Wako Pontianak Imbau Warga Hemat Air Bersih Dampak Kemarau

air bersih

PONTIANAK, borneoreview.co – Wali Kota Pontianak, Kalimantan Bara  Edi Rusdi Kamtono mengimbau kepada warga agar menghemat penggunaan air bersih dampak musim kemarau yang menyebabkan air Sungai Kapuas sebagai bahan baku utama terintrusi air laut.

“Warga untuk berhemat dalam menggunakan air bersih karena dampak kemarau yang melanda,” kata Edi Rusdi Kamtono di Pontianak, Selasa (11/8/2026).

Ia menjelaskan sumber air baku dari sejumlah Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumda) di Pontianak masih mengandalkan air Sungai Kapuas.

Menurut Edi kadar garam air baku dari Sungai Kapuas meningkat terutama pada pukul 21.00 WIB hingga sekitar pukul 04.00 WIB, ketika air laut pasang. Kondisi tersebut juga dipengaruhi minimnya hujan di wilayah hulu yang menyebabkan tekanan aliran Sungai Kapuas mengecil sehingga air laut lebih mudah masuk ke aliran sungai.

“Kadar garam tertinggi tercatat di instalasi pengolahan air di Nipah Kuning yang mencapai sekitar 2.903 miligram per liter. Sementara itu, kadar garam di Imam Bonjol telah berada di atas 700 miligram per liter, Selat Panjang sekitar 1.100 miligram per liter, sedangkan Parit Mayor masih berada pada kisaran 400 hingga 600 miligram per liter,” jelasnya.

Edi mengatakan air hasil pengolahan masih dapat digunakan sesuai peruntukannya dengan memperhatikan kadar garam. Batas kadar garam sekitar 600 miligram per liter masih diperuntukkan bagi kebutuhan mencuci dan mandi, sedangkan untuk air minum batasnya sekitar 300 miligram per liter.

“Untuk mengimbangi supaya di Nipah Kuning tidak terlalu asin, dari Imam Bonjol disuplai untuk dicampur. Tetapi kondisi air saat ini masih payau,” ujarnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memperkirakan kondisi kemarau dapat berlangsung hingga pertengahan September. Periode tersebut dinilai cukup panjang sehingga diperlukan langkah antisipasi untuk menjaga ketersediaan dan kualitas air bersih.

“Kami meminta masyarakat menggunakan air bersih secara bijak dan memprioritaskan kebutuhan utama, terutama untuk konsumsi. Penghematan ini penting mengingat kondisi kemarau yang diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa waktu ke depan,” kata Edi.

Tak hanya itu, Pemkot Pontianak juga berharap pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dapat mempertimbangkan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca atau hujan buatan, sehingga membantu meningkatkan debit Sungai Kapuas dan mengurangi dampak intrusi air laut.

“Kita berharap pemerintah, dalam hal ini BNPB, dapat melakukan operasi modifikasi cuaca atau hujan buatan jika memungkinkan, sehingga hujan dapat turun di sekitar wilayah kota, terutama Kota Pontianak,” ujar Edi.(Ant)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *