SURABAYA, borneoreview.co – Di Kota Surabaya, mencari rumah perlahan berubah menjadi perlombaan yang melelahkan. Harga tanah melaju lebih cepat dibanding kenaikan gaji generasi muda.
Di banyak sudut kota, anak-anak muda bekerja di pusat perbelanjaan, kantor layanan digital, industri kreatif, hingga sektor pemerintahan.
Namun, mereka tetap tinggal jauh dari tempat mencari nafkah. Kota perlahan hanya menjadi ruang untuk bekerja, bukan lagi ruang untuk menetap.
Fenomena itu kini semakin terasa di kalangan Generasi Z. Mereka hidup di era yang serba cepat, akrab dengan teknologi, dan tumbuh dengan mimpi hidup mandiri lebih awal.
Namun di balik gaya hidup urban yang tampak modern, ada kegelisahan yang diam-diam tumbuh, yakni bagaimana membeli rumah di kota yang harga propertinya terus melambung.
Di tengah situasi itu, rencana Pemerintah Kota Surabaya membangun rumah susun sederhana milik atau rusunami bagi Gen Z menjadi menarik untuk ditelaah.
Program yang disiapkan di kawasan Rungkut, Tambak Wedi, hingga Ngagel itu bukan sekadar proyek bangunan vertikal.
Ia menyentuh pertanyaan yang lebih besar tentang masa depan kota: apakah Surabaya masih memberi ruang bagi generasi mudanya untuk tinggal dan tumbuh di kota sendiri?.
Langkah Pemkot Surabaya menghadirkan rusunami dengan harga mulai sekitar Rp100 juta hingga di bawah Rp500 juta menunjukkan adanya upaya serius menghadirkan hunian yang lebih terjangkau.
Apalagi konsep yang ditawarkan berbeda dari rusun pada umumnya. Unit dua kamar, keberadaan lift, integrasi transportasi, hingga skema pembiayaan ringan menjadi tanda bahwa, pemerintah mulai memahami perubahan gaya hidup generasi muda perkotaan.
Ini penting, sebab persoalan hunian di kota besar bukan hanya soal bangunan fisik. Hunian berkaitan dengan mobilitas sosial, kesehatan mental, produktivitas kerja, hingga kualitas keluarga muda.
Ketika anak muda terlalu lama hidup berpindah-pindah kos, kontrakan sempit, atau tinggal jauh dari pusat aktivitas, maka kota sedang menyimpan masalah sosial jangka panjang.
Surabaya tampaknya membaca situasi itu lebih awal. Apalagi kota ini sedang bergerak menuju kota global dengan pembangunan infrastruktur, transportasi, dan layanan digital yang terus berkembang.
Tetapi kota global tanpa hunian terjangkau akan melahirkan paradoks, yakni kota maju yang justru sulit dihuni warganya sendiri.

Krisis Hunian
Di banyak kota besar dunia, krisis hunian selalu menjadi alarm pertama ketimpangan urban. Ketika harga rumah terlalu tinggi, generasi muda terdorong keluar dari pusat kota.
Mereka akhirnya tinggal di pinggiran dengan waktu tempuh panjang, biaya transportasi tinggi, dan kualitas hidup yang menurun.
Gejala itu mulai tampak di Surabaya. Kawasan strategis berkembang cepat, apartemen komersial tumbuh, pusat bisnis meluas, tetapi akses kepemilikan rumah bagi kelompok usia muda tetap terbatas.
Banyak pekerja muda akhirnya memilih kos tahunan karena membeli rumah terasa terlalu jauh untuk dijangkau.
Di titik inilah rusunami menjadi relevan. Konsep hunian vertikal memungkinkan kota menyediakan tempat tinggal tanpa terus memperluas kawasan horisontal yang semakin sempit.
Surabaya sadar bahwa lahan tidak lagi cukup untuk menjawab kebutuhan rumah tapak secara masif.
Namun persoalannya tidak sesederhana membangun gedung. Banyak proyek rumah susun di berbagai daerah gagal menjadi ruang hidup yang nyaman karena hanya fokus pada pembangunan fisik.
Setelah bangunan berdiri, muncul persoalan baru bagi para penghuni.
Misalnya, lingkungan terasa asing, interaksi sosial renggang, fasilitas tidak terawat, hingga penghuni akhirnya kembali memilih tinggal di kampung kota atau rumah kos.
Generasi Z memiliki karakter berbeda dibanding generasi sebelumnya. Mereka tidak hanya mencari tempat tidur dan kamar mandi.
Mereka membutuhkan ruang hidup yang mendukung mobilitas, konektivitas internet, akses transportasi, ruang interaksi, hingga rasa aman dan sehat secara mental.
Karena itu, rusunami Gen Z tidak boleh berhenti pada konsep “hunian murah”.
Rusunami harus murah, dekat dari pusat aktivitas. Banyak fasilitas transportasi. Juga memiliki ruang sosial.
Bila semua syarat dan fasilitas itu tidak ada, rusunami berisiko jadi bangunan tidur yang kehilangan denyut kehidupan.
Di sinilah pentingnya konsep Transit Oriented Development atau TOD yang mulai dikaitkan dengan pengembangan kawasan hunian di Surabaya.
Rencana pembangunan hunian dekat stasiun dan transportasi publik, menjadi langkah penting agar penghuni tidak terbebani ongkos mobilitas harian.
Kota modern hari ini bukan sekadar kota dengan gedung tinggi. Tapi, kota yang mempersingkat jarak hidup warganya.
Selain itu, rusunami juga perlu dibaca sebagai bagian dari strategi menekan ketimpangan.
Ketika anak muda memiliki akses hunian lebih baik, mereka punya peluang membangun stabilitas ekonomi lebih cepat.
Cicilan rumah yang terjangkau dapat menjadi investasi sosial jangka panjang, dibanding pengeluaran kos yang terus habis tanpa kepemilikan aset.
Tetapi tantangannya tetap besar. Harga murah harus benar-benar dijaga, agar tidak berubah menjadi komoditas investasi segelintir orang.
Banyak program rumah terjangkau di kota besar akhirnya justru dibeli investor, lalu disewakan kembali dengan harga tinggi. Jika ini terjadi, tujuan sosial rusunami akan meleset jauh.
Hunian Manusiawi
Surabaya sebenarnya memiliki modal penting dalam membangun ekosistem hunian yang lebih manusiawi.
Kota ini sudah lama mengenal budaya kampung yang hidup, penuh interaksi sosial, dan relatif inklusif. Tantangannya adalah bagaimana membawa semangat itu ke hunian vertikal.
Rusunami tidak boleh menjadi sekadar tumpukan unit beton yang dingin. Ia harus menjadi ruang tumbuh komunitas baru.
Kehadiran ruang bersama, taman kecil, area olahraga, fasilitas anak, hingga ruang kreatif akan sangat menentukan apakah penghuni merasa tinggal atau hanya menempati.
Pengalaman banyak kota menunjukkan bahwa hunian vertikal yang gagal membangun kehidupan sosial justru melahirkan keterasingan. Orang tinggal berdekatan, tetapi saling tidak mengenal.
Di tengah budaya digital yang membuat interaksi manusia semakin tipis, desain hunian perlu memikirkan kembali ruang perjumpaan.
Karena itu, pendekatan Surabaya yang mengaitkan rusunami dengan peningkatan kualitas hidup patut diapresiasi.
Program ini disambungkan dengan pendidikan, pengentasan kemiskinan, hingga mobilitas sosial keluarga muda.
Ada upaya melihat hunian sebagai bagian dari pembangunan manusia, bukan sekadar proyek properti.
Meski begitu, pemerintah juga perlu berhati-hati agar kebijakan hunian tidak meminggirkan realitas sosial yang sudah ada. Rumah kos, misalnya, tetap menjadi penyangga penting ekonomi kota.
Banyak mahasiswa, pekerja informal, hingga buruh urban bertahan hidup karena fleksibilitas rumah kos.
Jika rusunami diposisikan sebagai satu-satunya solusi, maka kota bisa kehilangan keberagaman bentuk hunian yang selama ini menopang dinamika urban.
Jalan tengah menjadi penting. Rusunami harus hadir berdampingan dengan penataan rumah kos yang lebih sehat dan manusiawi.
Ukuran keberhasilan sebuah kota bukan hanya seberapa megah gedung yang berdiri, melainkan apakah warganya masih mampu hidup layak di dalamnya.
Surabaya sedang menghadapi ujian penting sebagai kota besar yang terus tumbuh, yakni menjaga agar generasi mudanya tidak tersingkir oleh mahalnya ruang hidup.
Rusunami Gen Z memberi harapan bahwa kota masih mencoba berpihak kepada mereka yang baru memulai kehidupan.
Namun, harapan itu hanya akan hidup jika pembangunan tidak berhenti pada seremoni proyek dan gambar desain.
Yang dibutuhkan adalah keberanian menjaga keterjangkauan, memastikan lokasi strategis, membangun konektivitas transportasi, serta menciptakan ruang sosial yang sehat.
Sebab, rumah sejatinya bukan hanya tempat berteduh. Ia adalah tempat seseorang merasa menjadi bagian dari kota, dan kota yang baik bukan kota yang paling tinggi gedungnya.
Melainkan kota yang masih memungkinkan generasi mudanya berkata: aku masih bisa hidup di sini.(Ant)
