Hari Pertambangan dan Energi: Mengenang Jasa Arie Frederik Lasut

Arie Frederik Lasut dan bekas kantor Chisitsu Chosasho di Bandung.

JAKARTA, borneoreview.co – Aksi pendudukan kantor Chisitsu Chosasho (Jawatan Geologi) di Bandung, 28 September 1945 menjadi sejarah penetapan Hari Pertambangan dan Energi.

Beberapa nama seperti Raden Ali Tirtosoewirjo, Arie Frederik Lasut, R. Soenoe Soemosoesastro dan Sjamsoe M. Bahroem tercatat menjadi pelopor pendudukan kantor Chisitsu Chosasho (sekarang menjadi Museum Geologi Bandung).

Setelah mengambil alih Chisitsu Chosasho dari Jepang, nama kantor berubah menjadi Poesat Djawatan Tambang dan Geologi.

Aksi pendudukan kantor Chisitsu Chosasho diawali pengumuman dari Pemerintah Pusat pada 25 September 1945, yang menyatakan semua pegawai negeri adalah pegawai Republik Indonesia. Mereka wajib menjalankan perintah dari Pemerintah Republik Indonesia.

Pengumuman itu mendapat respon dari Komite Nasional Indonesia Kota Bandung. Tanggal 27 September 1945 malam, lewat siaran radio Komite mengumumkan pengabilalihan semua kantor dan perusahaan Jepang.

Pegawai pribumi di kantor Chisitsu Chosasho yang sebagian besar masih muda, menangkap berita itu dan mempersiapkan diri untuk mengambil alih kantor mereka.

Jumat, 28 September 1945, pukul 11.00, sekelompok pegawai muda di kantor Chisitsu Chosasho bertindak.

Di bawah komando Raden Ali Tirtosoewirjo, Arie Frederik Lasut, R. Soenoe Soemosoesastro, dan Sjamsoe M. Bahroem, pegawai menduduki kantor Chisitsu Chosasho.

Peristiwa ini mencatat nama Arie Frederik Lasut sebagai pemuda patriotik yang cerdas dan berani. Arie Frederik Lasut lahir di Kapataran, Minahasa, Sulawesi Utara, 6 Juli 1918. Putra tertua dari 8 bersaudara, anak pasangan Darius Lasut dan Ingkan Supit.

Lasut lulus dari Hollands Inlandsche School (HIS) di Tondano dan kemudian melanjutkan sekolah guru di Hollands Inlandsche Kweekschool (HIK), Ambon.

Setelah lulus tahun 1933, Lasut terpilih melanjutkan sekolah ke Hollands Inlandsche Kweekschool di Bandung.

Setahun sekolah di Bandung, Lasut memilih pindah ke Jakarta untuk mengikuti pendidikan Algemeene Middelbare School (AMS).

Tahun 1937 Lasut lulus dari AMS dan memulai sekolah kedokteran di Geneeskundige Hooge School -sekarang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Lasut terpaksa berhenti sekolah karena kesulitan keuangan dan memilih bekerja di Departement van Ekonomische Zaken (Departemen Urusan Ekonomi) tahun 1938.

Setahun kemudian AF Lasut masuk Techniche Hoogeschool te Bandung (sekarang Institut Teknologi Bandung). Tapi sekolahnya kembali mandek karena masalah dana.

Dia kemudian berhasil mendapat beasiswa dari Dienst van den Mijnbouw (Jawatan Pertambangan) untuk menjadi asisten geolog. Pada masa pendudukan Jepang, nama jawatan pertambangan itu berubah menjadi Chisitsu Chosasho.

Setelah Jepang kalah dan Belanda kembali menduduki Indonesia, Lasut menjadi incaran karena pengetahuannya soal pertambangan dan geologi. Namun AF Lasut bersikeras menolak bekerja sama dengan Belanda hingga akhir hayatnya.

Pada 7 Mei 1949, tentara Belanda menjemput paksa AF Lasut dari rumahnya di Pugeran. Menggunakan jip, pasukan Belanda (Tijger Brigade) membawa Lasut ke arah utara Yoyakarta dan mengeksekusinya di sekitar Pakem.

Usianya saat 30 tahun. Jenazah Lasut dimakamkan di Kintelan Yogyakarta, di sebelah kuburan isterinya, Nieke Maramis, yang meninggal lebih dulu pada Desember 1947.

Melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 012/TK/Tahun 1969 tanggal 20 Mei 1969, Arie Frederik Lasut mendapat gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Untuk mengenang jasa Arie Frederik Lasut menduduki kantor Chisitsu Chosasho di Bandung, melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2008, menetapkan tanggal 28 September menjadi Hari Pertambangan dan Energi.***

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *