Tambang Tembaga AS Panas, Apache Bertahan Lawan Raksasa

Tambang

ARIZONA, borneoreview.co – Di padang tandus Arizona, tanah tidak sekadar tanah. Ia napas. Ia doa. Ia ingatan yang menolak usang.

Namun kini, tanah itu dipanggil dengan nama lain cadangan tembaga bernilai miliaran dolar.

Di tengah gegap gempita transisi energi global, perusahaan tambang raksasa Rio Tinto melangkah mantap.

Klaim lahan telah di tangan. Pintu tambang bernama Resolution Copper seolah tinggal didorong.

Namun di sisi lain, suara lirih namun tegar dari komunitas San Carlos Apache belum padam. Bagi mereka, ini bukan sekadar proyek. Ini perihal keyakinan.

Konflik Lahan Energi

Keputusan penting datang setelah pengadilan Amerika Serikat menolak upaya pemblokiran. Jalan hukum yang panjang tampak mencapai ujungnya. Negara, melalui U.S. Forest Service, menerima pertukaran lahan.

Rio Tinto menyerahkan 5.400 acre. Sebagai gantinya, perusahaan memperoleh akses ke 2.400 acre tanah yang menyimpan lebih dari 40 miliar pound tembaga.

Angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah bahan bakar masa depan. Tembaga menjadi tulang punggung kendaraan listrik, jaringan listrik, hingga perangkat digital.

Dunia haus tembaga. Amerika tidak ingin terus bergantung pada impor. Di sinilah proyek Resolution Copper menemukan momentumnya.

Menteri Pertanian Amerika Serikat, Brooke Rollins, menegeklaim perkara arah kebijakan pemerintah saat ini.

“Proyek pertambangan yang bertanggung jawab ini sejalan dengan visi Presiden Trump tentang kemandirian mineral Amerika,” kata Brooke Rollins.

Kalimat itu singkat. Namun maknanya panjang. Negara berdiri di sisi industri. Iman adat tanah.

Di balik angka dan kebijakan, ada tempat bernama Oak Flat. Dalam bahasa Apache, ia disebut Chi’chil Biłdagoteel.

Bagi komunitas San Carlos Apache, Oak Flat bukan sekadar lokasi. Ia ruang sakral. Tempat doa naik bersama angin gurun. Tempat generasi bertemu leluhur dalam diam.

Namun rencana tambang akan menelan situs ini. Lubang raksasa akan menggantikan altar alam. Ritual akan digantikan mesin bor.

Selama lebih dari dua dekade, suku Apache bertahan. Mereka menolak. Mereka menggugat. Mereka bersuara di pengadilan hingga Mahkamah Agung.

Namun keputusan demi keputusan tidak berpihak. Pada 2021, langkah ekstrem sempat ditempuh.

Suku Apache mengajukan hak tanggungan properti atas lahan tersebut. Sebuah simbol perlawanan dalam bahasa hukum modern.

Hingga kini, perwakilan mereka memilih diam. Namun diam bukan berarti menyerah. Diam bisa menjadi bentuk paling keras dari luka.

Ambisi tembaga global. Di sisi industri, kalkulasi berjalan tanpa jeda. Proyek ini diperkirakan menyimpan lebih dari 18,1 juta ton metrik tembaga. Salah satu cadangan terbesar di Amerika.

Rio Tinto tidak sendiri. Mitra minoritasnya, BHP Group, menggenggam 45 persen saham. Sisanya dikuasai Rio.

Investasi telah menembus lebih dari 2 miliar dolar AS. Ironisnya, satu gram tembaga pun belum dihasilkan.

Namun optimisme tetap dijaga. Katie Jackson, Kepala Bisnis Tembaga Rio Tinto, menyatakan, “Seiring permintaan tembaga terus meningkat, proyek seperti Resolution memainkan peran penting dalam memperkuat rantai pasok domestik.”

Nada yang sama datang dari BHP, “Resolution diproyeksikan menjadi motor pertumbuhan ekonomi di AS, menciptakan ribuan lapangan kerja bernilai tinggi dan mendorong miliaran dolar aktivitas ekonomi.”

Bahasa korporasi selalu rapi. Selalu menjanjikan masa depan. Namun masa depan bagi siapa, itu pertanyaan lain.

Di panggung politik, dukungan datang dari Presiden Amerika Serikat, Donald John Trump. Pada Agustus 2025, ia menyebut penolak proyek sebagai, “Anti-Amerika dan mewakili negara pesaing tembaga lain.”

Pernyataan itu tajam. Bahkan mungkin terlalu tajam. Di satu sisi, negara ingin mandiri secara mineral. Di sisi lain, komunitas adat mempertahankan hak spiritual.

Dua kepentingan bertabrakan tanpa ruang kompromi. Kini, Rio Tinto bersiap meluncurkan kampanye pengeboran senilai 500 juta dolar AS. Tahap eksplorasi akan menentukan kapan produksi dimulai.

Bor akan menembus tanah. Data akan dikumpulkan. Keputusan besar akan mengikuti. Namun di bawah tanah itu, ada sesuatu yang tidak bisa dihitung.

Keyakinan. Ingatan kolektif. Sejarah yang tidak tercatat dalam laporan keuangan. Konflik ini bukan sekadar kisah lokal Arizona. Ia cermin dunia.

Di satu sisi, manusia mengejar energi bersih. Kendaraan listrik, jaringan pintar, masa depan rendah karbon.

Resolution Copper mungkin akan menjadi tambang raksasa. Ia bisa menggerakkan ekonomi. Ia bisa memperkuat posisi Amerika dalam rantai pasok global.

Namun di balik itu, ada cerita yang tidak akan masuk laporan tahunan perusahaan. Cerita tentang tanah yang dianggap suci.

Cerita tentang komunitas yang bertahan dalam sunyi.Ia hanya berpindah dari ruang sidang ke ruang batin.

Dan di sana, tidak ada hakim. Tidak ada putusan final. Seberapa mahal harga sebuah kemajuan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *