Sefri Afikar: Pernah Merusak Mangrove, Kini Mengabdi ke Alam Demi Menebus Masa Lalu

Pegiat mangrove Sefri Afikar

PEKANBARU, borneoreview.co – Di pesisir Desa Sepahat, Kabupaten Bengkalis, Riau, seorang pria berjalan perlahan di antara ribuan bibit mangrove.

Kaki kirinya telah diamputasi dan digantikan kaki palsu yang sesekali menancap dalam lumpur. Namanya Sefri Afikar. Warga kampung lebih sering memanggilnya Asep.

Usianya genap 54 tahun pada 1 Juli lalu. Rambutnya mulai memutih, kulitnya legam terbakar matahari pesisir.

Setiap hari, ia mendatangi rumah bibit sederhana di tepi pantai, untuk merawat mangrove yang tumbuh dalam polybag hitam.

“Inilah aktivitas saya sehari-hari,” katanya, sambil memandang deretan bibit mangrove yang memenuhi halaman sempit rumah pembibitan itu.

Sepuluh tahun lalu, hidup Asep berubah dalam satu malam. Kecelakaan tabrak lari merenggut kaki kirinya.

Ia harus belajar berjalan kembali sekaligus menghadapi kenyataan bahwa banyak pekerjaan yang dulu bisa dilakukan kini tak lagi mungkin.

Ia sempat mencoba berbagai usaha. Namun, tak ada yang memenuhi harapannya. Keterbatasan fisik dan ekonomi membuat hidupnya tidak mudah.

“Setelah itu saya kembali ke mangrove. Saya tinggalkan pekerjaan lain. Fokus saya ke mangrove,” ujarnya.

Tidak ada jaminan penghasilan besar dari menanam mangrove. Pekerjaannya justru akrab dengan lumpur, panas, dan nyamuk. Hasilnya pun baru terlihat bertahun-tahun kemudian.

Namun di tempat itu, Asep menemukan sesuatu yang tidak ia dapatkan dari pekerjaan lain.

Ia pernah menjadi bagian dari orang-orang yang merusak mangrove.

“Dulu kita perusak alam,” katanya.

Asep pernah menebang mangrove jenis teruntum untuk dijadikan bahan gading kapal dan dibawa ke Bagan Siapi-api.

Pekerjaan itu memberinya penghasilan, tetapi meninggalkan rasa bersalah yang belum hilang.

“Rasa berdosa itu memang ada,” ujarnya.

Kini, ia merawat bibit-bibit yang kelak akan ditanam kembali di pesisir.

Ia tahu mana bibit yang mulai menguning, mana yang terlalu banyak air, dan mana yang perlu dipindahkan agar dapat tumbuh lebih baik.

Kadang ia bahkan berbicara kepada bibit-bibit itu.

“Kadang sempat ngomong juga sama bibit. Yang saya rasakan, kayaknya mereka mendengar,” katanya sambil tersenyum kecil.

Asep juga melihat kerusakan mangrove dari sisi lain. Menurutnya, berkurangnya hutan mangrove ikut memengaruhi kehidupan nelayan di kampungnya.

“Hasil tangkapan nelayan itu tidak mencukupi kebutuhan,” katanya.

Ia meyakini salah satu penyebabnya adalah rusaknya hutan mangrove yang selama puluhan tahun menjadi tempat berkembang biak ikan, udang, dan berbagai biota pesisir.

Karena itu, ia ingin meninggalkan sesuatu yang berbeda.

“Saya mau mewariskan satu karya yang bermanfaat untuk orang banyak.”

Baginya, warisan tidak harus berupa rumah atau harta. Pohon-pohon mangrove yang kelak menahan abrasi dan menjadi tempat berkembang biaknya biota laut pun sudah cukup.

“Walaupun kita tidak bisa memberikan banyak, kalau karya kita bermanfaat untuk orang banyak, itu sudah berarti,” katanya.

Perjalanannya tidak selalu berhasil. Ia pernah menanam ribuan bibit, tetapi tidak satu pun bertahan.

Sekitar 6.000 bibit mati. Sebagian tersapu ombak, sebagian tidak cocok dengan kondisi tanah, dan lainnya gagal berakar.

“Kami malas menghitung yang mati. Yang penting terus,” katanya.

Tanah tempat Asep membibit pun bukan miliknya. Ia hanya menumpang dengan izin pemilik lahan selama masih mampu menghidupi keluarga dan menjaga bibit-bibit tersebut.

Ada pula rasa sakit yang harus ia hadapi setiap kali berjalan dari rumah menuju kawasan mangrove. Kaki palsunya kadang menimbulkan nyeri hebat. Langkahnya terasa berat.

Namun, ketika tiba di kawasan mangrove, rasa sakit itu perlahan menghilang.

“Setelah di alam, rasa sakit itu tidak ada,” katanya. Ia menyebutnya sebagai “respon alam”.

Apa pun penjelasannya, Asep terus kembali. Tidak ada kata malas untuk pergi ke mangrove. Tidak ada alasan menunda pekerjaan sampai esok.

Ia tidak bermimpi menjadi kaya.

“Yang saya pikir bukan kaya. Saya pikir bisa bertahan hidup saja,” katanya.

Namun, ada satu hal yang ia takutkan: restorasi mangrove berhenti pada dirinya. Ia ingin ada generasi penerus.

Karena itu, ia berharap pendidikan tentang mangrove masuk ke sekolah-sekolah sejak dini. Anak-anak, menurutnya, perlu mengenal, menjaga, memelihara, dan menanam mangrove.

Rumah bibitnya pun terbuka bagi siapa saja, terutama anak-anak sekolah.

“Kalau tidak ada generasi penerusnya, sama saja bohong,” ujarnya.

Menjelang sore, Asep kembali menyusuri kawasan pembibitan. Kaki palsunya kembali menancap di lumpur.

Di hadapannya, ribuan bibit mangrove tumbuh dengan ukuran yang berbeda-beda.

Sebagian mungkin akan mati. Sebagian lain mungkin bertahan dan tumbuh menjadi pohon.

Asep tidak lagi menanam untuk melihat hasilnya sendiri. Ia sedang menanam untuk menebus masa lalu, ketika ia ikut merusak mangrove.

Rasa bersalah yang masih tersisa, dan waktu yang masih dimilikinya.

“Saya ingin mengabdi ke alam. Bukan bahasa mulut saja, tapi beserta hati,” katanya.

Lalu ia melontarkan pertanyaan yang membuat percakapan berhenti sejenak.

“Jasa alam itu tidak bisa kita hitung. Sudah berapa banyak jasa alam terhadap kehidupan manusia. Mana ucapan terima kasihnya?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *