JAKARTA, borneoreview.co – Debu-debu mineral beterbangan di atas meja rapat. Selly Adriatika menatap peta cadangan nikel yang membentang dari Sorowako sampai Halmahera.
Tangannya mengepal pelan. “Jangan sampai kekayaan ini lewat begitu saja,” ucapnya lirih ditulis pada Senin, 31 Agustus 2026.
Division Head of Institutional Relations MIND ID itu tahu persis, tanah air sedang berdiri di persimpangan.
Di satu sisi, cadangan nikel Indonesia menguasai 42 persen pasar dunia. Timah, bauksit, emas, tembaga, hingga batu bara pun melimpah. Namun di sisi lain, semua itu raib sebagai komoditas mentah.
Kedaulatan Mineral Tergerus
MIND ID menolak diam. Mereka mendorong arah baru industri tambang nasional. Bukan sekadar mengeruk lalu menjual.
Tapi mengolah di dalam negeri. Mencipta produk. Membangun ekosistem industri yang utuh dari hulu ke hilir.
“Kekayaan mineral harus jadi fondasi industrialisasi,” ucap Selly Adriatika menguraikan perkara pelik itu.
Langkah ini bukan isapan jempol. Pemerintah menugaskan MIND ID memastikan tak ada lagi mineral strategis yang keluar negeri tanpa nilai tambah.
Kemitraan dengan investor internasional pun digenjot demi penguasaan teknologi. Pasar global dibidik. Produk hilirisasi Indonesia harus berdiri sejajar.
Luka Lama Tambang Asing
Luka lama masih terasa. Sebagian cadangan strategis dikuasai asing. MIND ID mengklaim mandat untuk mengambil alih.
“Manfaatnya harus kembali ke kepentingan nasional,” kata Selly Adriatika. Kalimat itu terdengar seperti janji yang lahir dari kepedihan bertahun-tahun.
Data Badan Geologi menjadi saksi bisu. Cadangan mineral Indonesia luar biasa besar, tetapi terbatas. Tak akan bertambah. Sekali diangkut, habis.
Karena itu, setiap ton bijih yang keluar dari perut bumi harus meninggalkan jejak kemakmuran, bukan sekadar lubang menganga.
Namun, klaim itu menyimpan cemas. Transformasi tambang nasional tak semudah membalik telapak tangan.
Butuh nyali politik, konsistensi, dan kesabaran panjang. Selly menyebutnya perkara ruwet. Istilah itu jujur. Sebab hilirisasi bukan proyek satu periode kekuasaan.
MIND ID berupaya merangkai rantai nilai mineral strategis. Nikel, tembaga, bauksit, timah, hingga batu bara diintegrasikan.
Harapannya, tercipta motor pertumbuhan ekonomi baru. Indonesia tak lagi sekadar pengekspor bahan mentah. Tapi negara industri yang berdikari.
Di balik peta-peta cadangan, ada kenyataan getir. Industrialisasi mineral butuh listrik murah, infrastruktur pelabuhan, sumber daya manusia terlatih, dan ekosistem inovasi.
Tanpa itu, mimpi besar MIND ID bisa berhenti sebagai angan-angan dalam rapat ber-AC dingin.
Selly Adriatika menutup paparannya. Wajahnya tegang menahan beban. “Kita tidak punya pilihan lain,” katanya.
Kalimat itu bukan sekadar penutup presentasi. Melainkan alarm bagi negeri yang terlalu lama terlena menjual tanahnya sendiri.
MIND ID berdiri di garda depan. Namun perang melawan mentalitas komoditas tak bisa dimenangkan satu badan usaha. Butuh seluruh bangsa berhenti menggali lubang, lalu mulai membangun masa depan.***
