Tambang Ilegal Kalbar: Polisi Pamer Angka, Publik Ragukan Nyali

PETI Singkawang_1

PONTIANAK, borneoreview.co – Lampu sorot menelan wajah Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Kalimantan Barat, Komisaris Besar Polisi Burhanuddin.

Aula Polda Kalbar beraroma formalitas. Kursi berjajar rapi, mikrofon berdiri tegak menunggu kalimat yang akan menyalakan headline.

Di hadapan kamera, dia menegakkan tubuh. Seolah panggung ini bukan sekadar konferensi pers, melainkan pentas teater birokrasi.

“Sepuluh kasus PETI berhasil diungkap, tiga belas tersangka ditahan, emas murni 3.474,58 gram disita,” ucapnya lantang.

Angka-angka meluncur deras, seperti mantera statistik yang diharapkan mampu menenangkan keresahan publik.

Namun di luar ruangan, suara sungai yang tercemar dan tanah yang terkoyak tidak pernah mengenal jeda.

Burhanuddin menambahkan, satu kasus sempat viral di media sosial. Seorang anggota dewan berinisial MA ditangkap, emas ilegal seberat 3,039 kilogram ditemukan.

Modusnya sederhana alat tambang beroperasi diam-diam, hasilnya langsung dijual. Ironi pun menetes wakil rakyat yang seharusnya menjaga bumi justru menambang rakus dari perutnya.

Di sudut ruangan, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Kalimantan Barat, Komisaris Besar Polisi Bambang Suharyono menutup dengan imbauan.

“Kami mengajak masyarakat menjaga kelestarian alam,” katanya.

Kalimat itu terdengar manis, namun di telinga warga desa yang sungainya keruh, imbauan hanyalah gema kosong. Mereka menunggu tindakan, bukan sekadar ajakan.

Adegan Sungai yang Luka

Bayangkan Desa Sekadau Hilir. Air sungai berwarna cokelat pekat, anak-anak tak lagi berenang, ikan menghilang.

Di tepian, mesin dongfeng menderu, mencabik tanah, meninggalkan lubang-lubang menganga. Alam menjadi korban, sementara aparat sibuk menghitung gram emas di meja konferensi.

Seorang ibu di desa itu pernah bertutur lirih, “Kami tidak butuh angka. Kami butuh sungai kembali jernih.”

Kalimat sederhana, namun lebih tajam daripada pasal hukum yang dijeratkan pada tersangka.

Pasal 158 dan 161 UU Minerba memang menjanjikan hukuman lima tahun penjara, tetapi apakah hukuman itu mampu mengembalikan ekosistem yang hancur?

Gestur Aparat, Ekspresi Publik

Gestur aparat di panggung pers terlihat percaya diri. Senyum tipis, tangan menepuk meja, suara mantap.

Namun di media sosial, ekspresi publik berbeda sinis, getir, penuh tanda tanya besar.

“Apakah penertiban ini sungguh serius, atau sekadar ritual tahunan?” tulis seorang warganet.

Kritik itu menyebar cepat, lebih viral daripada angka emas yang diumbar.

Cerita di Balik Angka

Angka 3.474 gram emas terdengar besar, Rp315 juta uang tunai terasa menggiurkan.

Tetapi di balik angka itu, ada cerita manusia pekerja tambang yang rela mempertaruhkan nyawa demi sesuap nasi, aparat desa yang menutup mata karena takut pada cukong, dan pejabat yang bermain dua wajah.

Cerita-cerita kecil ini jarang masuk konferensi pers, padahal di sanalah inti tragedi bersemayam.

Konferensi pers seolah menjadi panggung sandiwara. Aparat tampil sebagai aktor utama, publik sebagai penonton yang bosan.

Mereka menunggu klimaks berupa tindakan nyata, bukan sekadar narasi heroik.

Polisi lebih lihai berpidato daripada menutup lubang tambang. Alam Kalbar terus merintih, sementara aparat sibuk merayakan angka.

Kritik keras mengalir. penegakan hukum dianggap setengah hati, penertiban hanya menyentuh permukaan.

Tersangka memang ditahan, tetapi jaringan besar tetap beroperasi. Sungai tetap rusak, hutan tetap gundul. Publik menilai aparat gagal menunjukkan nyali.

“Kalau benar serius, kenapa tambang masih hidup?” tanya seorang aktivis lingkungan Pulau Kalimantan bagia barat.

Benteng Akal Sehat

Kasus PETI di Kalbar bukan sekadar soal emas ilegal. Ia adalah cermin rapuhnya sistem pengawasan, lemahnya keberanian aparat, dan tragisnya nasib warga desa.

Konferensi pers hanya menampilkan angka, tetapi cerita manusia dan luka alam tetap tersembunyi.

Akal sehat publik menjadi benteng terakhir. Mereka menolak tunduk pada statistik kosong.

Mereka menuntut tindakan nyata, bukan sekadar pidato. Satire ini lahir dari ironi aparat sibuk menghitung gram emas, sementara bumi Kalbar terus kehilangan gram harapan.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *