16 Pejuang Lingkungan Dapat Kalpataru, Menteri LH: Pemerintah Sangat Berterima Kasih

kalpataru

JAKARTA, borneoreview.co – Kementerian Lingkungan Hidup memberikan penghargaan Kalpataru kepada 16 pejuang lingkungan atas dedikasi, komitmen, dan kontribusi nyata bagi kelestarian lingkungan hidup Indonesia.

“Kalpataru adalah penghargaan bagi orang-orang yang berjasa untuk lingkungan, perintis, perbaikan lingkungan, dan penyelamat lingkungan. Kita berutang semangat dari orang-orang itu,” kata Menteri Lingkungan Hidup, Moh Jumhur Hidayat, seperti disiarkan Antara, Kamis (11/6/2026).

“Pemerintah sangat berterima kasih kepada para penerima Kalpataru,” tambahnya dalam acara Indonesia International Environment Technology and Innovation Expo and Conference (Invirotech) 2026 di Jakarta.

Pihaknya berharap pemberian penghargaan Kalpataru ini dapat memantik semangat masyarakat Indonesia untuk bersama-sama melestarikan lingkungan.

“Minimal enggak usah sama dengan mereka, kalau 20 persen atau 30 persen semangat yang mereka berikan untuk lingkungan kita adopsi, Indonesia bisa hebat sekali,” kata Jumhur Hidayat.

Enam belas penerima Kalpataru terdiri
atas lima penerima Kalpataru Lestari, 10 penerima Kalpataru Adya, dan satu penerima Kalpataru Yuvan.

Salah satunya, Marsella Wahyu Muntia, meraih Kalpataru Yuvan, berkat kegigihannya merestorasi lahan kritis.

Di usia 18 tahun, Marsella Wahyu Muntia telah menjadi penggerak lingkungan di Sragen, Jawa Tengah, lewat Komunitas Warsa Kelana.

“Dimulai dari usia saya 15 tahun, saya punya gerakan namanya Warsa Kelana. Remaja-remaja di wilayah Sragen saya gerakkan untuk memiliki kesadaran tentang lingkungan,” kata Marsella.

Bersama puluhan relawan pelajar, ia memulihkan lahan kritis melalui penghijauan, mengembangkan pupuk organik dari limbah ternak, serta mengedukasi generasi muda tentang pelestarian lingkungan.

“Restorasinya di Desa Poleng, Kecamatan Gesi, Kabupaten Sragen, kurang lebih satu hektar tanahnya yang saya lakukan untuk restorasi lahan,” katanya.

Selain Marsella, penerima Kalpataru lainnya yang dinilai berhasil menghadirkan dampak nyata bagi lingkungan adalah Komang Astika dari Bali.

Komang Astika, peraih Kalpataru Adya kategori pembina lingkungan ini mendedikasikan hidupnya untuk memulihkan ekosistem laut sejak tahun 2000.

Ia menjadi pionir inovasi teknologi Biorock di Desa Pemuteran, Bali.

“Jadi kami sudah lakukan (inovasi Biorock) dari tahun 2000, sudah 26 tahun ya, terumbu karang yang kami bangun itu sudah berkembang sangat bagus dan ikan-ikan juga sudah berdatangan,” katanya.

“Sehingga dengan keindahan terumbu karang yang kami buat itu menjadi destinasi wisata untuk tamu-tamu wisatawan yang mau berlibur ke Bali. Nah, khususnya di Desa Pemuteran itu desa yang terpencil, yang dekat dengan Taman Nasional,” tambah Komang.

Dia berhasil merehabilitasi terumbu karang, mengembalikan kehidupan biota laut, dan melindungi pesisir dari abrasi.

Bahkan proyek yang dikembangkan Komang Astika diakui sebagai salah satu restorasi Biorock terbesar di dunia dan meraih penghargaan internasional dari UNDP pada tahun 2017.

Dari Papua Barat, penghargaan Kalpataru Lestari diberikan kepada John Wompere.

John menerima Kalpataru sebanyak dua kali pada 2014 dan 2026 berkat keuletannya bersama kelompok tani hutan dalam mengembangkan gaharu endemik Papua.

“Gaharu termasuk tanaman termahal, tetapi hari ini dia sudah mulai langka. Di Papua, banyak masyarakat yang berburu gaharu dan pohonnya sudah langka. Sehingga saya punya inisiatif untuk menanam gaharu mulai dari tahun 2003,” kata John.

Mereka tekun melaksanakan pembibitan, penanaman gaharu, termasuk pembibitan 6.000 bibit dan penanaman 2.000 bibit di Kampung Yawosi.

John juga memimpin penanaman gaharu seluas 5 hektar di Kampung Susweni dan Kampung Marur.

Menteri LH Jumhur Hidayat berharap aksi nyata dan semangat para peraih Kalpataru bisa menginspirasi masyarakat luas untuk bersama-sama melestarikan lingkungan.

“Penghargaan ini adalah pesan kepada bangsa bahwa kerja menjaga lingkungan harus terus dilanjutkan, diwariskan, dan diperkuat dari generasi ke generasi,” pungkas Jumhur.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *