketersediaan benih dengan mudah dan lancar untuk pelaksanaan PSR.” ***

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *