TANAH BUMBU, borneoreview.co – Tim Universitas Lambung Mangkurat (ULM) melalui Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Lingkungan Hidup (KKNT-LH) di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan menggali potensi pesisir di Desa Angsana lewat produk inovasi kopi mangrove.
Melansir Antara, Rabu (19/8/2026), berdasarkan pemetaan Pemerintah Desa Angsana, luas hutan mangrove di daerah tersebut mencapai sekitar 47 hektare yang saat ini dikembangkan menjadi kawasan desa wisata mangrove.
“Produk kopi ini terbuat dari buah mangrove jenis Rhizophora yang tumbuh subur di pesisir Desa Angsana, Kecamatan Angsana,” kata Koordinator kelompok 2 KKNT-LH ULM Ahmad Ryan Faizal, Selasa kemarin.
Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ULM ini menjelaskan ide kopi mangrove berawal dari keinginan memanfaatkan potensi lokal.
Buah mangrove yang digunakan adalah buah yang sudah jatuh secara alami, karena kandungan getahnya lebih sedikit dan rasanya lebih kuat.
Proses pengolahan dimulai dengan membelah buah untuk mengambil bijinya, kemudian dipotong kecil-kecil, direndam selama satu hingga dua minggu untuk mengurangi getah, dikeringkan selama tiga hingga empat hari, lalu disangrai hingga mengeluarkan aroma menyerupai kopi.
Ryan menegaskan kopi mangrove yang mereka perkenalkan aman dikonsumsi, meski belum melalui uji resmi pemerintah.
“Minuman kopi alternatif berbahan buah mangrove ini sudah kami kenalkan ke masyarakat dan disambut antusias warga Angsana,” ungkapnya.
Melalui inovasi kopi mangrove, ULM berharap masyarakat Desa Angsana semakin mengenal potensi lokal sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem.
“Tujuan kami bukan mendorong eksploitasi berlebihan, melainkan memperkenalkan alternatif pemanfaatan buah mangrove yang selama ini belum dimanfaatkan,” katanya.
“Jadi hutan mangrove memiliki potensi lebih dari sekadar fungsi ekologis sebagai pelindung pesisir,” tambahnya.***
