PONTIANAK, borneoreview.co – Apa yang dilakukan oleh masyarakat Jalan Tabrani Ahmad, tepatnya di Gang Kencana Lestari 2, Rukun Tetangga 04 di lingkungan Rukun Warga 11, Kelurahan Pallima, Pontianak Barat, Kalimantan Barat, ini menepis anggapan bahwa budidaya ikan, seperti lele dan nila, di sekitar permukiman selalu identik dengan bau tak sedap dan lingkungan kotor yang membuat tetangga terganggu.
Bagi mereka yang menamakan dirinya Kelompok Usaha Rumahan Bioflok ini melalui inovasi sistem pengolahan kolam tanpa limbah atau zero waste, berhasil menyulap lahan-lahan kosong dan sebagian halaman rumah mereka menjadi pusat budidaya ikan lele dan nila komunal yang produktif dan ramah lingkungan.
Keberhasilan ini bertumpu pada penerapan sistem bioflok dan daur ulang air, di mana sistem ini memungkinkan warga memelihara lele maupun nila di lahan terbatas dengan kebutuhan air yang juga tidak banyak.
Pola yang dilakukan secara gotong royong ini, selain tidak berbau juga tergolong hemat air, karena dalam sistem bioflok seperti itu bakteri berkerja menjaga keseimbangan ekosistem kolam, mengurangi penumpukan senyawa beracun yang mengharuskan penggantian air setiap kali memanen.
“Bakteri pembentuk flok mengubah limbah dalam air, seperti dari kotoran ikan dan sisa pakan, lalu merubahnya menjadi protein mikroba yang dikonsumsi kembali oleh ikan,” ujar Alif, seorang warga yang menginisiasi budidaya sejak tahun 2020 silam.
Hal ini masuk akal, karena amonia dari limbah feses dan sisa makanan ikan yang mengendap di dasar kolam akan diurai secara biologis oleh bakteri. Dengan begitu, kualitas air akan tetap terjaga tanpa perlu diganti semuanya secara rutin setiap panen.
“Hanya ditambah air sedikit saja, tidak mengganti semuanya. Ini bagi kami sangat membantu menghemat air, apalagi di saat kemarau sekarang ini,” katanya.
Sementara itu, menurut koordinator pembudidayaan, Wibowo, dengan memanfaatkan bakteri pengurai melalui metode bioflok, sisa pakan dan kotoran ikan diubah menjadi gumpalan bakteri bernutrisi tinggi.
“Flok atau gumpalan ini kemudian menjadi pakan alami tambahan bagi ikan,” ujarnya. Jelas ini juga berdampak terhadap penghematan kebutuhan belanja pakan. “Walau tidak signifikan, tetapi ini sangat membantu mengurangi biaya belanja pakan,” katanya.
Konsep ramah lingkungan di Gang Kencana Lestari 2 ini sudah secara bergotong-royong diterapkan sejak tahun 2020 di sekurangnya 7 unit kolam yang dikelola secara bersama oleh warga RT 04.
“Sedikit saja limbah yang dihasilkan, dan itu pun kami manfaatkan untuk menyiram tanaman di halaman rumah warga, sebagai pupuk alami” jelasnya.
Inovasi budidaya ikan lele dan nila di permukiman dengan pola gotong-royong model ini, diklaim berhasil memperkuat uang kas sekaligus juga meningkatkan kerukunan warga.
“Ini menjadi sumber pendapatan baru bagi lingkungan kami. Hasil panen digunakan untuk konsumsi internal warga, sementara surplusnya dijual ke pengepul,” kata Wibowo.
Sementara itu, Ketua RT 04, Romiyanto, menyebut kuntungan yang didapat langsung dialokasikan untuk mengisi kas RT, yang nantinya digunakan kembali untuk kegiatan sosial dan pemeliharaan fasilitas umum.
“Dampak positifnya bukanlah hanya materi berupa pemasukan kas kami saja, tetapi kembalinya budaya gotong royong,” katanya.
Menurutnya, keterlibatan dalam pengelolaan usaha rumahan ini tak hanya kalangan bapak-bapak di lingkunhannya saja, tetapi juga ibu-ibu dan remaja pun turut andil. “Yang memberi makan ikan setiap pagi, kebanyakan ibu-ibu,” pungkasnya.***
