Tambang Menggali Lubang, Pelumas Menambal Ceruk

Tambang

BALIKPAPAN, borneoreview.co – Pagi itu, di sebuah workshop tambang di Kalimantan Timur, seorang mekanik senior mengelap tangannya yang hitam oleh oli. Ia baru saja menyelesaikan perawatan preventif pada sebuah excavator tua.

“Dulu, kami ganti pin setiap tiga bulan. Sekarang, bisa enam bulan. Bukan karena mesinnya lebih baik, tapi karena kami tidak punya uang untuk sering-sering bongkar,” ucapnya getir, September lalu.

Kalimat itu bukan sekadar keluhan. Ia adalah potret kecil dari industri tambang Indonesia yang sedang tercekik.

Badan Pusat Statistik mencatat Produk Domestik Bruto (PDB) pertambangan dan penggalian terkontraksi 1,64 persen secara tahunan pada Kuartal II 2026.
Kontraksi kedua beruntun. Pemerintah memangkas target produksi batubara nasional dari 790 juta ton (realisasi 2025) menjadi 600 juta ton.

Selisih 190 juta ton. Setara 24 persen. Angka itu bukan sekadar statistik. Ia menjelma nasib ribuan pekerja, operator, dan mekanik yang kini berhitung ulang setiap jam operasi.

Di sisi lain, mandatori B50 mulai berjalan. Kementerian ESDM mencatat performa mesin alat berat stabil.

Tapi konsumsi bahan bakar naik 3,12 persen dibanding B40. Angka itu dianggap wajar secara operasional.

Namun tetap membebani. Produksi turun. Biaya per jam operasi naik. Penghematan pun dicari ke sudut teremeh: pelumasan dan perawatan preventif.

Klaim Perpanjang Umur Pin Bushing

Di sinilah ExxonMobil Lubricants Indonesia (EMLI) masuk. Mereka membawa pendekatan berbasis angka ke Mining Indonesia 2026 di Jakarta International Expo, Kemayoran, 9–12 September 2026. Booth di Hall B3.

Mobilgrease XHP 462 Moly, grease lithium kompleks dengan 3 persen molibdenum disulfida, diklaim memperpanjang umur pin dan bushing hingga tiga kali lebih lama.

Mobilith SHC 220 memperpanjang interval pelumasan hingga empat kali dan umur bearing hingga dua kali.

Mobil DTE 10 Excel disebut mampu meningkatkan efisiensi pompa hidraulik hingga 6 persen.

Mobil Delvac 1 Gear Oil melindungi drivetrain dari keausan dan guncangan beban ekstrem sekaligus meningkatkan efisiensi bahan bakar.

Bandingkan dua angka itu: tambahan konsumsi bahan bakar akibat B50 sebesar 3,12 persen, sementara potensi efisiensi sistem hidraulik mencapai 6 persen.

Secara aritmetika, beban B50 bisa tertutup. Meski berlaku pada sistem berbeda dan sangat bergantung kondisi armada.

ExxonMobil Lubricants Indonesia (EMLI) juga menghadirkan MACHINEXT Oil Filtration System, layanan purnajual untuk membersihkan pelumas pada peralatan hidraulik, kompresor, dan gear, serta program Mobil Synthetics Satisfaction Guarantee.

“Di tengah penyesuaian produksi dan implementasi B50, setiap jam operasi alat berat menjadi semakin bernilai,” ucap Presiden Direktur PT ExxonMobil Lubricants Indonesia, Syah Reza.

Dia juga mengeklaim keandalan peralatan, kebersihan pelumas, dan perawatan berbasis kondisi sebagai kunci menjaga produktivitas sekaligus mengendalikan biaya.

Namun di balik angka dan klaim itu, ada cerita manusia yang tak pernah masuk laporan keuangan. Pekerja, hanya ingin alat beratnya tidak mati di tengah shift.

“Kalau mesin berhenti, kami yang disalahkan. Padahal kami cuma punya grease dan doa,” ujarnya. Di industri yang sekarat, pelumas bukan lagi sekadar komoditas. Ia menjadi tumpuan hidup.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *