SEMARANG, borneoreview.co – Aroma kelapa dan ketan menyeruak dari sebuah rumah produksi sederhana, di sebuah sudut di Kota Semarang.
Di tempat itu, Slamet dan istrinya, Novi, hampir setiap hari mengolah adonan wingko babat, jajanan tradisional berbahan kelapa muda parut, tepung ketan, dan gula.
Di balik tungku-tungku yang menyala, usaha kecil itu menyimpan cerita panjang tentang keberanian meninggalkan zona nyaman, bertahan di tengah tekanan harga bahan baku, hingga memanfaatkan pembiayaan untuk berkembang.
Slamet bukan pelaku usaha yang sejak awal bercita-cita menjadi pembuat wingko. Sebelumnya, ia bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan besar produsen mebel.
Rutinitas kerja yang berulang membuatnya jenuh. Dari titik itulah, ia mulai mencari jalan lain.
Sekitar 2010, Slamet mulai belajar membuat wingko babat dari pedagang asal Lamongan. Awalnya, aktivitas itu hanya dilakukan sebagai pekerjaan sambilan.
Pagi hari ia berjualan, siang harinya tetap masuk kerja sebagai karyawan.
Empat tahun berselang, ia memilih fokus pada usaha wingkonya.
Usaha Lewat Pinjaman
Slamet memulai dari skala kecil, dengan bahan baku yang dibeli berkisar dua hingga tiga kilogram.
Dari jumlah kecil itu, ia belajar membaca pasar, menjaga rasa, dan membangun pelanggan secara perlahan.
Seiring waktu, pesanan mulai bertambah. Produksi yang semula terbatas perlahan naik. Namun, untuk memperbesar kapasitas, Slamet membutuhkan modal.
Pada fase ini ia berkenalan dengan akses pembiayaan perbankan untuk usahanya.
Slamet memulai perjalanannya menjajal akses pembiayaan formal dengan mengambil pinjaman senilai Rp5 juta dari bank pelat merah.
Nilai itu mungkin tidak besar bagi usaha skala korporasi. Namun, bagi pelaku UMKM seperti dirinya, dana tersebut menjadi titik penting untuk memperbaiki proses produksi.
Salah satu perubahan besar yang ia rasakan adalah kemampuan memiliki alat produksi sendiri. Sebelumnya, Slamet membeli kelapa parut dari pasar.
Cara itu membuat biaya produksi lebih tinggi karena ia tidak mengolah kelapa utuh secara mandiri.
Dana dari perbankan pun ia gunakan untuk membeli mesin parut, yang membantu kapasitas dapurnya terus berkembang.
Jika sebelumnya, ia hanya menggunakan kompor biasa. Kini, rumah produksinya telah memiliki 12 tungku dari enam unit kompor untuk mengejar produksi harian.
“Dulu kompor itu hanya dua tungku. Sekarang ada enam kompor, jadi ada 12 tungku,” tutur Slamet, menceritakan perjalanan usaha wingkonya.

Cara pemasaran Slamet masih konvensional. Wingko buatannya dititipkan ke warung-warung kelontong. Meski sederhana, pola distribusi ini masih efektif.
Dari jalur itulah, produknya menjangkau pembeli harian dan menjadi bagian dari konsumsi masyarakat sekitar.
Dalam sehari, Slamet mampu memproduksi sekitar 15 sampai 20 loyang wingko. Setiap loyang dijual dengan harga Rp30.000 dan dapat dipotong menjadi 10 sampai 14 bagian, tergantung pesanan.
Menariknya, Slamet tidak memberi merek pada produknya. Ia lebih mengandalkan rasa, jaringan pelanggan, dan kepercayaan warung yang menjadi tempat titipan.
“Jualnya kami sudah punya langganan sendiri. Kami tidak ada mereknya, jadi bisa dipakai, ndak apa-apa, asal fair-fair saja,” katanya.
Kebutuhan Modal
Namun, perjalanan usaha kecil tidak selalu berjalan mulus. Setelah pandemi COVID-19, Slamet mengaku permintaan belum sepenuhnya kembali seperti sebelumnya.
Di sisi lain, harga bahan baku seperti kelapa super, tepung ketan, dan plastik turut menekan margin usaha.
Meski biaya produksi meningkat, Slamet belum berencana menaikkan harga jual kepada pelanggan. Keputusan itu diambil agar produknya tetap terjangkau.
Bagi pelaku usaha kecil, menjaga harga merupakan cara mempertahankan pelanggan lama.
Di tengah tekanan tersebut, Slamet mencari tambahan penghasilan dari usaha sampingan menjual kelapa parut. Bahan baku yang digunakan berasal dari kelapa tua atau kelapa yang tidak cocok untuk produksi wingko.
Usaha sampingan ini menjadi bantalan ketika pesanan wingko sedang sepi.
Dari usaha wingko saja, Slamet bisa mengantongi omzet harian sekitar Rp300.000 sampai Rp500.000.
Dalam waktu tertentu, omzet dari usaha kelapa parut bisa melampaui pendapatan dari wingko babat.
Produk Slamet juga tidak hanya berputar di pasar lokal. Wingko buatannya kerap dibawa sebagai buah tangan ke luar kota, luar Jawa, bahkan luar negeri.
Meski tanpa bahan pengawet dan hanya bertahan sekitar tiga sampai empat hari di suhu ruang, produknya tetap diminati.
Agar usahanya tetap bertahan di tengah lonjakan harga, Slamet kembali mencairkan pinjaman senilai Rp50 juta dengan tenor tiga tahun.
Ia mengaku lebih tenang karena mengetahui Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang diambil telah dijamin PT Asuransi Kredit Indonesia atau Askrindo.
“Bunganya terjangkau. Ini ambil (tenor) tiga tahun. Baru pencairan, sudah dapat setahun,” kata Slamet.
Branch Manager Askrindo Semarang Gami Aji L menuturkan, pihaknya berperan menjamin KUR yang diambil oleh Slamet.
Secara total, penjaminan KUR Askrindo di Kantor Cabang Semarang mencapai Rp1,3 triliun hingga April 2026. Jumlah debiturnya mencapai 24.000 orang.
Kebanyakan debitur berasal dari sektor perdagangan, dengan jumlah mencapai 10.571 debitur.
Bagi pelaku UMKM, akses pembiayaan menjadi salah satu kunci untuk menjaga keberlangsungan usaha. Namun, bagi lembaga keuangan, penyaluran kredit ke segmen kecil tetap memiliki risiko.
Di sinilah peran penjaminan atau pertanggungan kredit menjadi penting dalam menjaga ekosistem pembiayaan.
Peran itu pun diiyakan oleh Direktur Kepatuhan, SDM dan Manajemen Risiko Askrindo R Mahelan Prabantarikso.
Askrindo sejauh ini telah menanggung KUR dengan nilai akumulasi Rp810,3 triliun untuk periode 2007 hingga Maret 2026.
“Partisipasi aktif kami dalam program KUR merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan untuk mendukung inklusi keuangan dan penguatan sektor UMKM,” kata Mahelan.
Cerita Slamet menjadi contoh kecil dari bagaimana pembiayaan dapat membantu UMKM bertumbuh. Dari pinjaman Rp5 juta untuk membeli mesin parut, hingga pembiayaan yang lebih besar untuk memperkuat usaha.
Akses modal memberi ruang bagi pelaku kecil untuk bertahan dan berkembang.
Bagi Slamet, usaha wingko babat mungkin dimulai dari rasa bosan sebagai karyawan. Namun, perjalanan itu kini menunjukkan pelajaran.
UMKM dapat tumbuh ketika keberanian, ketekunan, akses pembiayaan, dan dukungan ekosistem berjalan beriringan.(Ant)
